SEJARAH KARUNIA

GPIB JEMAAT KARUNIA - Sabtu, 23 Okt 2021

BERAWAL DARI PERSEKUTUAN

Sebelum Tuhan Yesus terangkat ke sorga, Ia memerintahkan murid-murid-Nya agar tetap berkumpul di Yerusalem untuk menanti janji BapaNya (Kis. 1:4). Berawal dari perkumpulan di Yerusalem itulah firman Tuhan menyebar ke seluruh dunia, dengan kekuatan Roh Kudus. “Berkumpul” adalah kata kunci kehidupan orang Kristen, karena di mana ada dua atau tiga orang berkumpul, disitu Tuhan Yesus hadir (Matius 18:20).

Demikianlah yang terjadi dengan GPIB Jemaat "Karunia". Masa lalu GPIB Jemaat “Karunia” dapat ditelusuri ke belakang melalui tiga faktor, semangat untuk berkumpul, pelayanan gerejawi, dan tempat beribadah. Dengan kuasa Roh Kudus, faktor-faktor ini boleh diibaratkan tonggak-tonggak yang telah menopang kehidupan berjemaat sekelompok umat Tuhan di kawasan Ciputat dan sekitarnya di tahun 1950-an; serta kelompok persekutuan Sepolwan dan kelompok persekutuan Sandratex di kawasan Pasar Jumat pada tahun 1960-an.


JEMAAT MULA-MULA

Di tahun 1950-an usia Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) relatif masih muda, diperlukan peletakan dasar-dasar struktur kenegaraan dan pembangunan birokrasi pemerintahaan, baik di kalangan sipil maupun militer. Pada masa itu, berbagai komponen bangsa baik masyarakat, sipil maupun militer, dari berbagai latar belakang kesukuan, adat-istiadat, budaya, dan agama, berjuang bersama-sama, bahu-membahu membangun Indonesia dalam wadah Negara kesatuan yang berdasarkan keanekaragaman, Bhineka Tunggal Ika.

Perjuangan kemerdekaan dan pembangunan nasional bangsa ini ikut pula melibatkan anak-anak Tuhan (orang Kristen) dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk mereka yang berkarir di bidang kepolisian, khususnya satuan Mobil Brigade (Mobrig) yang sekarang dikenal dengan nama Brigade Mobil (Brimob). Salah satunya adalah Mobrig Kompi 5160 DKN – singkatan dari Djawatan Kepolisian Negara – yang menempati Asrama Mobrig di Ciputat, yang kini bernama lengkap Asrama Polisi Satbrimob, Detasemen C – Pelopor, Polda Metro Jaya. Pada tahun 1954 terdapat sejumlah anggota Mobrig yang beragama Kristen di asrama itu, baik yang sudah berkeluarga maupun yang belum. Mereka berasal dari berbagai suku dan denominasi gereja.

Berkumpulnya anak-anak Tuhan di Asrama Mobrig bukanlah suatu kebetulan, melainkan pekerjaan Tuhan sendiri. Tuhanlah yang telah menyatukan anggota-anggota brimob muda dan keluarganya itu dalam satu kompi kepolisian, dan menempatkan pada lingkungan perumahan yang sama, Asrama Mobrig Ciputat, kemudian Tuhan pulalah yang membangkitkan kerinduan dalam jiwa mereka untuk membangun persekutuan imani yang tidak mereka pikirkan, akan menjadi salah satu obor Tuhan di wilayah Ciputat dan sekitarnya. Benarlah kata Rasul Paulus, "……sungguh tak terselami jalan-jalanNya!" - Roma 11:33. Sungguh luar biasa rencana Tuhan, tidak terjangkau akal pikiran manusia. Betapa tidak. Tuhan telah bekerja di balik kebijakan pemerintah.

Di bawah koordinasi bapak M. Kolyaan, selaku Pusat Kerohanian (Pusroh) Protestan untuk Kompi 5160 Mobrig – DKN pada waktu itu, kerinduan bersekutu umat Kristen April 1954 dalam bentuk Ibadah Minggu di rumah keluarga bapak M. Kolyaan. (sekarang Pool PPD – Ciputat). Ketika itu berkumpul sekitar 30-an kepala keluarga (KK), baik yang berdomisili di Asrama Mobrig maupun di sekitar kompleks asrama. Kepala Keluarga yang dimaksud antara lain :

1.LAISINA 2.JAMLAAY 3.M. KOLYAAN 4.LEIHITU 5.RIHI
6.LABETUBUN 7.MARLISA 8.NALE 9.S.P. ONDAUW 10.SUBLELI
11.PHILIP BAGI 12.DIMU 13.J. PAU ADU 14.BILUNG 15.A. NGAU
16.SITORUS 17.NASUTION 18.HUTASOIT 19.PIET TAITAHU 20.PIET BULAN
21.M. SIMANJUNTAK 22.MARUDIN S. 23.K. SIHOMBING 24.FRANS MAWI 25.DOMPRIT
26.RIRIHENA 27.P.H.L. GAOL 28.RENWAREN 29.K. SULASMO 30.J. RAHAKRATAT

Mereka bagaikan benih yang ditabur Sang Terang Dunia di tanah Ciputat, terus bertunas sejak terbentuk dan dimulainya persekutuan Kristen di rumah keluarga M. Kolyaan. Tanggal 5 April 1954 menjadi titik awal perjalanan sejarah GPIB Jemaat "Karunia". Semenjak itu, ibadah persekutuan terus bergulir dari rumah ke rumah secara bergantian.


MENDAPAT PELAYANAN GEREJAWI

Lokasi Asrama Mobrig waktu itu seakan-akan terisolir dari dunia luar, karena masih dikelilingi kebun karet, tidak ada penerangan jalan, dan jalan penghubung masih dalam kondisi rusak berat. Puji Tuhan, walaupun dalam kondisi yang terisolir, masih ada pendeta yang bersedia dan "merasa terpanggil" untuk datang melayani, yaitu Pdt. Gabriel (senior) dari Gereja Zending Sampur Tanjung Priok. Sungguh mengherankan, bagaimana Tuhan mengutus seorang hambaNya dari gereja zending yang berada di ujung utara Kota Jakarta, untuk melayani "segelintir" orang Kristen yang jauh berada di ujung selatan Kota Jakarta.

Dari Mei samapi Oktober 1954, Pdt. Gabriel menempuh perjalanan lebih dari 65 km, atau total 130 km pergi – pulang setiap kali melayani kelompok kecil persekutuan di Ciputat. Walaupun tidak setiap hari Minggu, namun perlu diingat, kejadian 56 tahun yang lalu, bagaimana suasana transportasinya, di mana peristiwa itu terjadi pada "jaman delman". Hambatan jarak tentu saja berpengaruh pada kelancaran pelayanan Pdt. Gabriel, sehingga tidak berjalan mulus.

Pada bulan November 1954, Pdt. Gabriel tidak lagi melayani di Asrama Mobrig. Sebelum mengakhiri masa pelayanannya di Asrama Mobrig, Pdt. Gabriel menyarankan agar kelompok persekutuan di Asrama Mobrig menghubungi gereja terdekat untuk melanjutkan pelayanan beliau. Demi mengatasi masalah pelayanan dan juga memberi status pada kelompok persekutuan Asrama Mobrig, kelompok tersebut kemudian melakukan pendekatan kepada Majelis Jemaat GPIB Jemaat "Effatha" – yang berlokasi di Blok M Jakarta – agar dapat melayani persekutuan mereka, karena gereja itulah yang terdekat dari kawasan Ciputat pada waktu itu.

Puji Syukur kepada Tuhan, Majelis Jemaat GPIB "Effatha" menyambut dengan tangan terbuka, dan mengabulkan permintaan kelompok persekutuan di Asrama Mobrig Ciputat. Langkah pertama yang dilakukan GPIB Jemaat "Effatha" adalah mengirim Pnt. S. A. Polii untuk melayani persekutuan di Asrama Mobrig Ciputat. Oleh karena itu pada bulan November 1954, persekutuan keluarga Kristen Protestan di Asrama Mobrig Ciputat dan sekitarnya menjadi bagian wilayah pelayanan GPIB Jemaat "Effatha".

Setelah masa pelayanan Pnt. S. A. Polii selesai, pelayanan selanjutnya diserahkan kepada Pnt. Sihasale. Kedua penatua inilah yang memelihara dan merawat embrio GPIB Jemaat Karunia. Inilah peristiwa yang mengawali hubungan kerohanian, organisasional dan emosional antara Asrama Mobrig dan GPIB Jemaat "Effatha".

Semenjak kehadiran Pnt. S. A. Polii dan Pnt. Sihasale, Ibadah Hari Minggu dan Ibadah Keluarga berlangsung secara rutin dan mendapat dukungan penuh GPIB Jemaat "Effatha" DKI Jakarta Selatan. Untuk memperkuat persekutuan ini, Tuhan mengutus beberapa perwira rohani dan instansi Bina Rohani dan Mental (Binrohtal) Komdak VII Jaya, Kepolisian Republik Indonesia (Polri) agar ikut membantu kelangsungan persekutuan di Asrama Mobrig. Tercatat nama-nama pelayan firman dari Polri (1962-1972) : Bapak Kamagi, Bapak Ngadang, Bapak Oroh, Pdt. M. C. Nubi, Pdt. S. P. G. Munthe, dan Pdt. Ester. Perwira-perwira rohani ini bisa berkumpul di asrama tersebut, karena pada tahun 1960 asrama itu dijadikan Markas Batalion 131 Mobrig Polri dan juga basis Kompi A battalion tersebut. Momentum berkumpulnya keenam rohaniawan Kristen Polri ini tentu karena pekerjaan Tuhan, yang menugaskan mereka bersama-sama dengan Majelis Jemaat GPIB Effatha, selama sepuluh tahun, untuk meletakkan fondasi keimanan bagi pertumbuhan warga Jemaat di Ciputat.

Melihat perkembangan yang ada saat itu, untuk pertama kalinya GPIB Jemaat "Effatha" meneguhkan dan menetapkan Dkn. S. P. Ondauw dan Dkn. M. Haro, yang juga berasal dari persekutuan itu sendiri, untuk melayani anggota jemaat Ciputat dan sekitarnya.


TEMPAT IBADAH BERPINDAH-PINDAH

Oleh karena belum memiki tempat peribadahan yang tetap, sehingga peribadahan pun dilaksanakan berpindah-pindah. Tuhan lalu menggerakkan hati Kepala Asrama Kompi 5160 Mobrig – DKN untuk mengizinkan kegiatan Ibadah Hari Minggu berlangsung di ruang kantin dan sempat dipindahkan ke ruangan kantor Kompi 5160 Mobrig – DKN. Kemudian kegiatan peribadahan dipindahkan lagi ke garasi (sekarang barak yang menghadap ke lapangan utara sepakbola), lalu Taman Kanak-Kanan (sekarang Masjid), dan akhirnya ke sebuah ruangan bekas gudang beras (sekarang lapangan futsal Asrama Satbrimob Ciputat). Namun, suatu ketika gudang beras tempat ibadah itu roboh diterpa angina kencang. Peristiwa ini tidak menyurutkan semangat anggota jemaat untuk beribadah, walaupun saat itu (periode tahun 1968-1970) jumlah mereka tinggal 9 KK, yaitu keluarga M. Kolyaan, Philip Bagi, J. Pau Adu, K. Sulasmo, J. Rahakratat, M. Simanjuntak, A. Sinaga, M. Haro, dan P. H. L. Gaol. Kelompok yang jumlahnya berkurang itu bahkan lebih bersemangat, untuk memperoleh tempat ibadah yang tetap. Syukur kepada Tuhan, Bapak M. Kolyaan dan keluarga merelakan rumahnya yang terletak di Kampung Duren (kini pool PPD di Jalan R.E. Martadinata) untuk tempat sementara ibadah persekutuan, kemudian berpindah lagi ke rumah beliau yang lain, yang sekarang menjadi gedung gereja GPIB Jemaat "Karunia".

 
Dikutip dari Buku Kisah Perjalanan GPIB Jemaat "Karunia" 2011.
Menguatkan Tatanan Bergereja agar Mendatangkan Berkat, Bagi Masa Depan Umat dan Masyarakat. (Ibrani 11:8-10)
 
PENDETA ORGANIK
PELAKSANA HARIAN MAJELIS JEMAAT 2020-2022
KISAH PERJALANAN GPIB JEMAAT "KARUNIA"

KMJ PERIODE 1984-1990

KMJ PERIODE 1990-1994

KMJ PERIODE 1994-1998

KMJ PERIODE 1998-2002

KMJ PERIODE 2002-2007

KMJ PERIODE 2007-2012

KMJ PERIODE 2012-2017

KMJ PERIODE 2017-2019