OT Vozzmag - шаблон joomla Окна
  • Slide1

GPIB Admin

August 18 2018

SBU Senin, 20 Agustus 2018 - Renungan Pagi

MINGGU XIII SESUDAH PENTAKOSTA

SENIN,  20 AGUSTUS 2018

  

RENUNGAN PAGI

KJ.415: 1 "Gembala Baik Bersuling Nan Merdu" – Berdoa

 

BAGAI KUDA TERLEPAS DARI KANDANG

Keluaran 32 : 25-29

"Ketika Musa melihat, bahwa bangsa itu seperti kuda terlepas dari kandang - sebab Harun telah melepaskannya, sampai menjadi buah cemooh bagi lawan mereka (ay.25)

 

"Bagai kuda terlepas dari kandang." Itulah kesan Musa terhadap Israel. Ia melihat Israel dengan sengaja melepaskan diri dari kendali Allah. Mereka tidak mau berpegang pada perintah dan ketetapan-Nya, sehingga lebih memilih taat pada keinginan hati untuk membentuk patung anak lembu emas. Menyadari hal itu Musa memberikan perintah kepada umat; apakah berpihak kepada Tuhan ataukah sebaliknya, berpaling dari-Nya. Katanya; "Siapa yang memihak kepada TUHAN, datanglah kepadaku!"

Di antara umat Israel, bani Lewilah yang memilih berpihak kepada Tuhan. Mereka datang kepada Musa, siap bayar harga atas pilihan mereka. Setelah mendengar jawaban bani Lewi untuk memihak kepada Tuhan, Musa meminta mereka melakukan "pembersihan" untuk memisahkan orang yang tidak mau datang dan yang mau datang kepada Tuhan. Dan mereka pun melaksanakan apa yang ditugaskan Musa itu.

Kepada mereka yang berpihak kepada Tuhan, Musa menegaskan supaya berbakti kepada Tuhan mulai hari ini. Artinya, pertobatan tak bisa ditunda-tunda lagi. Harus dilakukan sekarang juga. Jika tidak, maka umat bisa kembali menjadi kuda yang terlepas dari kandangnya. Lewat panggilan pertobatan ini, Musa menegaskan prinsip hidup beriman bahwa ditengah-tengah pemberontakkan dan kemunduran rohani, satu-satunya jalan bagi orang percaya ialah kembali ke jalan Allah pada saat itu juga. Jika tidak, maka umat bisa tergiur dengan kesenangan hidup di luar kendali-Nya.

Dalam menjalani tanggung jawab hari ini, jangan biarkan kita bersikap bagai kuda terlepas dari kandang. Oleh karena segala sesuatu ada dalam kontrol Tuhan, maka hanya Dia jugalah yang tahu apa yang terbaik bagi kita. Hanya Dia yang sanggup mengendalikan hidup kita agar tetap berada di jalan keselamatan. Selamat beraktivitas, serahkan hidup kita untuk dikendalikan oleh Allah sebagai Gembala yang baik. Jika Allah yang mengendalikan kita, maka hanya Dialah juga yang dapat menjaga kita dari segala marabahaya.

 

KJ.415 : 2 "Gembala Baik Bersuling Nan Merdu"- Berdoa

Doa : (Ya Kristus, terima kasih untuk hari baru pemberian-Mu. Dalam segala aktivitas hari ini, biarlah kami selalu mengandalkan-Mu. Apa pun yang akan terjadi hari ini, biarlah kekuatan-Mu membuat kami sanggup berjalan di jalan kebenaran-Mu)

 

P.K.R/Iph


August 18 2018

SBU Minggu, 19 Agustus 2018 - Renungan Malam

MINGGU XIII SESUDAH PENTAKOSTA

MINGGU,  19 AGUSTUS 2018

  

RENUNGAN MALAM

KJ.436: 1 "Lawanlah Godaan" – Berdoa

 

KETEGASAN SEBAGAI BAGIAN DARI IMAN

Keluaran 32 : 15-24

"Dan ketika ia dekat ke perkemahan itu dan melihat anak lembu dan melihat orang menari-nari, maka bangkitlah amarah Musa; dilemparkannya kedua loh itu dari tangannya dan dipecahkannya pada kaki gunung itu (ay.19)

 

Setelah permohonannya kepada Tuhan dikabulkan, Musa pun turun dari Sinai menuju perkemahan umat. Ia turun dengan membawa dua loh batu yang harus disampaikan kepada orang Israel. Tiba di perkemahan ia menyaksikan umat Israel sedang menyembah anak lembu emas. Oleh karena itu, amarah Musa bangkit.

Ketika amarahnya memuncak, dua loh batu itu dilempar dan dihancurkan oleh Musa. Tindakan ini merupakan lambang kemarahan Allah karena Israel telah melanggar hukum-Nya yang tertulis di dua loh batu itu. Penghancuran dua loh batu itu diikuti oleh penghancuran anak lembu emas. Musa membakar dan menggilingnya serta menyuruh umat untuk meminumnya sebagai lambang bahwa mereka harus menanggung perbuatan dosa mereka. Anak lembu emas itu dihancurkan Musa dengan tak berbekas.

Bukan itu saja, Musa juga menegur Harun yang mau kompromo dengan umat. Harun justru menyalahkan Israel, seolah-olah dia tidak berperan besar dalam pembuatan anak lembu emas itu. Ia berkata bahwa ia hanya mengumpulkan emas lalu membuangnya ke dalam api, lalu terbentuklah anak lembu emas itu. Harun cuci tangan dengan melemparkan kesalahan kepada Israel, padahal jelas ia juga turut andil dalam dosa umat.

Kemarahan Musa kepada Israel dan Harun merupakan bagian dari ketegasan Musa untuk memelihara perjanjian keselamatan Allah. Musa tidak ingin Allah memusnahkan Israel, karena itu ia keras menegur sikap Israel yang tidak taat. Itulah kebesaran jiwa Musa sebagai pemimpin yang mengutamakan keselamatan umat. Apa yang diperjuangkan Musa, merupakan teladan bagi kita. Dimanapun Tuhan mempercayakan kita menjadi seorang pemimpin, baik di tengah keluarga, di kantor, di gereja, mari berjuang menjadi pemimpin yang tegas. Tegas menegur yang salah, karena kita menginginkan keselamatan, bukan kebinasaan.

 

KJ.436 : 2 "Lawanlah Godaan"- Berdoa

Doa : (Oh Tuhan, terima kasih untuk segala perkara dan untuk semua orang yang demikian berarti dalam hidupku. Malam ini ketika beristirahat, biarlah sabda-Mu tetap kurenungkan agar aku bisa menjaga kesucian hidupku)

 

P.K.R/Iph


August 18 2018

SBU Minggu, 19 Agustus 2018 - Renungan Pagi

MINGGU XIII SESUDAH PENTAKOSTA

MINGGU,  19 AGUSTUS 2018

  

RENUNGAN PAGI

KJ.467: 1,2 "Tuhanku Bila Hati Kawanku" – Berdoa

 

ALLAH YANG MENDUKUNG UMAT-NYA

Keluaran 32 : 1-14

"Dan menyesallah TUHAN karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya" (ay.14)

 

Sungguh wajar jika Tuhan begitu murka kepada bangsa Israel. Hanya karena ketidaksabaran umat menunggu Musa turun dari gunung Sinai untuk melanjutkan perjalanan mereka, mereka meminta Harun untuk membuat sesuatu yang dapat menjadi simbol kehadiran Allah di tengah mereka. Harun pun membuat patung anak lembu emas dari berbagai perhiasan yang dikumpulkan dari antara bangsa Israel. Patung itu mereka sembah sebagai ganti Tuhan Allah. Sangat menyedihkan!

Beruntunglah, sebagai pemimpin yang dipilih oleh Tuhan Musa dapat melunakkan hati Tuhan. Ia "mengingatkan" Allah akan penyelamatan yang dilakukan-Nya atas Israel dan penyataan janji-Nya pada nenek moyang mereka untuk membuat Israel dan penyataan janji-Nya pada nenek moyang mereka untuk membuat Israel menjadi bangsa yang besar dan memberi mereka suatu negeri yang makmur. Jika saja Allah membinasakan bangsa itu karena kesalahan mereka tentulah akan menjadi cemoohan bagi bangsa Mesir. Dari pembacaan ini, ada beberapa hal yang dapat menjadi perenungan kita, yaitu :

1. Allah adalah Allah yang penuh kasih, sehingga kendatipun IA murka karena kejahatan kita, namun belas kasih-Nya tetap diberikan bagi kita.

2. Jika Tuhan Allah tetap menunjukkan kasih kendati "dikhianati" oleh umat-Nya, maka kita sebagai umat yang telah menerima pengampunan-Nya, kita harus berusaha untuk mengampuni mereka yang telah menyakiti hati kita.

3. Mintalah tuntunan Roh Kudus agar setiap langkah yang kita ambil tepat dan sesuai kehendak Tuhan.

 

KJ.467 : 3 "Tuhanku Bila Hati Kawanku"- Berdoa

Doa : (Tuhan Allah yang Maha Pengampun, mampukan kami untuk dapat mengendalikan diri dan tidak melampiaskan kemarahan kami kepada mereka yang menyakiti hati kami. Bukan karena kami baik namun semata karena kami telah menerima anugerah pengampunan-Mu dalam hidup kami)

 

M.H


August 16 2018

SBU Sabtu, 18 Agustus 2018 - Renungan Malam

MINGGU XII SESUDAH PENTAKOSTA

SABTU,  18 AGUSTUS 2018

  

RENUNGAN MALAM

KJ.402 : 1,2 "Kuperlukan Jurus'lamat"– Berdoa

JANGAN EGOIS

Markus 10 : 35-45

"Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar diantara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. (ay.43)

 

Tidak ada seorangpun yang bersedia ada di posisi terendah. Bagaimanapun semua ingin dihormati dan dipuja orang. Menjadi rendah berarti tidak diperhitungkan, tidak dihargai. Apaun akan diupaya setiap orang untuk menonjolkan diri, menjadikan diri sebagai pusat (egosentris). Tidak heran, jika karena itu banyak yang menjadi korban dan dikorbankan, termasuk relasi atau hubungan dengan sesama.

Mari bayangkan apa yang ada dibenak Yakobus dan Yohanes ketika mereka meminta posisi strategis untuk kelak dapat memerintah bersama Yesus (ay.35,37). Lalu kemudian mari bayangkan reaksi para murid yang lain ketika mendengar permintaan itu (ay.41). Ego keduanya begitu tinggi, tidak memikirkan yang lain, mungkin juga merasa unggul dari yang lain dan atau barangkali mereka berpikir bahwa mereka lebih layak dari yang lain. Pusat permintaan mereka adalah untuk diri sendiri, demi kepentingan diri sendiri. Tentunya hal ini ditentang oleh kesepuluh yang lain. Seakan mereka komplain "jangan egois, dong..!!".

Apakah reaksi Yesus. Pada ayat 43-45 menjadi jelas. Berhentilah memikirkan diri sendiri. Sebaliknya, merendahlah untuk menjangkau orang lain. Jika ingin terkemuka, hendaklah menjadi hamba bagi yang lain. Rubahlah orientasi hidup hanya untuk diri sendiri (egois), tapu mulailah berpikir untuk orang lain. Sebab kata Yesus: "Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (ay.45)

Yesus datang bukan memikirkan apa yang akan Ia terima, tetapi apa yang akan ia berikan (korbankan nyawa); Ia pun tidak memikirkan tentang apa yang akan mereka lakukan untuk-Nya, tapi apa yang akan dilakukan untuk mereka (melayani). Karena itu, marilah tampil beda, jangan turuti model dunia (ay.42,43). Saatnya kita berhenti berpikir hanya untuk kepuasan diri, kesenangan pribadi. Senangkanlah Tuhan melalui menyenangkan orang lain.

KJ.402 : 2 "Kuperlukan Jurus'lamat"- Berdoa

Doa : (Tuhan, berilah kami hikmat untuk mengenal kebenaran-Mu)

 

IND/Iph


August 16 2018

SBU Sabtu, 18 Agustus 2018 - Renungan Pagi

MINGGU XII SESUDAH PENTAKOSTA

SABTU,  18 AGUSTUS 2018

  

RENUNGAN PAGI

KJ.425 : 1,2 "Berkumandang Suara Dari Seberang"– Berdoa

 

NATO = NO ACTION TALK ONLY

Matius 25 : 31-46

"Sebab... kami memberi Aku makan; ... kamu memberi Aku minum; ... kamu memberi Aku pakaian; ... kamu melawat Aku; ... kamu mengunjungi Aku. (ay.35-36)

 

Seorang gadis remaja terinspirasi menjadi seorang biarawati dan melakukan pelayanan paling luar biasa dengan menyentuh mereka yang tidak tersentuh dari orang-orang yang paling terhina diantara yang hina. Gadis itu bernama Agnes Gonxha Bojaxhiu. Ia adalah keturunan Albania yang lahir di Yugoslavia, pada tanggal 26 Agustus 1910, menjadi seorang Biarawati pada usia 17 tahun dan bergabung dengan Biara Loreto di Irlandia. Fokus pelayanan biara Loreto ini salah satunya di India. Demikianlah Agnes Gonxha Bojaxhiu melayani Tuhan di sana. Suatu ketika bunyi ayat 35-36, 40 di Matius 25 ini begitu menyentuh hatinya sehingga dikemudian hari ia menemukan tempat yang tepat untuk melayani Tuhan. Ia menjangkau Tuhan melalui orang yang menderita di India, tepatnya di Kalkuta. Ordo Cinta Kasih yang didirikannya menjadikan orang-orang hina diantara yang paling hina sebagai tujuan pelayanan bagi Tuhan. Agnes Gonxha Bojaxhiu yang dikemudian hari dikenal dengan panggilan nama Bunda Teresa ini telah menyentuh Tuhan melalui sesama.

Ternyata Tuhan mengidentifikasikan dirinya dengan kaum yang papa, mereka yang terpinggirkan, mereka yang sakit, dalam penjara, tanpa makan dan pakaian (ay.35-36). Ya, mereka yang terlupakan oleh banyak orang, kepada mereka itulah Tuhan berpihak. Kalimat "...sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku" adalah bukti kuat bahwa pribadi yang mengasihi Tuhan adalah pribadi yang mengasihi sesama. Sebab "barang siapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya" (1 Yoh.4:20).

Kasih tidak dapat dilihat dengan perkataan. Kekuatan terbesar dari kasih adalah perbuatan nyata. Maka saatnya bagi kita untuk tidak hanya berbicara tentang kasih, tetapi juga bersegera untuk melakukan tindakan kasih. Kasih tanpa perbuatan nyata adalah kasih tanpa kuasa, hampa dan tak berarti apa-apa.

 

KJ.425 : 3 "Berkumandang Suara Dari Seberang"- Berdoa

Doa : (Tuhan, mampukan kami mengerjakan Kasih itu dalam hidup ini)

 

IND/Iph


August 16 2018

SBU Jumat, 17 Agustus 2018 - Renungan Malam

MINGGU XII SESUDAH PENTAKOSTA

JUMAT,  17 AGUSTUS 2018

  

RENUNGAN MALAM

KJ.370 : 1,2 "Ku Mau Berjalan Dengan Jurus'lamatku"– Berdoa

 

TERUSLAH MERDEKA

Kolose 3 : 5-11

dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui...  (ay.10)

 

TIDAK ada seorangpun yang mau dijajah kembali setelah mengalami kemerdekaan. Siapapun dia, tidak ada yang bersedia mengulangi kepahitan yang sama seperti sebelum merdeka. Hal inilah yang diharapkan Paulus kepada jemaat di Kolose.

Mereka telah mengalami kehidupan baru yang telah dianugerahi Allah melalui kuasa Yesus Kristus yang menebus dan membebaskan mereka dari belenggu dosa. Tidak heran jika dengan tegas Paulus mengajak mereka untuk tetap hidup dalam kondisi merdeka tersebut dengan cara mempertahankan kehidupan iman mereka tetap merdeka. Cara tetap berada dalam status orang yang merdeka itu adalah  dengan tidak melakukan berbagai bentuk kenajisan hidup atau berbagai perbuatan dosa yang melawan kehendak-Nya (ay.5-9).

Selanjutnya, hidup yang merdeka dari dosa harus terlihat nyata. Paulus menyatakan dengan bahasa kiasan "kenakanlah manusia baru" (ay.10a). Itulah uniform dari mereka yang telah dimerdekakan oleh Kristus. Godaan pastilah ada. Berbagai upaya si penjajah dilakukan untuk dapat menguasai pribadi yang telah dimerdekakan itu. Bagaimana menghadapinya? Paulus melanjutkannya dengan berkata bahwa "manusia baru yang ingin tetap berada dalam kemerdekaan itu wajib bersedia diperbaharui terus-menerus" Dengan kata lain, akan ada banyak strategi musuh untuk menjatuhkan kembali manusia dalam keinginan dunia. Maka orang percaya harus bersedia diperbaharui melalui kehendak-Nya yang kita temukan dalam Firman-Nya.

Bagaimana dengan kita? Kemerdekaan dari dosa telah dianugerahi Tuhan Yesus secara cuma-cuma, dan dengannya kita tidak lagi diperhamba oleh dosa. Karena itu, tetaplah menjaga kehidupan kita agar jangan mau diperhamba lagi oleh dosa. Nyatakanlah dengan sikap dan cara hidup selayaknya orang yang telah merdeka dari dosa. Tutur kata, prilaku hidup dan bahkan pola pikir kita kiranya mencerminkan hidup yang telah merdeka itu. Sehingga model hidup yang lama tak lagi menjadi bagian hidup kita.

 

KJ.370 : 3 "Ku Mau Berjalan Dengan Jurus'lamatku"- Berdoa

Doa : (Tuhan, mampukan kami mengerjakan iman percaya kami)

 

IND/Iph


August 16 2018

SBU Jumat, 17 Agustus 2018 - Renungan Pagi

MINGGU XII SESUDAH PENTAKOSTA

JUMAT,  17 AGUSTUS 2018

  

RENUNGAN PAGI

KJ.336 : 1,2 "Indonesia Negaraku"– Berdoa

MERDEKA DARI MAMON

Ibrani 13 : 5-8

"Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu (ay.5)

 

MERDEKA...!!! Hari ini kita memperingati 73 tahun anugerah kemerdekaan dari Tuhan bagi NKRI. Merdeka berarti "bebas" (dari perhambaan, penjajahan dan sebagainya). Merdeka juga bermakna "berdiri sendiri" sebagaimana Indonesia berdiri sendiri dan tidak lagi dipengaruhi atau berada pada kuasa negara lain.

Demikian juga dengan orang percaya. Bahwa Kristus Yesus datang untuk membuat kita merdeka (Yoh.8:36) dari segala bentuk kuk perhambaan (gal.5:1). Tidak ada lagi seharusnya yang menjajah kita dan ataupun menghambakan kita. Sebab kita telah betul-betul merdeka. Tetapi kenyataannya, masih banyak juga yang berada dalam penghambaan walaupun sudah dimerdekakan. Salah satu bentuk penghambaan yang muncul beberapa kali dalam SBU pekan ini, termasuk di hari ini adalah penghambaan oleh uang, atau menjadi hamba uang (ay.5)

Rupanya penerima surat Ibrani ini, masih berada dalam berbagai macam kuk perhambaan. Dihamba oleh kepentingan diri sendiri (ay.1-3), dihamba oleh nafsu kenajisan dan berzinahan (ay.4), dihamba oleh uang (ay.5), dihamba oleh berbagai ajaran sesat (ay.9), dll. Uang telah menjadi begitu penting, tapi juga menjadi "kuasa" yang mengalihkan iman dan percaya kepada Allah sumber segala kehidupan. Kekuatiran akan kebutuhan, sulitnya kehidupan ekonomi, dan berbagai tuntutan urgent yang harus dipenuhi, membuat fokus hidup mereka hanya kepada uang. Mereka diperhamba oleh uang. Mereka lupa bahwa sumber dari segala jawaban atas kebutuhan di dunia ini datangnya dari Allah dan bukan dari uang. Ketergantungan terhadap uang membuat mereka lupa pada janji Tuhan bagi umatNya : "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." (ay.5). Pernyataan ini adalah petikan janji kepada umat Israel yang akan menerima janji tanah Kanaan (Ul.31:6).

Jika Tuhan telah memerdekakan kita dari segala bentuk kekuatiran tentang masa depan dengan janji penyertaan, mengapa kita ragu menghamba pada-Nya? Menghambalah kepada Allah dan bukan mammon.

 

KJ.336 : 3 "Indonesia Negaraku"- Berdoa

Doa : (Tuhan, kami bersyukur untuk kemerdekaan yang Tuhan beri)

 

IND/Iph


August 15 2018

SBU Kamis, 16 Agustus 2018 - Renungan Malam

MINGGU XII SESUDAH PENTAKOSTA

KAMIS,  16 AGUSTUS 2018

  

RENUNGAN MALAM

KJ.402 : 1 "Kuperlukan Jurus'lamat"– Berdoa

 

DAMPAK MENJADI HAMBA UANG

2 Timotius 3 : 1-9

"Manusia akan... menjadi hamba uang, akan... menyombongkan diri, ... pemfitnah, ... berontak terhadap orangtua..., tidak tahu mengasihi, ... lebih menuruti hawa nafsu daripada ... Allah" (ay.2-5)

 

Perhatikanlah apa yang terjadi saat ini! Apa yang disampaikan oleh Paulus kepada Timotius sepertinya sedang berlangsung. Banyak orang mulai berpikir tentang diri sendiri, mengejar popularitas pribadi, mencari kepuasan dan kesenangan hawa nafsu, serta uang dapat membeli segala sesuatu termasuk keadilan. Apa sebenarnya yang terjadi?

Paulus menyebut dua hal penting, yakni "manusia mencintai dirinya sendiri" (egois) dan "menjadi hamba uang" (cinta uang). Kedua hal ini kemudian membawa tiap orang membual dan menyombongkan diri, pemfitnah, pemberontak pada orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama (tidak suci=jahat), tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak tahu mengekang diri, dll (ay.3-4). Paling tidak, Paulus mendaftarkan 16 tutunan sikap yang terjadi akibat cinta diri dan cinta uang. Bahkan menariknya, kondisi ini tidak hanya terjadi di luar persekutuan. Mereka yang terlihat rohani dan rajin beribadah sekalipun, terlihat taat namun sesungguhnya munafik dan mengenakan topeng (ay.5). Bagi Paulus, orang-orang ini dianggap tahu kebenaran, namun mengabaikannya demi kepentingan diri sendiri dan kekayaan, persis sama dengan Yanes dan Yambres (ay.8) bersama para ahli yang berilmu di Mesir yang menentang Musa (Kel.7:11). Pada akhirnya mereka sendiri yang dipermalukan.

Begitu besarnya dampak dari mencintai uang dan diri sendiri. Kepuasan diri dan kepuasan memperoleh kekayaan membawa kejatuhan yang amat dalam. Dekadensi moral pun terjadi. Tidak ada lagi interaksi sosial yang sehat, budaya malu terhadap kesalahan dan budaya santun kepada orang lain, seakan sirna dan menjadi barang langka. Pembacaan hari ini menegur setiap kita. Apakah sesungguhnya yang ada dalam hati kita? Apakah yang kita cintai? Diri sendiri? Uang? atau mengasihi dan mencintai Allah. Dua hal yang pertama tadi memberi dampak buruk, yang kedepan ada dipetik dalam kehancuran. Cintai Tuhan, jangan cintai diri sendiri dan kekayaan.

 

KJ.402 : 2 "Kuperlukan Jurus'lamat"- Berdoa

Doa : (Tuhan, Engkaulah segala-galanya bagi hidup kami)

 

IND/Iph


August 15 2018

SBU Kamis, 16 Agustus 2018 - Renungan Pagi

MINGGU XII SESUDAH PENTAKOSTA

KAMIS,  16 AGUSTUS 2018

  

RENUNGAN PAGI

KJ.425 : 1 "Berkumandang Suara Dari Seberang"– Berdoa

 

TERLAMBAT SUDAH

Lukas 16 : 19-31

"Tetapi Abraham berkata : Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk..." (ay.25)

 

Ungkapan "penyesalan itu datangnya belakangan; kalau datang duluan disebut pendaftaran", kiranya tepat untuk kisah yang diceritakan oleh Tuhan Yesus melalui Injil Lukas ini. Suatu tuturan tentang bagaimana nantinya akan ada penyesalan bagi banyak orang ketika hari itu tiba, yakni hari penghakiman.

Kisah itu melibatkan 3 (tiga tokoh), yakni seorang kaya, Lazarus yang miskin dan Abraham. Mengapa ending hidup Lazarus yang miskin sangat bahagia, yakni berakhir di "pangkuan Abraham" (istilah lain di kalangan Yahudi untuk "Sorga")? Mengapa si kaya menderita di ᾍδης (hades; ibr= Syeol = dunia orang mati)? Sudah pasti bukan karena status kayanya sehingga orang kaya itu menderita, juga bukan karena ia sudah senang dan menerima hal baik di dunia dan Lazarus tidak, walaupun ungkapan ayat 25 seakan membenarkannya.

Pertanyaan ay.25 yang menjadi alasan ia "menderita hukuman" haruslah dipahami sejajar dengan ayat-ayat sebelumnya. Lazarus begitu menderita, penuh borok, miskin dan hidupnya mengemis dari si kaya. Bahkan ayat 21 menyebut bahwa untuk menghilangkan laparnya, Lazarus makan dari apa yang jatuh dari meja si kaya. Sungguh tragis bukan? ini menunjukkan ketidakpedulian si kaya dan begitu pelit menolong si miskin. Kepekaan terhadap orang yang menderita tidak ia miliki, padahal kekayaan dan kebaikan hidupnya ternyata "pemberian Tuhan (lihat ay.25). Si kaya gagal berbuat baik dibalik kebaikan yang Tuhan beri padanya. Ia tidak bermurah hati, padahal Tuhan sangat murah hati untuknya. Inilah alasan mengapa si kaya diganjar menderita di dunia orang mati. Kisah selanjutnya terpapar dengan gamblang, penyesalan datang  pada penghabisan. Waktu tak bisa diatur mundur lagi, segala yang terlanjur ada batas untuk bisa memperbaiki. Ya... terlambat sudah.

Hidup ini adalah kesempatan, hidup ini untuk menjadi berkat. Demikian penggalan lagu pop Rohani yang sedang populer saat ini. Bila tiba waktunya, semua perbuatan di dunia akan kita pertanggung-jawabkan. Masih ada kesempatan, segera perbaiki kehidupan. Mumpung belum terlambat bukan?

KJ.425 : 2 "Berkumandang Suara Dari Seberang"- Berdoa

Doa : (Ajarlah kami bergegas mengerjakan kehendak-Mu sebelum terlambat)

 

IND/Iph


August 14 2018

SBU Rabu, 15 Agustus 2018 - Renungan Malam

MINGGU XII SESUDAH PENTAKOSTA

RABU,  15 AGUSTUS 2018

  

RENUNGAN MALAM

KJ.413 : 1,2 "Tuhan Pimpin Anak-Mu"– Berdoa

MELAWAN HAWA NAFSU

Yakobus 4 : 7-10

"Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah iblis, maka ia akan lari dari padamu!" (ay.7)

 

Setelah pagi tadi kita membawa tentang jerat Hawa Nafsu yang menjadi sebab sengketa dan pertengkaran dengan sesama, serta penghala pengabulan doa, maka pada renungan malam ini, Yakobus mengajarkan kita bagaimana supaya lepas dari kungkungan hawa nafsu.

Langkah pertama menurut Yakobus adalah melawan sumber dari hawa nafsu, yakni iblis dengan cara tunduklah kepada Allah (ay.7) Menarik jika mempelajari istilah "tunduklah" ini. Yakobus menggunakan kata (hupatasso) untuk istilah tunduk yang berarti menempatkan diri di bawah; dikontrol oleh; taat. Dengan kata lain, untuk mengalahkan hawa nafsu, seorang percaya bersedia taat pada Allah dan tahu posisinya yakni dibawah kendali Allah. Kedua, lawanlah iblis. Istilah ini berlawanan dengan kata memberi diri di bawah pengaruh iblis. Berontaklah dan lawanlah.

Bagaimana melakukannya? Pada ay.8,9 Yakobus memberikan saran menarik, yakni "mendekatlah kepada Allah" dan "sadarilah keadaanmu. Menyadari diri berdosa dan tidak mampu menghadapi kuasa iblis dengan godaan hawa nafsu itu rupanya sangat penting. Bahkan lebih dari itu, ketika kesadaran itu hadir dalam diri, carilah pertolongan pada Tuhan, mendekatlah kepada-Nya maka Ia akan mendekat kepadamu. Ini soal pilihan. Kepada siapa kita berpihak? Keberpihakan kepada Allah dengan kerendahan hati dan menjauhi iblis, maka kita akan ditinggikannya dan menang melawan hawa nafsu.

Mari, buatlah pilihan. Tunduklah kepada Allah. Beradalah dipihak-Nya, dan lawanlah Iblis. Engkau akan menang terhadap godaan hawa nafsu.

KJ.413 : 3 "Tuhan Pimpin Anak-Mu"- Berdoa

Doa : (Tuhan, tundukkanlah hati kami agar taat pada kehendak-Mu)

 

IND/Iph


Page 1 of 4

facebook-icon-web

Jadwal Ibadah Minggu

  •    Gereja Pusat I

    :   06:30 WIB

       Gereja Pusat II

    :   09:30 WIB

       Gereja Pusat III

    :   18:00 WIB

     

       IHM Nuansa Muda

     

    :   18:00 WIB

       Minggu ke 2 dan ke 4

     

       Setiap bulan.

     

     

       Pospel Sepolwan I

     

    :   07:00 WIB

       Pospel Sepolwan II

    :   17:00 WIB

     

       Pospel Pamulang I

     
     
    :   09:00 WIB

       Pospel Pamulang II

    :   17:00 WIB

     

       Pospel Hosana

     
     
    :   06:30 WIB

       Pelkat PA

     
    :   06:30 WIB
        09:30 WIB

       Pelkat PT

    :   08:00 WIB