OT Vozzmag - шаблон joomla Окна
  • Slide1
  • Phmj
  • Pesparawi-2016

Pembinaan

Published in Pembinaan August 15 2017

Pendeta Jemaat

BUKALAH TANGAN LEBAR-LEBAR

(Ulangan 15 : 7 – 11)

Kitab Ulangan berisi rekaman pidato Musa kepada umat Perjanjian Lama dalam perjalanan mereka menuju tanah terjanji. Namun, demikian, dalam bentuknya yang sekarang. Kitab Ulangan ditulis dan disampaikan kepada umat Perjanjian Lama yang sedang berada dalam pembuangan – jauh sesudah zaman Musa. Di pembuangan umat mengalami krisis yang amat gawat, sebab mereka melihat bahwa umat yang tidak mengenal Tuhan Allah hidup lebih baik daripada mereka yang adalah umat Allah. Bahkan mereka – yang adalah umat Allah – mengalami kesusahan dan kepahitan hidup.

Dalam situasi seperti itu mereka mulai tergoda untuk melupakan Tuhan, Allah mereka, dan berpaling pada kekuatan-kekuatan lain. Kitab Ulangan – yang pada intinya – berisi nasihat untuk taat kepada Allah, dalam bingkat ikatan perjanjian antara Allah dan umat-Nya, hendak menyadarkan mereka. Bila mereka semakin menjauh dari Allah, mereka tidak akan mengalami perubahan dan pemulihan. Namun bila mereka bertobat dan kembali hidup dalam ketaatan kepada Allah, maka mereka akan mengalami kehidupan penuh berkat seperti dimasa lalu. Ketaatan kepada Allah berarti mengasihi Tuhan, Allah mereka. Dan, bagi penulis kitab Ulangan, mengasihi Allah berarti mengasihi, peduli dan berlaku adil terhadap sesama. Inilah bukti dari kasih, kesetiaan dan ketaatan umat kepada Allah.

 

Hukum mengenai penghapusan hutang (Ul. 15 : 1 – 11) berdasar pada keyakinan bahwa tanah – sebagai ladang penghidupan – adalah pemberian Allah. Membiarkan tanah pada suatu waktu tertentu (tujuh tahun) untuk tidak digarap atau diambil hasilnya, agar orang lain susah dan miskin dapat menikmati (lih. Kel 23 : 10 – 11; Im 25 : 1 – 5). Begitu pula dengan mereka yang berhutang; pada tahun ketujuh semua hutang sesama umat harus dihapuskan (15: 1 – 6). Bila hukum ini ditaati, maka umat akan mengalami kesejahteraan dan kehidupan penuh berkat.

Kepedulian terhadap sesama yang miskin merupakan salah satu bentuk kesetiaan dan ketaatan kepada Allah. Allah menghendaki agar umat hidup dalam keadilan dan penuh kemurahan (15 : 7 – 8), sebagaimana Ia telah menyatakan kemurahan-Nya kepada mereka. Bahkan Tuhan telah mewujudkan kemurahan-Nya dengan memberi mereka tanah atau negeri untuk mereka diami dan menghayati kehidupan mereka. Namun demikian, tindakan kemurahan hati dengan mempedulikan mereka yang miskin tidak boleh menjadi perbuatan yang terpaksa atau karena kewajiban. Apalagi dengan akal-akalan! (15 : 9) Yakni, dengan mengambil keuntungan dari kesusahan dan penderitaan orang lain. Ia harus lahir dari hati yang mengalami kemurahan Tuhan, karenanya itu dilakukan dengan sukacita dan senang hati (15 : 10).

Kasih, kesetiaan dan ketaatan umat diuji setiap waktu : orang miskin selalu ada di antara mereka (15 : 11).

Published in Pembinaan July 15 2017

RENDAH HATI

Pdt. Ch.S.L Tarukla’bi

Barang siapa telah memutuskan untuk menjadi Kristen apa lagi yang sudah cukup lama pasti dia telah berkomitmen untuk hidup seperti yang diajarkan Tuhannya. Salah satu ajaran itu ialah “rendah hati”. Yang mendasari ajaran ini adalah : “Dan barang siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Matius 23 : 12). Dihadapkan dengan ajaran ini sepintas kita dapat mengerti seolah-olah kita berada di persimpangan jalan di mana kita harus memilih ke mana kita akan pergi. Maksudnya adalah bahwa kerendahan hati itu soal pilihan pribadi. Pertanyaannya ialah apakah kita rendah hati? Kalau ya, itu karena kita memutuskan untuk merendahkan diri, itu pilihan kita. Apakah kita tinggi hati? Kalau ya, karena itu kita memutuskan untuk tidak merendahkan diri, itu juga pilihan kita. Setiap orang memang diberi kebebasan untuk memilih. Namun sebuah kenyataan Alkitab mengajarkan “rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain”, sebab : “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati”.

Bagi orang percaya rendah hati harus dicapai. Menurut Peter Wagner Kerendahan Hati mempunyai dua dimensi. Satu adalah kerendahan hati kita dihadapan Tuhan, dan yang satu lagi adalah kerendahan hati kita dengan orang lain. Dengan bahasa yang singkat dia menyebutnya, "Kerendahan hati vertical" dan "Kerendahan hati horizontal". Kedua-duanya tidak bisa dipisahkan. Kerendahan hati kita dihadapan Tuhan adalah dasar yang tak tergantikan bagi kerendahan hati kita dalam hubungan terhadap sesama. Kerendahan hati vertical bagi kerendahan hati horizontal sama dengan iman bagi perbuatan. kita tidak memperoleh iman dengan melakukan perbuatan baik, tetapi tidak ada yang disebut iman yang murni yang tidak menghasilkan perbuatan yang baik. Jadi intinya, satu-satunya bukti yang dapat diukur bahwa kita mempunyai iman yang sejati adalah perilaku kita. Oleh karena itu Yakobus menulis: "Demikianlah juga halnya dengan iman; jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati" (Yak. 2:17). Ada yang disebut sebagai iman yang mati. Tetapi apa yang membuat iman yang mati itu menjadi hidup? Jawabnya adalah perbuatan!

Published in Pembinaan June 24 2017

MENJUMPAI YESUS di TEMPAT TERPENCIL

(Menggugah semangat ber-Pelkes)

Pdt. Ch. S. L. Tarukla’bi

Suru Engkaduk dan Suru Tembawang, dusun terpencil dipedalaman Kalimatan Barat, jarak tempuh seharian dari perbatasan Entikong Indonesia dan Serawak Kucing Malaysia. Tidak ada kendaraan umum menjangkau dusun ini. Tidak ada motor dan juga tidak ada sepeda. Masyarakatnya berjalan kaki dan menggunakan getek (ketinting) jika berpergian. Tidak ada listrik, tidak mengenal toilet dan tidak ada air bersih. Tetapi GPIB ada disana. GPIB hadir untuk melayani umat Tuhan yang ada disana. Tidak terpikirkan bahwa mereka dapat dijangkau karena begitu terasing, tetapi Tuhan menghadirkan GPIB di tempat itu.

Suruk Engkaduk dan Suruk Tembawang hanyalah dua dusun dari sekian banyak tempat terpencil yang dilupakan dan sulit dijangkau yang harus dilayani oleh GPIB. Ada begitu banyak pos-pos pelayanan GPIB. Jika kita warga jemaat GPIB, apakah kita tahu bahwa Tuhan merindukan kita hadir diantara mereka yang hampir terlupakan itu? Bukan hanya bantuan kita berupa uang, tetapi keberadaan kita untuk menunjukkan kepedulian dengan menyapa mereka secara nyata. Jika kita warga jemaat GPIB dan telah menghayati sungguh kehadiran kita sebagai milik Kristus, sudahkah kita menjumpai saudara-saudara kita yang ada jauh disana, karena itu berarti menjumpai Tuhan disana, diantara mereka? Jika kita hadir disana dan bermakna bagi mereka, itu berarti kita berbuat bagi Tuhan.

Penghayatan keagamaan kita tentang kehadiran Tuhan dan dimana Tuhan dapat kita jumpai sangat dangkal. Kita yang berada di kota besar dengan fasilitas yang ada, menghayati bahwa menjumpai Tuhan di gedung-gedung gereja yang mewah, di hall-hall yang besar, dan di hotel-hotel berbintang. Dalam penghayatan yang demikian, kita telah mengkristalkan Tuhan dan menjadikan-Nya “sesuatu” yang indah dan megah. Menempatkan Tuhan pada posisi tertinggi padahal Tuhan sendiri meninggalkan tahta-Nya untuk ada di antara manusia.

Tuhan Yesus mengajak gereja-Nya untuk keluar menjangkau sebanyak mungkin orang agar mereka mendengar dan mengalami secara nyata kasih-Nya. Mereka yang di kota-kota besar terlebih yang berada di pelosok. Ada tanggung jawab iman sebagai gereja Tuhan yang diberkati untuk mengalirkan berkat itu kepada mereka yang jauh dari kita. Demikian ketika Tuhan Yesus berkata “pergilah, jadikan semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Ku perintahkan kepadamu (Matius 28 : 19-20a).

Kalau gereja-Nya menunjukkan kepedulian dan perhatian dalam tindakkan yang nyata, maka gereja-Nya telah mengaplikasikan apa yang Tuhan Yesus kehendaki. Dengan demikian gereja akan berjumpa Tuhan Yesus sampai di tempat-tempat terpencil.

Alangkah indahnya jika GPIB jemaat “Karunia” Ciputat menjadi bagian dari arak-arakan gereja yang rajin ber-Pelkes, karena akan semakin nyata perjumpaan dengan Tuhan Yesus di anatara yang dikasihi-Nya.

facebook-icon-web

Jadwal Ibadah Minggu

  •  

    Gereja Pusat I

    :   06.00 WIB

    Gereja Pusat II

    :   09.30 WIB

    Gereja Pusat III

    :   18.00 WIB

     

    Pospel Sepolwan I

     

    :   07.00 WIB

    Pospel Sepolwan II

    :   17.00 WIB

     

    Pospel Pamulang I

     

    :   09.00 WIB 

     

    Pospel Pamulang II

    :   17.00 WIB  

     

    Pospel Hosana

     

    :   06.30 WIB  

     

    PA

    :   06.30 WIB  
      :   09.30 WIB  

     

    PT

     

    :   08.00 WIB

     

     

     

    image6

    PEMBACAAN ALKITAB SEPEKAN

    Tanggal

    Pagi Malam
    22 Ags '17 Am 2 : 6-12 Am 2 : 13-16
    23 Ags '17 Am 3 : 1-8

    Am 3 : 9-15

    24 Ags '17 Am 4 : 1-3 Am 4 : 4-5
    25 Ags '17 Am 4 : 6-13 Am 5 : 1-3
    26 Ags '17 Am 5 : 4-6 Am 5 : 7-13
    27 Ags '17

    Yeh 6 : 1-7

    Yeh 6 : 8-10