OT Vozzmag - шаблон joomla Окна
  • Pesparawi-2016
  • Jemaat Ibadah Penahbisan
  • Penahbisan Pdt. John Haba
  • Ibadah Penahbisan
  • Phmj
  • Slide1

Pembinaan

Published in Pembinaan September 02 2017

SETIA DALAM PERKARA KECIL

Anak  yang Terkasih,

Seandainya engkau tahu bahwa engkau akan mati dalam dua jam mendatang, apa yang akan engkau lakukan dalam sisa waktu itu?                    Apakah engkau akan berlari-lari ke sana ke mari mencoba untuk menyelesaikan hal-hal besar yang telah engkau rencanakan tetapi belum terlaksana?

Atau engkau hanya melewati hari-harimu melakukan sesuatu tepat seperti yang akan engkau lakukan seandainya engkau akan hidup lima tahun lagi?

Apakah yang akan engkau lakukan? Pikirkanlah. Jawaban yang engkau berikan akan menjadi suatu penyataan bagimu, dan hal ini akan mengubah hidupmu. Ya, hal ini akan menjadi titik balik bagimu jika engkau berhenti sejenak dan merenungkan pertanyaan itu.

Apa yang akan engkau lakukan dengan hidupmu yang tinggal dua jam lagi? Apa yang dapat engkau lakukan dengan sisa waktu itu untuk memperbaiki semua kegagalan dalam hidupmu? Dua jam bukanlah waktu yang cukup untuk menebus waktu yang telah engkau buang untuk melakukan hal-hal duniawi.

Jika engkau merasa terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan ini, ketahuilah, bukannya maksud-Ku menghakimimu. Tetapi sebaliknya, Aku ingin mendorong semangatmu dan memotivasi dirimu.

Aku mengerti, engkau selalu mencari sesuatu yang besar untuk engkau lakukan bagi-Ku. Sesungguhnya tidak ada hal yang benar-benar besar. Setiap hal kecil yang engkau lakukan adalah penting. Kesetiaanmu dalam hal-hal yang kecil, dalam hubungan yang kecil, dalam keputusan yang kecil, dengan menggunakan karunia yang telah engkau terima, hal-hal itulah yang akan menjadi sesuatu yang besar.

Bila engkau melakukan hal tersebut di atas, maka engkau akan hidup setiap hari, setiap jam, setiap saat seakan-akan adalah saat terakhirmu, mengetahui bahwa engkau akan meninggal, engkau tidak akan mengubah segala sesuatunya. Engkau tidak akan tergesa-gesa menelpon ibumu, ayahmu, saudaramu, saudarimu, temanmu, tetanggamu, untuk meminta maaf kepada mereka atas kesalahanmu.

Anak-Ku, cara hidup seperti itulah yang Aku ingin engkau jalani. Aku ingin agar engkau setia dalam hal-hal kecil. Dengan cara begitu, engkau akan membuktikan kesetiaanmu, dan akan lebih mudah bagimu untuk tetap setia saat lebih banyak lagi pekerjaan diberikan kepadamu. Dan lebih banyak lagi tanggung jawab akan diberikan kepadamu, karena Aku membutuhkan orang sepertimu yang mendengar suara-Ku, dan taat tanpa bertanya-tanya. Engkau melakukan sesuatu yang besar dalam kesetiaanmu.

Teruskan kesetiaanmu, karena “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar (Lukas 16:10).

Kasihmu, Tuhan.

Published in Pembinaan August 15 2017

Pendeta Jemaat

BUKALAH TANGAN LEBAR-LEBAR

(Ulangan 15 : 7 – 11)

Kitab Ulangan berisi rekaman pidato Musa kepada umat Perjanjian Lama dalam perjalanan mereka menuju tanah terjanji. Namun, demikian, dalam bentuknya yang sekarang. Kitab Ulangan ditulis dan disampaikan kepada umat Perjanjian Lama yang sedang berada dalam pembuangan – jauh sesudah zaman Musa. Di pembuangan umat mengalami krisis yang amat gawat, sebab mereka melihat bahwa umat yang tidak mengenal Tuhan Allah hidup lebih baik daripada mereka yang adalah umat Allah. Bahkan mereka – yang adalah umat Allah – mengalami kesusahan dan kepahitan hidup.

Dalam situasi seperti itu mereka mulai tergoda untuk melupakan Tuhan, Allah mereka, dan berpaling pada kekuatan-kekuatan lain. Kitab Ulangan – yang pada intinya – berisi nasihat untuk taat kepada Allah, dalam bingkat ikatan perjanjian antara Allah dan umat-Nya, hendak menyadarkan mereka. Bila mereka semakin menjauh dari Allah, mereka tidak akan mengalami perubahan dan pemulihan. Namun bila mereka bertobat dan kembali hidup dalam ketaatan kepada Allah, maka mereka akan mengalami kehidupan penuh berkat seperti dimasa lalu. Ketaatan kepada Allah berarti mengasihi Tuhan, Allah mereka. Dan, bagi penulis kitab Ulangan, mengasihi Allah berarti mengasihi, peduli dan berlaku adil terhadap sesama. Inilah bukti dari kasih, kesetiaan dan ketaatan umat kepada Allah.

 

Hukum mengenai penghapusan hutang (Ul. 15 : 1 – 11) berdasar pada keyakinan bahwa tanah – sebagai ladang penghidupan – adalah pemberian Allah. Membiarkan tanah pada suatu waktu tertentu (tujuh tahun) untuk tidak digarap atau diambil hasilnya, agar orang lain susah dan miskin dapat menikmati (lih. Kel 23 : 10 – 11; Im 25 : 1 – 5). Begitu pula dengan mereka yang berhutang; pada tahun ketujuh semua hutang sesama umat harus dihapuskan (15: 1 – 6). Bila hukum ini ditaati, maka umat akan mengalami kesejahteraan dan kehidupan penuh berkat.

Kepedulian terhadap sesama yang miskin merupakan salah satu bentuk kesetiaan dan ketaatan kepada Allah. Allah menghendaki agar umat hidup dalam keadilan dan penuh kemurahan (15 : 7 – 8), sebagaimana Ia telah menyatakan kemurahan-Nya kepada mereka. Bahkan Tuhan telah mewujudkan kemurahan-Nya dengan memberi mereka tanah atau negeri untuk mereka diami dan menghayati kehidupan mereka. Namun demikian, tindakan kemurahan hati dengan mempedulikan mereka yang miskin tidak boleh menjadi perbuatan yang terpaksa atau karena kewajiban. Apalagi dengan akal-akalan! (15 : 9) Yakni, dengan mengambil keuntungan dari kesusahan dan penderitaan orang lain. Ia harus lahir dari hati yang mengalami kemurahan Tuhan, karenanya itu dilakukan dengan sukacita dan senang hati (15 : 10).

Kasih, kesetiaan dan ketaatan umat diuji setiap waktu : orang miskin selalu ada di antara mereka (15 : 11).

Published in Pembinaan

MENDEKAT DENGAN IMAN

Markus 5 : 28; Ibrani 11 : 6a

- Pendeta Jemaat -

 

Penulis kitab Ibrani dengan jelas mengatakan bahwa tanpa iman, seseorang tidak mungkin berkenan dengan Tuhan. Jika berkenan atas orang itu, bagaimana mungkin Dia akan melakukan perbuatan ajaib baginya? Paling-paling orang tersebut hanya bisa melihat saja perbuatan besar yang dilakukan oleh Tuhan.

Sebagai contoh adalah apa yang terjadi atas penduduk Nazaret. Firman Tuhan berbunyi, “Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakanNya di situ.” (Mat 13:58). Tidak demikian dengan perempuan yang dua belas tahun sakit pendarahan itu, dia mendatangi Yesus dengan iman. Perkataan perempuan itu sendiri dan perkataan Yesus membuktikan bahwa dia mendatangi Yesus dengan iman.

Perkataan perempuan itu. Tanpa ragu dia pun berkata, “Asal kujamah saja jubahNya, aku akan sembuh.” Lukas menyebutnya dengan istilah “menjamah jumbai jubahNya”. Sebelum itu belum ada cerita tentang penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus yang dikaitkan dengan jumbai jubahNya. Yesus menyembuhkan banyak orang hanya dengan perkataan dan jamahan tanganNya. Oleh sebab itu, usaha perempuan itu untuk memperoleh kesembuhan dari Yesus hanya dengan perantara jubai jubahNya adalah sesuatu yang baru.

Entah penyebabnya karena keadaan yang mungkin terlalu berat untuk berdiri dan menemui Yesus, atau banyak orang yang menghalanginya, atau karena ia tahu akan janji firman Tuhan. Apapun alasannya, semuanya justru menguatkan bahwa perempuan itu sangat beriman. Kita bisa membahasakannya dengan satu kalimat, “Jangankan ucapan dan jamahan tanganNya, jumbai jubahNya pun cukup untuk menyembuhkan penyakitku yang parah ini.”

Perkataan Yesus. Tentang perempuan itu Yesus berkata, “… imanmu telah menyelamatkan engkau.” Pernyataan Yesus yang menegaskan bahwa perempuan tersebut beriman tidak perlu disanggah lagi, sebab Yesus pasti tahu bahwa perempuan itu memang melakukannya dengan iman. Pernyataan Yesus ini sekaligus untuk mengajar orang-orang di sekitarNya, terutama murid-muridNya dan seorang utusan dari keluarga Yairus, kepala rumah ibadat yang anaknya sakit, bahkan sudah meninggal itu.

Ada dua hal yang ditekankan dalam kata “iman”, yaitu mempercayai dan mempercayakan. Perempuan yang beriman kepada Yesus tersebut mempercayai bahwa Yesus sanggup menyembuhkannya. Dia juga mempercayakan penyakit dan kesembuhannya kepada Yesus. Dia tidak lagi mempercayakan pada kekuatannya sendiri.

Banyak orang yang mau datang kepada Yesus ketika mengalami penderitaan. Itu adalah hal yang sangat baik. Tetapi, kedatanganNya akan sia-sia kalau kekuatiran, ketakutan, dan ragu-ragu masih menempel di dalam dirinya. Oleh sebab itu, kalau kita rindu penderitaan kita cepat teratasi, datanglah kepada Yesus dengan iman yang teguh.

KATA – KATA BIJAK

Iman “sanggup” menurunkan belas kasihan Tuhan

terhadap umatNya yang menderita

Published in Pembinaan July 29 2017

MAUT TELAH DITELAN dalam KEMENANGAN

            Apakah maut itu ? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, maut artinya kematian.      Dr. B.J Boland mengatakan  bahwa ungkapan “turun ke dalam kerajaan maut” pada Pengakuan Iman Rasuli artinya neraka atau tempat orang mati. Dalam bahasa Ibraninya neraka disebut “she’ol” artinya dunia orang mati. Sedangkan V.J Pritzner mengatakan bahwa maut dipersonifikasikan sebagai seorang tirani atau kuasa yang digunakan sewenang-wenang atau penguasa yang bertindak sekehendak  hatinya. Jurgen Moltmann juga berpendapat bahwa maut adalah kekuatan jahat yang sudah ada di tengah-tengah kehidupan ini. Jadi maut dapat kita katakan sebagai kekuatan yang ada di tengah-tengah dunia ini, yang menyeret dunia ini dan segala isinya pada kebinasaan atau pada kematian di neraka. Maut itu ada diakibatkan oleh dosa atau ketidakpercayaan manusia kepada Allah.

Menurut kata Alkitab  maut itu memiliki sengat, dan sengat maut itu ialah dosa. Kata sengat digunakan untuk   galah rangsang yang mengendalikan kuda. (Kis. 26:14) Sengat juga dimiliki oleh serangga dan kelajengking. Sengat ini sering dipakai sebagai alat penyiksa, tetapi juga sebagai lambang kuasa tirani

Menurut Paulus kuasa dosa ialah hukum Taurat artinya kehendak Allah yang diungkapkan di dalalm hukum-Nya menuntut tidak kurang daripada ketaatan yang sempurna, yaitu ketika hukum itu menemukan ketidaktaatannya, ia menghukum orang-orang berdosa ke dalam kubur karena menurut Paulus  upah dosa ialah maut ( Roma 6:3)

Dalam kenyataan hidup di dunia ini adakah manusia yang steril dari dosa? Tiak ada. Artinya semua manusia berdosa dan karena  itu berada dalam kuasa maut. Allah sadar benar jika Ia tidak bertindak  menyelamatkan manusia maka mustahil manusia terselamatkan. Karena itu rencana penyelamatan yang telah Ia canangkan sejak kejatuhan  manusia (kejadian 3:15) dan yang terus Ia kerjakan dari zaman ke zaman mencapai puncaknya pada solidaritas Yesus Kristus. Ia masuk ke dalam dunia untuk melihat dan merasakan secara langsung penderitaan manusia dalam perjuangannya  melawan dosa. Karena itu Ia memberikan diri-Nya terhukum oleh karena dosa kita yang  dituntut oleh hukum Taurat (ini  yang dikatakan-Nya bahwa Dia datang bukan untuk mengurangi tetapi meggenapi). Ia mati, menjadi korban penebus dosa, Ia turun ke dunia orang mati, Ia telah menang atas kuasa maut itu.

Di dalam iman pada Yesus yang bangkit maut tidak berkuasa lagi atas diri orang-orang percaya. Hai maut dimakah sengatmu? Ungkapan ini adalah kemenangan bahwa  maut telah kehilangan kejayaannya, giginya, ia tidak dapat menggigit lagi.

Hidup yang kita jalani adalah hidup yang berjuang menentang semua bentuk kuasa yang hendak menyeret manusia pada maut, maut ekonomis dari orang-orang yang dibiarkan mati kelaparan, maut politis dari orang-orang tertindas, maut sosial dari orang-orang cacat, maut yang membunuh melalui bom-bom dan penyiksaan dari para teroris dan maut dari jiwa yang apatis (=masa bodoh, acuh tak acuh, tidak peduli).

Published in Pembinaan July 22 2017
Rate this item
(3 votes)

 

MENATAP SISI BURUK SESAMA!

Pdt. Ch.S.L Tarukla’bi

 

Ada orang yang selalu menatap sisi buruk sesama yang berada di sekitarnya. Akibatnya ia terus-menerus mengomeli orang-orang yang dianggapnya tidak becus! Mengapa demikian?

Hans Christian Andersen menceriterakan bahwa suatu hari setan sangat puas karena ia baru berhasil membuat sebuah cermin yang mampu mengubah segala sesuatu yang baik dan indah menjadi jahat dan begitu buruk! Setan pun bermaksud pergi ke Sorga untuk mengolok-olok dan mengejek para malaikat dan Allah dengan cermin hasil karyanya itu.

Ia pun terbang menuju Sorga dan ketika semakin dekat Sorga, setan itu tersenyum gembira memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Ketika ia sedang tersenyum, ia melihat ke cermin itu dan betapa terkejutnya setan itu melihat betapa buruknya dirinya itu!

Karena terkejut, maka tanpa sengaja cermin itu terlepas dan jatuh ke bumi, hancur bagaikan pasir halus. Angin meniup pasir cermin itu ke seluruh dunia, dan jika pasir itu masuk ke dalam mata seseorang, maka orang itu hanya dapat menatap sisi buruk dari orang-orang di sekitarnya!

Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari ceritera Andersen itu? Tentu saja, menatap sisi buruk dan jahat sesama akan menimbulkan rasa tidak senang, kemarahan dan kebencian! Ketidaksenangan, kemarahan dan kebencian akan membuat manusia tidak dapat berjalan bersama! Jika kebersamaan hendak dipaksakan untuk diteruskan, maka itu akan menciptakan suatu kondisi bagaikan “api dalam sekam” dan menghadirkan persekutuan semu!

Yesus mengajarkan agar kita saling mengasihi dengan sungguh-sungguh, karena hanya kasih yang dapat merekatkan suatu persekutuan menjadi indah dan mengagumkan!

Rasul Paulus mengatakan bahwa aku dapat melakukan apa pun yang baik dan hebat “… tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing … tidak berguna …!”

1 Korintus 13 : 1-7

 

Page 1 of 2

facebook-icon-web

Jadwal Ibadah Minggu

  •    Gereja Pusat I

    :   06.00 WIB

       Gereja Pusat II

    :   09.30 WIB

       Gereja Pusat III

    :   18.00 WIB

     

       IHM Nuansa Muda

     

    :   15.00 WIB

       Minggu ke 2 dan ke 4

     

       Setiap bulan.

     

     

       Pospel Sepolwan I

     

    :   07.00 WIB

       Pospel Sepolwan II

    :   17.00 WIB

     

       Pospel Pamulang I

     
     
    :   09.00 WIB

       Pospel Pamulang II

    :   17.00 WIB

     

       Pospel Hosana

     
     
    :   06.30 WIB

       Pelkat PA

     
    :   06.30 WIB
        09.30 WIB

       Pelkat PT

    :   08.00 WIB

     

     

    image6

    PEMBACAAN ALKITAB SEPEKAN

    Tanggal

    Pagi Malam
     17 Okt '17 Mzm 102 : 24-29 Mzm 103 : 1-5
     18 Okt '17 Mzm 103 : 6-18

    Mzm 103 : 15-22

     19 Okt '17 Mzm 104 : 1-18 Mzm 104 : 19-24
     20 Okt '17 Mzm 104 : 25-30 Mzm 104 : 31-35
     21 Okt '17 Mzm 108 : 1-10 Mzm 108 : 11-14
     22 Okt '17

    1 Taw 6 : 31-47

    1 Taw 6 : 48-53