OT Vozzmag - шаблон joomla Окна
  • Slide1
  • Phmj
  • Pesparawi-2016

Artikel

Published in Artikel July 22 2017

PESAN MAJELIS SINODE GPIB DALAM RANGKA HUT KE-67

PELKAT GERAKAN PEMUDA GPIB 

 

Kepada yang kami hormati, Pelayan Firman Tuhan; para Diaken dan Penatua; para orang tua dan jemaat sekalian; dan kepada yang kami banggakan, segenap Anggota dan Pengurus Gerakan Pemuda.

Salam damai sejahtera!

Segala Puji dan Syukur kita naikkan kepada Tuhan Yesus Kristus Sang Pemuda Agung atas rahmat dan penyertaanNya mempersatukan kita semua dalam damai dan sukacita pada HUT ke-67 Pelkat GP GPIB. Dalam perjalanan menapaki tahun demi tahun, melaksanakan tugas panggilan gereja sebagai Pemuda Gereja dengan bersaksi, bersekutu dan melayani dalam persekutuan gereja juga masyarakat bangsa negara patutlah kita bersyukur sebab berbagai pergumulan dan tantangan yang dihadapi dapat kita lalui dalam kasih Tuhan Yesus Kristus.

Ditengah-tengah pelayanan dan kesaksian Gerakan Pemuda GPIB, kami dipertanyakan akan kondisi toleransi antar umat beragama di tanah air tercinta, Indonesia. Kerukunan antar umat beragama di tanah air akhir-akhir ini banyak diwarnai isuisu sensitif yang mengganggu ketentraman dan kehidupan harmonis umat beragama dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kasus-kasus dan isu-isu negatif seputar SARA, gerakan radikal kekerasan, serta berbagai ujaran kebencian yang mengarah kepada perpecahan bangsa melalui berbadai media, termasuk didalamnya media sosial. Apakah kita sebagai murid-murid Kristus yang menghadirkan damai sejahtera, justru menjadi bagian dalam upaya dan aksi yang menciderai kerukunan antara umat beragam di Indonesia sehingga menimbulkan perpecahan bagi bangsa ini? Bagaimana sikap dan peran kita sebagai pemuda/i masa depan gereja dan bangsa Indonesia di dalam membangun bangsa Indonesia? Konflik, perpecahan, hingga perang saudara yang dipicu oleh perbedaan ajaran kepercayaan di negara-negara tertentu cukuplah menjadi pelajaran bahwa memelihara egoisme dengan menghasut dan menghina kepercayaan umat lain hanya akan berakhir pada perpecahan dan konflik. Oleh karenanya, dengan dasar Pancasila dan nilai-nilai luhur bangsa yaitu kerukunan dan toleransi diantara sesama patut diwujudnyatakan dalam menggapai cita-cita kebangsaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kerukunan merupakan kebutuhan bersama yang tidak dapat dihindarkan di tengah perbedaan negara Indonesia. Perbedaan yang ada bukan merupakan penghalang untuk hidup rukun dan berdampingan dalam kasih persaudaraan dan persatuan. Kesadaran akan kerukunan hidup harus dapat dibagikan kepada sesama, sehingga keberadaan kita dapat menjadi garam dan terang bagi sekitar kita dimanapun kita berada. Dengan perbedaan dan keragaman yang ada pada bangsa ini justru menjadi penguat di dalam membangun bangsa ini dalam kasih dan penyertaan Tuhan Yesus Kristus. Toleransi adalah suatu sikap saling menghormati dan menghargai antarkelompok atau antarindividu dalam masyarakat atau lingkup lainnya. Sebagai umat Kristen kita telah diajarkan oleh Tuhan Yesus Kristus mengenai hal saling mengasihi sebagaimana firman Tuhan pada Roma 12:10 “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat”, kiranya dapat menjadi pedoman untuk kita GP GPIB untuk menyingkapi dan memahami akan keadaan disekitar dengan sikap patuh pada Firman Tuhan, termasuk di dalamnya menghormati agama, kepercayaan dan ajaran orang lain, membangun terciptanya suasana rukun dalam hidup dan kehidupan bermasyarakat serta berbangsa. Marilah kita bersamasama saling mengasihi, menghargai perbedaan dan hormat - menghormati di antara sesama. Bersikap adil dan bijaksana di dalam menjaga dan mengelola alam ciptaanNya. Hendaklah kita memaksimalkan energi positif dan potensi dalam diri kita untuk kemajuan dan pembangunan bangsa. Sebagai Pelkat GP GPIB, mari semakin diperbaharui dan berhikmat untuk melaksanakan janji kita kepada Tuhan, memikul salib, memahami dan menjadi pelaku Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, menjalankan tugas mulia memberitakan Firman Tuhan, dengan aksi dan tindakan nyata.

Menapaki tahun Program Kerja dan Anggaran 2017-2018, untuk mewujudkan persekutuan, pelayanan dan kesaksian di lingkup jemaat, kita memasuki langkah strategis di dalam melaksanakan pemilihan para pelayan Tuhan yang akan ambil bagian karya layan sebagai Diaken/ Penatua dan Pengurus-pengurus di unit-unit misioner. Sebagai bagian dari unit missioner, Pelkat GP berperan penting dengan turut serta aktif menjawab panggilan Tuhan untuk melayaniNya sebagai Diaken / Penatua atau menjadi pengurus pada unit misioner. Kesiapan diri pribadi dalam aspek spiritualitas dan keterampilan diri sangatlah penting di dalam menjawab panggilan Tuhan untuk melakukan tugas, panggilan dan pengutusan dimanapun kita berada. Di dalam masa muda, biarlah lewat talenta yang telah Tuhan anugerahkan, kita senantiasa dimampukan untuk menjawab panggilan Tuhan dan memberikan diri kita untuk melayani Dia, serta memberitakan kebenaran firman Tuhan.

Pelkat GP GPIB telah menyusun program dalam Persidangan Sinode Tahunan GPIB di Palembang tahun 2017, diantaranya “Aksi Bakti Sosial dan Pemberdayaan (ABSP)” sebagai perwujudan akan karya pelayanan kesaksian GP GPIB di wilayah Pos Pelkes, selain itu “Plural Activity” sebagai perwujudan kegiatan lintas agama dan denominasi, “GP GPIB Sport & Choir” dan rangkaian kegiatan “Ibadah Syukur HUT ke-67 GP GPIB” di Mupel Kepulauan Riau. Kami mengundang rekan-rekan GP GPIB untuk ikut serta mengkaryakan masa muda dalam pelayanan dalam kegiatan lingkup sinodal ataupun di jemaat masing-masing sebagai tindakan nyata dan mewujudkan kasih Kristus di kehidupan masyarakat dan bangsa.

Rekan-rekan muda mari kita tetap menjadi dinamis, terus bergerak dan terus menerus diperbaharui dan rendah hati. Bersama keluarga dan masyarakat mendatangkan damai sejahtera Tuhan ditengah lingkungan dengan masing-masing peran dan tanggung jawab yang sudah dipercayakan.

Dirgahayu Pelayanan Kategorial Gerakan Pemuda GPIB ke-67. Tuhan Memberkati gerak pelayanan kita bersama!

 

MAJELIS SINODE GPIB

Pdt. Maureen S. Rumeser-Thomas, M.Th. -  Ketua III       

Pdt.J.Marlene Joseph, M.Th.  - Sekretaris Umum

UNIT MISIONER MAJELIS SINODE GPIB 2015-2020 DEWAN GERAKAN PEMUDA

Cynthia J. Santoso – Rolando Loupatty – Welma H. Paays – Vivianita Sadimun –

                                                   Irene A. Inkiriwang – Gerry Sagala – Donda Salakory – Kezia M.Mahulette

Published in Artikel July 15 2017

PESAN MAJELIS SINODE GPIB

DALAM RANGKA HARI ULANG TAHUN KE 36 PELKAT PKB GPIB

 

Keadaan sosial politik bangsa kita saat ini, merupakan tantangan bagi kaum bapak untuk membawa dan menjadi berkat, bukan hanya di dalam tembok gereja. Pelayanan kaum bapak sesungguhnya adalah di tengah tengah masyarakat, di luar tembok tembok GPIB. Kaum bapak harus menjadi saluran berkat bagi lingkungan sekitarnya.

Hal ini juga sejalan dengan tema pelayanan GPIB tahun 2017 yang disarikan dari
Lukas 4:18-19. Karena Roh Tuhan ada pada kita dan telah mengurapi kita untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, membebaskan yang tertindas, menghadirkan damai sejahtera di manapun kita berada.

Pada Momen ulang tahun PKB yang ke-36 ini, kita terus mengintensifkan persekutuan dalam ibadah-ibadah PKB, menjadikan Persekutuan Kaum Bapak sebagai tempat mengembangkan potensi diri sehingga dapat menghadirkan Damai Sejahtera di keluarga yang kemudian menjadi berkat di tengah masyarakat.

Kaum Bapak dapat menjadi teladan dengan memberikan diri dalam pelayanan di gereja, baik terpilih sebagai Presbiter maupun terpilih sebagai pengurus Pelkat PKB dan tetap setia melayani Tuhan dalam status apapun, karena masih banyak bentuk pelayanan sebagai bakti kita kepada Tuhan.
“Ya, dengan segenap hati ku“
.

Pada kesempatan ini kami mengajak kita semua mempersiapkan diri untuk menjadikan acara Temu Karya PKB tahun 2018 di Makasar, sebagai ajang mengembangkan potensi diri untuk hormat dan kemuliaan Tuhan.

Kami juga mengundang Kaum Bapak turut serta dalam pembinaan spiritual pada kegiatan Retreat PKB Sinodal yang akan diselenggarakan pada bulan September 2017. Mohon dukungan doa untuk Kedua acara PKB secara Sinodal agar dapat terlaksana dengan baik untuk Kemuliaan nama Tuhan.

Akhirnya, selaku warga gereja dan sebagai elemen bangsa, kita perlu merawat kebhinekaan dalam bingkai persatuan NKRI, meredam radikalisme dan fanatisme berlebihan, melawan segala praktek kekerasan, mengentaskan kemiskinan dan menghadirkan keadilan. Kaum bapak harus menjadi saluran berkat bagi lingkungan sekitarnya. Sudah saatnya kita menumbuhkan budaya solider dan toleran di tengah-tengah keberagaman masyarakat Indonesia, menyatukan potensi bangsa untuk menjadikan Indonesia bersatu dan bermartabat.

Mari membangun jaringan dengan semua elemen masyarakat yang ada di sekitar kita, mengklarifikasi guna meredam berita-berita bohong atau provokatif, dan mari kita dengan ringan membantu mengusahakan kesejahteraan lingkungan di manapun kita berada seperti perintah Tuhan kepada umat-Nya di Yeremia 29:7.

Terus berdoa agar Tuhan menuntun dalam Roh-Nya yang Kudus kepada para pemimpin bangsa dan juga kepada kita agar beroleh hikmat dalam menyikapi berbagai persoalan bangsa. Terus maju, terus melayani, tetap tangguh namun juga tetap luwes dalam kehidupan persekutuan, keluarga dan masyarakat.

Dirgahayu PKB !!

Yell PKB: PKB !!! Maju Terus. !!! Pelayanan !!! Tangguh dan Luwes !!!

 

 

MAJELIS SINODE GPIB

Pdt. Maureen S. Rumeser-Thomas,M.Th. ̶ Ketua III

Pdt. J. Marlene Joseph, M.Th. ̶̶ Sekretaris Umum

UNIT MISIONER MAJELIS SINODE GPIB 2015-2020 DEWAN PKB

Michael Roring, Bambang R. Widjaja, Victori Saetakela, Erino Theopani, Michael Kirangen,

Ronny Pangemanan, Markus Hallatu, Elizar P. Hasibuan, Plip W. Polatu.

Published in Artikel June 24 2017

minggu sesudah pantekosta

 

MINGGU SETELAH PENTAKOSTA (Minggu-Minggu Sesudah Pentakosta)

Hari Pentakosta yang jatuh pada hari Minggu, mengawali Minggu-minggu Pentakosta yang berjumlah 26 Minggu. Minggu Trinitas adalah Minggu I sesudah Pentakosta, dst. Minggu-minggu ini juga dikenal dengan Minggu Biasa, yang ditandai dengan warna Hijau, warna pertumbuhan dan kesuburan. Masa ini juga disebut masa Gereja berjuang.

Ada yang menyatakan bahwa sesudah Minggu Trinitas sudah tidak ada lagi hari raya. Sebenarnya, masih ada yaitu Hari Minggu, di mana melalui setiap hari Minggu, Gereja diingatkan tentang penyertaan Tuhan di dalam perjuangan Gereja. Yesus Kristus, Kepala Gereja, selalu beserta dengan Gereja-Nya (Allah beserta kita). Karena itu, Hari Minggu harus selalu menjadi perayaan besar, dan dirayakan dengan penuh puji-pujian dan syukur.

Simbol Hari Minggu sesudah Pentakosta adalah burung Merpati (putih) dengan ranting zaitun diparuhnya, perahu layar di tengah gelombang dan pelangi dengan warna dasar Hijau.

Warna dasar                       :          Hijau, yang berarti warna pertumbuhan dan kesuburan

Lambang/Logo                   :          Burung Merpati dengan ranting zaitun diparuhnya, perahu layar ditengah gelombang dan pelangi

Warna Burung Merpati       :          Putih

Arti                                    :           Perahu merupakan simbol dari Gereja.

Ide ini menjadi berarti bagi orang Kristen mula-mula yang mengalami penganiayaan dan pergumulan, ketika mereka mengetahui bahwa akan ada pertolongan dari Tuhan. Hal ini nyata lewat perpaduan antara perahu dan pelangi. Di sini janji Allah tentang pertolongan-Nya itu mendapat penekanan yang kuat. Pelangi melambangkan kesetiaan Allah atas janji-Nya untuk memelihara bumi, khusus Gereja dan orang-orang percaya.

Burung merpati dengan ranting zaitun di paruhnya mengungkapkan tentang janji keselamatan dan kehidupan dari Allah (bnd. Kej. 8:10.11) yang akan terus menyertai sampai ke tempat tujuan. Jadi seka­lipun Gereja mengalami berbagai ancaman goncangan dan cobaan, Gereja akan tetap hidup di dalam dan oleh janji Allah tersebut.

Simbol ini beraganti pada Hari Sabtu malam menjelang Hari Minggu I Advent.

Published in Artikel June 10 2017

trinitas

 

MINGGU TRINITAS

Minggu Trinitas (Lat. Trinitatis = Trinitas), disebut juga Hari Raya Tritunggal Mahakudus.

Minggu Trinitas adalah hari Minggu pertama setelah Pentakosta, dirayakan untuk memperingati doktrin Trinitas, Allah yang Esa atau Allah Tritunggal (Bapa, Putra, dan Roh Kudus). Perayaan Hari Minggu Trinitas baru ditetapkan pada abad ke-14. Di sini pernyataan Allah dan kekudusan keesaan-Nya menjadi pusat penyembahan umat.

Simbol hari Minggu Trinitas adalah Segitiga (Triquetra) dengan warna dasar putih, yang merupakan simbol mula-mula dari ketritunggalan.

Warna Dasar        :     Putih

Lambang/Logo   :     Lingkaran Segitiga / Triquetra

 

Arti                        :    Tiga buah lekukan yang tidak terputus, saling bersambung menyatakan kekekalan dari tritunggal.

                                  Pada pusat dari ketiga lekukan itu terbentuklah sebuah segitiga yang merupakan simbol warisan dari Tritunggal.

 

Simbol ini berganti pada Hari Sabtu malam, menjelang Hari Minggu II Sesudah Pentakosta.

Published in Artikel June 07 2017

pentakosta

PENTAKOSTA (Yun. Pentakosta berarti ‘yang ke-50’), yakni hari ke-50 sesudah Paskah. Hari ke-50 sesuai dengan Ulangan 16:9-12 adalah suatu pesta besar, yakni pesta panen raya dan pesta kemerdekaan. Tidak kebetulan bahwa pada Hari ke-50 Yerusalem penuh orang. Pada Hari Pentakosta, Roh Kudus yang dijanjikan oleh Yesus Kristus ketika Ia naik takhta di surga, turun ke atas para murid. Artinya, mereka semua dibaptis dalam Roh Kudus, sehingga mereka mendapat kekuatan dan keberanian untuk bersaksi (Kis 2:14,22-24,32-33,36).

Dengan demikian, Roh Kudus panen pertama sesudah Yesus Kristus bangkit dan naik takhta di surga. Dan juga orang-orang yang menjadi percaya oleh pemberitaan para rasul dengan kuasa Roh Kudus (Kis.2:37-42) adalah juga panen pertama.

Makanya Hari Pentakosta diperingati juga sebagai hari kelahiran Gereja, di mana melalui kuasa Roh Kudus Gereja dilengkapi untuk melaksana­kan tugas pengutusannya kepada bangsa-bangsa.

Simbol Hari Pentakosta adalah lidah-lidah api (pinggirnya kuning) dan burung merpati (warna perak).

Warna dasar                                         : Merah, warna keberanian untuk memberi kesaksian (martyria).

Lambang/Logo                                   : Lidah-lidah api dan Burung Merpati

Warna Lidah-Lidah Api                      : Orange

Warna Burung Merpati                      : Putih

Arti                                                         : Warna dasar merah menyatakan keberanian untuk memberi

  kesaksian (martyria), Lidah-Lidah Api dan Burung Merpati yang

  menukik menunjuk pada peristiwa pencurahan Roh Kudus pada

  hari Pentakosta (Kis. Ras. 2:23). Tujuh lidah api menyimbolkan ke

  tujuh suluh api, yaitu ketujuh roh Allah (Why. 4:5) membentuk

  lingkaran yang menghadirkan kekekalan, keabadian.

Simbol ini berganti pada Hari Sabtu Malam menjelang Hari Minggu Trinitas.

Page 1 of 2

facebook-icon-web

Jadwal Ibadah Minggu

  •  

    Gereja Pusat I

    :   06.00 WIB

    Gereja Pusat II

    :   09.30 WIB

    Gereja Pusat III

    :   18.00 WIB

     

    Pospel Sepolwan I

     

    :   07.00 WIB

    Pospel Sepolwan II

    :   17.00 WIB

     

    Pospel Pamulang I

     

    :   09.00 WIB 

     

    Pospel Pamulang II

    :   17.00 WIB  

     

    Pospel Hosana

     

    :   06.30 WIB  

     

    PA

    :   06.30 WIB  
      :   09.30 WIB  

     

    PT

     

    :   08.00 WIB

     

     

     

    image6

    PEMBACAAN ALKITAB SEPEKAN

    Tanggal

    Pagi Malam
    22 Ags '17 Am 2 : 6-12 Am 2 : 13-16
    23 Ags '17 Am 3 : 1-8

    Am 3 : 9-15

    24 Ags '17 Am 4 : 1-3 Am 4 : 4-5
    25 Ags '17 Am 4 : 6-13 Am 5 : 1-3
    26 Ags '17 Am 5 : 4-6 Am 5 : 7-13
    27 Ags '17

    Yeh 6 : 1-7

    Yeh 6 : 8-10