OT Vozzmag - шаблон joomla Окна
  • Slide1
Published in Artikel May 19 2018

pentakosta

 

 

PENTAKOSTA (Yun. Pentakosta berarti ‘yang ke-50’), yakni hari ke-50 sesudah Paskah.

Hari ke-50 sesuai dengan Ulangan 16:9-12 adalah suatu pesta besar, yakni pesta panen raya dan pesta kemerdekaan. Tidak kebetulan bahwa pada Hari ke-50 Yerusalem penuh orang. Pada Hari Pentakosta, Roh Kudus yang dijanjikan oleh Yesus Kristus ketika Ia naik takhta di surga, turun ke atas para murid. Artinya, mereka semua dibaptis dalam Roh Kudus, sehingga mereka mendapat kekuatan dan keberanian untuk bersaksi (Kis 2:14,22-24,32-33,36).

Dengan demikian, Roh Kudus panen pertama sesudah Yesus Kristus bangkit dan naik takhta di surga. Dan juga orang-orang yang menjadi percaya oleh pemberitaan para rasul dengan kuasa Roh Kudus (Kis.2:37-42) adalah juga panen pertama.

Makanya Hari Pentakosta diperingati juga sebagai hari kelahiran Gereja, di mana melalui kuasa Roh Kudus Gereja dilengkapi untuk melaksana­kan tugas pengutusannya kepada bangsa-bangsa.

Simbol Hari Pentakosta adalah lidah-lidah api (pinggirnya kuning) dan burung merpati (warna perak).

Warna dasar                            : Merah, warna keberanian untuk memberi kesaksian (martyria).

Lambang/Logo                          : Lidah-lidah api dan Burung Merpati

Warna Lidah-Lidah Api             : Orange

Warna Burung Merpati             : Putih

Arti                                          : Warna dasar merah menyatakan keberanian untuk memberi

                                                   kesaksian (martyria), Lidah-Lidah Api dan Burung Merpati yang

   menukik menunjuk pada peristiwa pencurahan Roh Kudus pada

   hari Pentakosta (Kis. Ras. 2:23). Tujuh lidah api menyimbolkan ke

   tujuh suluh api, yaitu ketujuh roh Allah (Why. 4:5) membentuk

   lingkaran yang menghadirkan kekekalan, keabadian.

 

Simbol ini berganti pada Hari Sabtu Malam menjelang Hari Minggu Trinitas.

Published in Artikel

Kenaikan Yesus Kristus ke surga selalu terjadi pada hari Kamis. Peristiwa ini hendak menjelaskan bahwa Yesus Kristus kembali naik takhta kemuliaanNya yang telah ditinggalkan ketika diutus ke dunia. Karena itu, Yesus Kristus diakui sebagai Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala tuan (Tim 6:151).

Pesta ini dirayakan selama sepuluh hari dengan kemeriahan dan kegembiraan oleh semua orang percaya.

Hari Minggu sesudah Hari Kenaikan dapat dinamakan Minggu Pemuliaan Kristus di surga, dan bukan Minggu Paskah VII yang selama ini berlaku. (Bahasa Lat. Exaudi = ‘Dengarlah’ (Mzm.27:7).

Ayat 10 dari Mazmur yang sama, ‘Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun Tuhan menyambut aku’, dapat dihubungkan dengan sabda Yesus dalam Yoh.14:18), Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu’, yaitu sesudah kebangkitan dan kenaikan-Nya.

Simbol Hari Kenaikan dan Minggu Pemuliaan adalah Mahkota (kuning mas) dan Salib (kuning gading) dengan warna dasar putih.

Warna dasar               : Putih

Lambang /Logo           : Salib dan mahkota kemuliaan

Warna mahkota          : Kuning

Warna salib                : Kuning

Arti                            : Kemuliaan yang Yesus Kristus terima dengan kenaikanNya ke surga

membuat mahkota duri yang diletakkan di kepala-Nya ketika Ia menderita

dan mati di salin berubah menjadi mahkota kemuliaan. Jadi, penderitaan

maupun kematian yang dialami para pengikut pengikut Kristus di dunia

bukanlah tanpa maksud, sebab maksud-nya adalah menerima mahkota

kemuliaan. Barang siapa yang percaya kepada-Nya dan setia sampai mati,

iapun akan mendapat-kan mahkota kehidupan itu (bnd. Filp 2:19.11;

Wahyu 2:10).

 

Simbol ini berganti pada Hari Sabtu malam menjelang Hari Pentakosta.

Published in Artikel March 31 2018

 

Paskah

 

PASKAH.

Sama seperti Jumat Agung mulai dengan malam sebelumnya (Kamis Putih), maka begitu juga hari Paskah, dimulai dengan malamnya (bnd. Kej.1:5,8,13 dst). Ada Gereja-gereja yang merayakannya semalam suntuk, antara lain dengan membaca bagian-bagian Alkitab (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) sehubungan dengan Paskah serta pelayanan Baptisan Kudus (menjelang subuh).

Paskah adalah hari Kebangkitan Yesus Kristus dari kematian, yang ditandai dengan kubur kosong. Paskah jatuh pada Hari Pertama (Arab ‘Akhad’, Ibr. Ekhad): Kej. 1:5; Mat.28:1; Mrk.16:2; Luk.24:1; Yoh.20:1). Hari Pertama adalah Hari Minggu. Kata ‘Minggu’ berasal dari bahasa Portugis (Dominggu(s) dan Latin Dominus, yang berarti ‘Tu(h)an. Karena itu Hari Minggu adalah hari Tuhan (Why.1:10).

Paskah adalah hari raya utama dalam Kekristenan karena merupakan titik tolak iman orang percaya (I Kor 15:14). Karena itu maka Hari Paskah (termasuk malamnya) hendaknya dirayakan sebagai hari peringatan Gereja yang paling meriah, dan harus dirayakan dalam kegembiraan dan sukacita.

 

Minggu Paskah dirayakan selama 7 Minggu; termasuk Hari Minggu setelah Yesus Kristus naik ke Surga.

Minggu Paskah II (Lat. Quasimodo Geniti = Sama seperti bayi-bayi yang baru lahir’ (1 Ptr.2:2).

Minggu Paskah III (Lat. Misercordias Domini = ‘Kasih Setia Tuhan’ (Mzm.89:2), dalam kombinasi dengan Mzm.33:5). Hari Minggu ini juga sering disebut Pastor Bonus (Gembala Yang Baik).

Minggu Paskah IV (Lat. Jubilate = ‘Bersorak-sorailah’ (Mzm.66:1).

Minggu Paskah V (Lat. Cantate = ‘Nyanyikanlah’ (Mzm.98:1).

Minggu Paskah VI (Lat. Rogate = ‘Mintalah’, sehubungan dengan Doa untuk tumbuh-tumbuhan pertanian (cukup relevan!), juga sehubungan dengan ‘panen rohani’ yang ditandai oleh perayaan Pentakosta nanti.

 

Simbol untuk Minggu Paskah adalah bunga lily dengan warna dasar putih.

Warna dasar : Putih

Lambang/Logo : Bunga Lily

Warna bunga Lily : Putih

Arti : Bunga lily merupakan simbol dari hari Paskah dan kekekalan. Umbi-umbian dari bunga lily haruslah ditanam dan mati dahulu di dalam tanah, baru kemudian daripadanya akan tumbuh suatu kehidupan baru. Melalui Paskah orang percaya telah menerima kehidupan baru yang diberikan lewat kematian dan penderitaan Kristus (band. Yoh 12; 34), dan kehidupan baru itu sendiri adalah kehidupan yang berkaitan dengan hidup kekal.

 

Simbol ini berganti pada Rabu malam menjelang Yesus Kristus naik ke surga.

Published in Artikel March 31 2018

PESAN PASKAH 2018

MAJELIS SINODE GPIB

 

Hidup di Era Globalisasi ciri utamanya adalah persaingan. Semakin hari persaingan semakin ketat, seru dan semakin keras. Siapa yang mampu bersaing akan bertahan dan yang tidak mampu bersaing tidak akan bertahan. Dengan demikian hokum rimba yang berlaku, sehingga dengan berbagai cara para pesaing harus dimatikan. “Budaya kematian” yang terus berkembang ini harus dihentikan.

Dengan peristiwa Paskah yang kembali kita peringati mau mengingatkan kepada kita bahwa kematian Yesus bukanlah kematian Allah (the death of God), kematian Yesus adalah kematian di dalam Allah (the death in God), artinya Allah dalam Yesus merengkuh, merangkul dan mengambil kematian kita ke dalam diri-Nya, supaya kita bisa hidup yang sesungguhnya. Yaitu hidup yang sejati, yang kekal, yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Hidup yang seperti itu dianugerahkan kepada kita supaya kita hidup untuk menghidupkan dengan cara menghentikan “budaya kematian” atau mematikan kematian itu sendiri. Inilah arti Paskah yang sesungguhnya, yaitu melalui Paskah (Kebangkitan Yesus) kematian telah dimatikan. Kematian akhirnya mati karena dikalahkan oleh kehidupan yang ditandai dengan Kebangkitan Yesus dari kematian-Nya.

Dengan tema tahun pelayanan 2018-2019: MEMBANGUN SPIRITUALITAS DAMAI YANG MENCIPTAKAN PENDAMAI” (YAKOBUS 3 : 13 – 18) kiranya warga jemaat GPIB yang telah dianugerahkan kehidupan sebagai anak-anak Allah dapat membawa damai khususnya dalam konteks pesta demokrasi 2018, dimana suhu politik meningkat, sehingga lebih mudah menimbulkan ketegangan, diantara sesama anak bangsa. Dalam semangat Paskah marilah dengan spiritualitas damai kita hadirkan damai Allah yang membawa keteduhan, yang mensejahterakan, agar pesta demokrasi 2018 dapat berlangsung dengan baik dan sukses untuk kemajuan bangsa dan Negara Republik Indonesia yang kita cintai.

Selamat Paskah 2018

Soli Deo Gloria

 

 

                           Salam Kasih,

 

              MAJELIS SINODE GPIB

Ketua Umum

: Pdt. Drs. Paulus Kariso Rumambi, M.Si

Ketua I

: Pdt. Marthen Leiwakabessy, S.Th.

Ketua II

: Pdt. Drs. Melkisedek Puimera, M.Si

Ketua III

: Pdt. Maureen Suzanne Rumeser-Thomas, M.Th.

Ketua IV

: Pen. Drs. Adrie Petrus Hendrik Nelwan

Ketua V

: Pen. Mangara Saib Oloan Pangaribuan, SE.

Sekretaris Umum

: Pdt. Jacoba Marlene Joseph, M.Th.

Sekretaris I

: Pdt. Elly Dominggas Pitoy-de Bell, S.Th.

Sekretaris II

: Pen. Sheila Aryani Salomo, SH.

Bendahara

: Pen. Ronny Hendrik Wayong, SE.

Bendahara I

: Pen. Eddy Maulana Soei Ndoen, SE.

 

 

Published in Artikel February 18 2018

minggu pra paskah

 

PRAPASKAH adalah persiapan sebelum paskah. Masa Prapaskah adalah masa dimana umat mengenang dan menghayati kembali seluruh pelayanan Yesus yang penuh tantangan dan derita, yang dimulai dari Kaisarea Filipi sampai di Yerusalem. Oleh karena itu, masa ini adalah merupakan kesempatan untuk umat berpuasa, meratap, sadar diri, menyesal  dan bertobat.

Ada yang memulainya dengan pada Septuagesima (berarti ‘yang ke-70’); bukan menunjuk pada hari ke-70 sebelum Paskah, tetapi melambangkan ke-70 bangsa di dunia atau ke-70 tahun masa pembuangan di negeri Babel (2 Taw.36:21; Yer.25:11,12). Ada juga yang memulainya dengan Sexagesima (berarti ‘yang ke-60’); Ini hanya nama saja, sama seperti ‘yang ke-70’ bukan berarti hari ke-60 sebelum Paskah. Ada juga yang memulainya dengan Quinquagesima (berarti ‘yang ke-50’), yaitu hari ke-50 sebelum Paskah, sama seperti Pentakosta (bahasa Yunani) adalah yang ke-50 sesudah Paskah, sehingga seluruh Paskah menjadi ‘100 Hari’.

Mengacu pada kesaksian Alkitab tentang masa pergumulan dan pertobatan, baik yang dialami umat Israel di padang gurun; Musa di atas gunung; Elia dalam perjalanan ke Horeb; Pertobatan orang Niniwe setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan terakhir Yesus yang berpuasa di padang gurun maka GPIB memperingati masa prapaskah selama 40 hari atau Enam Minggu. Bahasa latinnya adalah Quadragesima (berarti ‘yang ke-40’); hari ke-40 sebelum Paskah. Minggu Prapaskah dimulai dengan ‘Rabu Abu’ (hari Rabu sebelum Minggu Prapaskah VI).

RABU ABU Awal Masa 40 hari; bukan Hari Rabu sebelum Jumat Agung. Abu yang secara simbolik ditaruh di atas kepala atau dijadikan tempat tidur menunjukkan perendahan diri, intropeksi, perkabungan, pertobatan, pendekatan diri kepada Tuhan : manusia tidaklah lebih daripada debu di hadapan Allah (Kej.18:27; 2 Sam.13:19; Est.4:1,3; Ayb.2:8;42:6 Yes.58:5, Yeh. 27:30; Dan 9:3; Yun.3:6).

Oleh karena dinamakan Minggu Prapaskah maka perhitungannya adalah mulai dari Minggu Prapaskah VI dan seterusnya sampai Minggu Prapaskah I. Hal ini penting karena Jumat Agung atau peringatan Kematian Yesus Kristus terjadi dalam Minggu Prapaskah I. Jika dihitung menurut jumlah hari antara Rabu Abu dan Paskah, maka ternyata jumlah itu bukan 40, melainkan 46. Dalam hal ini, 6 Hari Minggu tidak termasuk karena hari Minggu tetap mengacu kepada Kebangkitan Kristus. Bagaikan enam oasis di padang gurun yang menjadi tempat untuk melepas lelah dan penyegaran untuk terus menjalani gurun kehidupannya, demikianlah 6 Hari Minggu dalam masa prapaskah yang menjadi tempat persinggahan umat untuk memperoleh kekuatan agar tabah melangkah menjalani masa 40 hari sampai memuncak pada Hari Paskah.

INVOCABIT Kata Latin Invocabit = ‘Bila ia berseru’ (Mzm. 91:15), sesuai dengan antifon Mazmur Pembukaan pada Hari Minggu VI Prapaskah.

REMINISCERE Reminiscere = ‘Ingatlah’ (Mzm.25:6), sesuai dengan antifon Mazmur Pembukaan pada Hari Minggu V Prapaskah.

OCULI Oculi = “Mata (ku) ‘Mzm. 25:15), sesuai dengan antifon Mazmur Pembukaan pada Hari Minggu IV Prapaskah.

LAETARE Laetare = ‘Bersukacitalah’ (Yes. 66:10), sesuai dengan antifon untuk Mazmur 122 sebagai Mazmur Pembukaan pada Hari Minggu III Prapaskah.

JUDICA Judica = ‘Berilah Keadilan’ (Mzm.43:1), sesuai dengan antifon Mazmur Pembukaan pada Hari Minggu II sebelum Paskah.

PALMARUM berarti ‘Hari Palma’ (bnd. Yoh.12:13), yaitu Hari Minggu Prapaskah I. Jika tematiknya tidak berhubungan dengan perjalanan Yesus Masuk ke Yerusalem, maka Hari Minggu ini juga dapat disebut Hari Minggu Passio (Minggu Sengsara).

Simbol Minggu Prapaskah adalah gambar Ikan (Yun. IXHTUS) dengan warna dasar ungu tua dengan tulisan ‘Yesus Kristus, Anak Allah, Juruselamat) dari kata IXHTUS = YESU KRISTU, THEOS HUIOS, SOTERIA

Warna dasar                           : Ungu Tua

Lambang/Logo                         : Ikan (ICHTUS)

Warna pinggir ikan dan huruf  : Kuning

Tulisan                                    : Yesus Kristus, Anak Allah, Juruselamat

Arti                                        : Tanda ini merupakan suatu Sandi rahasia di kalangan orang Kristen

mula-mula yang sedang mengalami penganiayaan. Pada masa penyiksaan dan penganiaayaan yang hebat itu mereka tidak bisa saling menyatakan diri sebagai pengikut Yesus. Karena itu, agar mereka tetap bersatu dan saling mengenal di antara mereka sebagai pengikut Yesus, dan terlebih tetap mengakui iman bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah dan Juruselamat maka mereka menggambar ikan di telapak tangan mereka masing-masing.

Simbol Prapaskah berganti pada malam Jumat Agung.

Page 1 of 4

facebook-icon-web

Jadwal Ibadah Minggu