OT Vozzmag - шаблон joomla Окна
  • Slide1
Published in Artikel July 28 2018

Doa Bersama Untuk Asian Games 18 Agustus -2 September 2018

di Palembang dan Jakarta

 

Pelaksanaan Asian Games tinggal hitungan hari. Pembukaan pesta olahraga Asian itu akan dilangsungkan mulai 18 Agustus hingga 2 September 2018 adalah kesempatan kedua yang dimiliki Indonesia sebagai tuan rumah. Sebelumnya pada tahun 1962, Jakarta menjadi tuan rumah Asian Games ke-4. Baru 56 tahun kemudian Indonesia mendapat kesempatan untuk menjadi tuan rumah lagi. Dari banyaknya negara anggota dan atlet-atletnya, Asian Games merupakan event olahraga multicabang terbesar nomor dua setelah Olimpiade (musim panas). Pertama kali dihelat di tahun 1951 di New Delhi, India.Dikelola oleh Asian Games Federation (AGF), sampai Asian Games ke-8 di Bangkok, Thailand (19-22 Desember 1978).

Menjadi tuan rumah merupakan kesempatan emas untuk mempromosikan Indonesia, untuk menyaksikan kepada dunia kemajuan-kemajuan yang dicapai Indonesia dalam kurun waktu 50 tahun kemudian. Asian Games yang ke delapan belas (18 Agustus -2 September 2018) di adakan di dua kota Palembang dan Jakarta. Dengan jumlah 45 negara peserta yang sudah memastikan hadir. Ada 40 cabang olahraga (Cabor) yang dipertandingkan dan diperkirakan 15.000 atlet yang akan mengikuti pertandingan. Sorotan mata internasional, minimal Negara Asia, akan tertuju kepada Jakarta dan Palembang serta kota-kota lain di Indonesia.

Menpora Imam Nahrawi bersama Menko PMK Puan Maharani, Menteri PUPR Basuki Hadumuljono, Rabu (17/7) malam ikut mendampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla pada acara Penyatuan Api Kirab Obor Asian Games 2018 di Lapangan Brahma, Candi Prambanan, Yogyakarta. Penyatuan Api obor Asian Games 2018 dari Nasional Dhyan Chand, New Delhi, India dengan api dari Mrapen, Grobogan, Jawa Tengah diharapkan Wapres bisa membakar semangat bagi atlet dan seluruh masyarakat Indonesia untuk sukseskan Asian Games pada 18 Agustus nanti. "Api bermakna semangat, serta memberi simbol semangat bangsa Indonesia dalam menggelar Asian Games 2018," kata JK. "Penyelenggaraan Asian Games ini untuk memperlihatkan kemampuan kita, baik dalam pembangunan insfrastruktur olahraga, dalam mengorganisasi, dan insyaAllah kemampuan berprestasi dalam olahraga. Tiga hal tersebut sangat penting," kata JK dalam sambutan pada acara tersebut.  

Chef de Mission atau Ketua Kontingen Indonesia untuk Asian Games 2018, Syafruddin mengingatkan pentingnya harkat dan martabat Indonesia yang dipertaruhkan pada ajang Asian Games 2018 mendatang. "Kita harus berorientasi kepada harkat dan martabat bangsa. Kita harus berjuang untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa," ujar Syafruddin di kantor Wakil Presiden RI, Jakarta, Senin (8/1/2018). Menurut Syafruddin pada ajang Asian Games tahun 1962 silam Indonesia dengan segala keterbatasannya bisa duduk di peringkat 2 dengan mengoleksi 21 emas, 26 perak dan 30 perunggu. "Maka tak ada alasan pada penyelenggaraan Asian Games pada tahun ini, Indonesia harus bisa jauh lebih berprestasi dibandingkan tahun 1962 silam," katanya.. Pada saat itu kita bisa juara dua, runner up di Asian Games ke-4 di Indonesia dengan segala keterbatasan yang ada," tegas dia. Karenanya kata Syafruddin, saat ini semua pihak harus bersatu dan berjuang agar Indonesia bisa kembali berjaya pada ajang pesta olahraga terbesar di Asia yang digelar empat tahun sekali itu. "Karena itu seluruh anak bangsa harus bersatu. Mari bekerjasama, supaya kita bisa berjuang," ungkap Syafruddin. Saat ini, pemerintah baru menargetkan 20 medali emas untuk mencapai target peringkat 10 besar dalam Asian Games ke-18.

Memperhatikan spirit yang dipaparkan di atas, menjadi pertanyaan bagi gereja, bagaimana peran atau respon gereja terkait perhelatan akbar Asian Games di mana Negara kita tercinta ini menjadi tuan rumah? Mengacu pada Pemahaman Iman GPIB alinea ke VII tentang Negara dan bangsa dikatakan bahwa, berdasarkan tuntunan Roh Kudus, warga jemaat yang adalah sekaligus warga Negara, berbangsa dan bermasyarakat. Oleh karena itu, orang percaya dan gereja wajib menghormati dan menjunjung tinggi kewargaan lahiriah yang melekat pada dirinya dengan melakukan pekerjaan baik “menurut kehendak Allah” (1 Petr 3:17).

Salah satu wujud dukungan gereja dalam hal ini adalah dengan menaikkan doa bersama menjelang dan selama penyelenggaraan Asian Games berlangsung. Persekutuan seluruh jemaat-jemaat GPIB yang berdoa merupakan dukungan agar semua persiapan menjelang hari pelaksanaan, selama proses kegiatan bahkan sampai akhir perhelatan Asian Games dapat terlaksana dengan baik, aman, tertib dan lancar. Hal itu diharapkan akan memberi citra baik bagi Negara Indonesia untuk menepis pandangan negative yang sempat tercoreng akibat tindakan teroris dan bom bunuh diri di awal bulan Juni (menjelang Ramadhan) 2018 lalu. Sebagai anak bangsa yang baik orang percaya bersama dengan masyarakat sekitar (secara khusus warga Jakarta dan Palembang) diharapkan mampu menampilkan wajah dan perilaku orang Indonesia yang biasa dikenal ramah, terbuka, ringan tangan dan hati menolong warga asing/atlet sebagai tamu yang dihormati. Itulah bentuk lain cara kita memperlihatkan rasa tanggung jawab sebagai tuan rumah yang baik. Tuan rumah yang mampu mencipatan dan member rasa nayaman kepada para tamu yang selalu dianggap seperti seorang raja dalam sebuah pepatah tua.

Himbauan untuk menjadikan perhelatan Asian Games ke 18 sebagai bagian pokok doa dalam tiap ibadah-ibadah di jemaat, perlu digiatkan dan diingatkan menjelang, pada waktu pelaksanaan sampai akhir/penutupan Asian Games. Dengan demikian doa-doa yang dinaikkan akan mengawal, memberi semangat dan membawa kesejukan bagi pemangku pelaksana Asian Games dan semua pihak-pihak terkait acara besar tersebut. Lebih dari pada itu Indonesia menjadi Negara yang memberi ruang dan kesempatan bagi Negara-negara di Asia untuk membangun relasi persaudaran yang sportif dan ramah melalui olahraga.

Published in Artikel June 02 2018

MINGGU SETELAH PENTAKOSTA (Minggu-Minggu Sesudah Pentakosta).

Hari Pentakosta yang jatuh pada hari Minggu, mengawali minggu-minggu Pentakosta yang berjumlah 26 Minggu. Minggu Trinitas adalah Minggu I sesudah Pentakosta, dst. Minggu-Minggu ini juga dikenal dengan Minggu Biasa, yang ditandai dengan warna Hijau, warna Pertumbuhan dan Kesuburan. Masa ini juga disebut masa Gereja berjuang.

Ada yang menyatakan bahwa sesudah Minggu Trinitas sudah tidak ada lagi hari raya. Sebenarnya, masih ada yaitu Hari Minggu, di mana melalui setiap hari Minggu, Gereja diingatkan tentang penyertaan Tuhan di dalam perjuangan Gereja. Yesus Kristus, Kepala Gereja, selalu beserta dengan Gereja-Nya (Allah beserta kita). Karena itu, Hari Minggu harus selalu menjadi perayaan besar, dan dirayakan dengan penuh puji-pujian dan syukur.

 

Simbol Hari Minggu sesudah Pentakosta adalah burung Merpati (putih) dengan ranting zaitun diparuhnya, perahu layar di tengah gelombang dan pelangi warna dasar Hijau.

 

Warna dasar                            : Hijau yang berarti warna pertumbuhan dan kesuburan.

Lambang/Logo                          : Burung Merpati dengan ranting zaitun diparuhnya, perahu layar ditengah gelombang dan pelangi.

Warna Burung Merpati             : Putih

Arti                                          : Perahu merupakan simbol dari Gereja.

Ide ini menjadi berarti bagi orang Kristen mula-mula yang mengalami penganiayaan dan pergumulan, ketika mereka mengetahui bahwa akan ada pertolongan dari Tuhan. Hal ini nyata lewat perpaduan antara perahu dan pelangi. Di sini janji Allah tentang pertolongan-Nya itu mendapat penekanan yang kuat. Pelangi melambangkan kesetiaan Allah atas janji-Nya untuk memelihara bumi, khusus Gereja dan orang-orang percaya.

 

Burung merpati dengan ranting zaitun di paruhnya mengungkapkan tentang janji keselamatan dan kehidupan dari Allah (bnd. Kej. 8 : 10, 11) yang akan terus menyertai sampai ke tempat tujuan. Jadi sekalipun Gereja mengalami berbagai ancaman goncangan dan cobaan, Gereja akan tetap hidup di dalam dan oleh janji Allah tersebut.

 

Simbol ini berganti pada Hari Sabtu Malam menjelang Hari Minggu I Advent.

facebook-icon-web

Jadwal Ibadah Minggu

  •    Gereja Pusat I

    :   06:30 WIB

       Gereja Pusat II

    :   09:30 WIB

       Gereja Pusat III

    :   18:00 WIB

     

       IHM Nuansa Muda

     

    :   18:00 WIB

       Minggu ke 2 dan ke 4

     

       Setiap bulan.

     

     

       Pospel Sepolwan I

     

    :   07:00 WIB

       Pospel Sepolwan II

    :   17:00 WIB

     

       Pospel Pamulang I

     
     
    :   09:00 WIB

       Pospel Pamulang II

    :   17:00 WIB

     

       Pospel Hosana

     
     
    :   06:30 WIB

       Pelkat PA

     
    :   06:30 WIB
        09:30 WIB

       Pelkat PT

    :   08:00 WIB