OT Vozzmag - шаблон joomla Окна
  • Slide1

PESAN SYUKUR KE - 69 TAHUN GPIB

Published in Artikel November 04 2017

PESAN SYUKUR KE-69 TAHUN GPIB

 

Kita bersyukur kepada Tuhan selaku kepala dan dasar gereja yang telah menghantar ziarah panjang GPIB menempuh berbagai peristiwa iman yang kita alami bersama. Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat merayakan hari ulang tahunnya yang ke 69 bertepatan dengan perayaan 500 tahun reformasi gereja yang dirayakan oleh gereja-gereja Protestan  di seluruh dunia dalam rangka melaksanakan transformasi kehidupan menggereja. GPIB adalah gereja yang multikultur di Indonesia, karena itu kesadaran ini perlu dirawat secara kritis dan terbuka dengan tetap sedia belajar dari pengalaman sejarah dan perkembangan gereja dalam masyarakat yang makin sekuler untuk menemukan serta menetapkan identitas GPIB sebagai gereja yang mewarisi semangat reformasi dengan spirit: ecclesia reformata semper reformanda est (gereja reformasi adalah gereja yang siap terus menerus memperbaharui dirinya) dalam konteks yang terus berubah bahkan cenderung unpredictable saat ini. 


Gereja (baca GPIB) lahir dari rahim masyarakat, sehingga gereja tidak mungkin abai terhadap isu-isu yang berkembang dalam konteksnya, khususnya isu keIndonesiaan yang saat ini sedang dirongrong dengan politik identitas (identitas kesukuan, agama, ras) yang semakin menguat dan cenderung dipakai menjadi alat oleh sekelompok orang untuk mencapai kepentingan politik sesaat.  Setiap komunitas dipahami memroduksi kebudayannnya, menkonstruksi, kemudian mendekonstruksinya untuk menemukan kebudayaan yang ’baru’, maka isu serius  untuk GPIB saat ini adalah kebudayaan apakah yang kita gumuli dan kembangkan saat ini dan ke depan sebagai gereja yang hidup dalam konteks ke Indonesiaan di mana radikalisme, terorisme, kemiskinan, korupsi, kekerasan (khususnya terhadap anak dan perempuan) semakin menguat?  Kita sedang hidup pada era globalisasi, di mana setiap komunitas dan pribadi saling memengaruhi dan proses itu berlangsung cepat, dengan sistem nilai yang terus berubah. Di pusaran ini, GPIB terus mengarahkan warga yang adalah unit-unit misionernya bersama para presbiter serta masyarakat membentuk spiritualitas GPIB yang ugahari, spiritualitas yang mencukupkan dirinya terhadap realitas yang dihadapinya, spiritualitas kekristenan yang hidup dalam kesederhanaan. 

 

Lembaga-lembaga keumatan termasuk di dalamnya GPIB berada di abad IPTEK yang kemajuannya tak mungkin dibendung, telah terjadi lompatan paradigma yang tak terhindarkan, di mana pola hidup di abad globalisasi ini antara lain: hedonisme, konsumerisme, radikalisme,  individualisme, dan lain sebagainya telah menyeret gereja untuk berhadapan dengan dua ’medan’ sekaligus:  dirinya sendiri dan komunitas di luar dirinya. Karena itu majelis sinode GPIB mendorong warga gereja GPIB dan jemaat-jemaat di seluruh Indonesia harus membangun budaya baru dalam arus perubahan gaya hidup (life style) tersebut, budaya hidup ugahari adalah budaya hidup yang lahir dari rahim GPIB sebagai "rumah besar" dengan 324 jemaat dan berada di 26 mupel yang tersebar di wilayah Indonesia yang multikultur. 

 

Enam puluh sembilan tahun perjalanan GPIB seyogianya menghantar kita untuk terus bertanya apa peran aktif gereja bagi kemaslahatan hidup masyarakat Indonesia. Dalam terang tema tahun 2017-2018 : "mengaryakan pelayanan dan kesaksian demi menghadirkan kebebasan, keadilan, kebenaran dan kesejahteraan bagi sesama dan alam semesta", GPIB bersama dengan seluruh anak bangsa menjadikan pelayanan dan kesaksiannya kekuatan dalam membebaskan mereka yang miskin dan tertindas, bersama dengan semua anak dari rahim Indonesia membangun semangat hidup yang adil terhadap semua. GPIB telah memulai dan sedang bekerja dengan sungguh-sungguh merekonstruksi teologi misinya melalui studi dan konsultasi teologi yang telah dan sementara berlangsung di sentra-sentra wilayah pelayanan GPIB, sebuah gerak misi yang transformatif bersama dan di dalam masyarakat. Teologi sebagai roh gereja mendorong perubahan secara sistemik dan utuh dalam konteks Indonesia. Teologi sebagai roh gereja yang direkonstruksi akan membawa perubahan pada bidang pelayanan dan kesaksian, hubungan gereja dan masyarakat serta hubungan agama2, penguatan peran keluarga, pembangunan ekonomi gereja dan informasi, komunikasi dan penelitian serta pengembangan. 


Menghadapi tantangan global, GPIB menyadari penguatan pilar keluarga sebagai basis pembinaan jemaat-jemaat perlu ditingkatkan. Keluarga-keluarga harus disiapkan sebagai garda terdepan pembinaan mental dan iman serta karakter agar tidak tergerus arus globalisasi dengan segenap dampaknya. Selain keluarga, pola pembinaan umat melalui pelayanan anak, teruna, pemuda dan katekisasi perlu terus dipikirkan model dan metodenya sehingga dapat menjadi kader-kader gereja dan bangsa yang diandalkan. Hal terpenting lainnya adalah gereja mesti hadir bukan sebaliknya memunggungi pergumulan dan penderitaan masyarakat dan  warga jemaatnya. Kehadiran gereja mewartakan misi harus ditampakkan dalam zona pergumulan masyarakat dan jemaat-jemaat, di kantor, di pabrik, di kebun, di laut, dan di jalanan. Gereja harus hadir dengan dan bersama umat menghadapi perdagangan manusia, ilegal loging, ilegal fishing, ancaman kerusakan ekologi, arus pengungsi, hak asasi manusia, diskriminasi gender, kekerasan terhadap anak dan perempuan serta pembonsaian hak-hak demokrasi umat. 


Terkait dengan kesaksian gereja bagi konteks Indonesia, nampaknya GPIB telah dan terus berupaya menjadi gereja yang bukan saja menuntut orang lain untuk bersikap terbuka, tetapi gereja perlu melihat diri dan teologi yang dibangunnya selama ini apakah memang sudah cukup terbuka untuk menerima dan menganggap orang lain sebagai sahabat yang dibutuhkan untuk perjumpaan tersebut, sebuah perjumpaan yang dirayakan. Kesadaran bahwa Misi gereja tidak akan berhasil dengan baik sebagai kesaksian tentang kemurahan dan kasih karunia Allah bila gereja tidak secara sadar membuka diri untuk memasuki tahapan selanjutnya yaitu misi sebagai perjumpaan dengan sesama ciptaan untuk saling menerima. GPIB di usianya yang ke 69 tahun mengemban misi menjadi saksi bagi kesembuhan dunia dan itu berarti gereja harus merelakan diri untuk membuka sekat yang dibangun melalui bahasa-bahasa teologis dan agama, menjadi bahasa yang lebih terbuka dan menerima yang lain. 


Selanjutnya GPIB harus mengarahkan dirinya pada misi yang berkarakter konvivial yaitu kesadaran hidup bersama dengan yang lain yang dicirikan dengan “belajar bersama, bekerja bersama, dan merayakan bersama.” maka perlu ada keberanian GPIB  untuk mendengarkan sejarah itu disampaikan oleh yang lain yang melihatnya (gereja) selama ini dalam interaksi bersama. Sejarah 69 tahun menggereja di Indonesia bukan sekadar bagaimana merumuskannya untuk kepentingan internal gereja atau kepentingan kita sendiri, melainkan dituliskan dan dirumuskan dengan membuka partisipasi dan intervensi orang lain untuk merumuskan identitas dan sejarah kita. Keterbukaan GPIB secara sinodal dan 324  jemaat di usia 69 tahun semacam ini dinantikan oleh orang lain yang juga perlu mendengar berita kesaksian kita. Hambatan misi GPIB di banyak tempat selain munculnya  kelompok-kelompok radikal yang mempolitisasi agama adalah masalah keterbatasan komunikasi yang tidak relevan dengan konteks dan kebutuhan Indonesia sebagai negara dan bangsa multikultur yang membutuhkan inisiatif dan contoh. Misi GPIB di negeri ini dilakukan bukan sekadar melalui khotbah2 yang baik, tetapi khotbah2 yang dipraktikkan dalam rumah bersama Indonesia. 

 

Merayakan ulang tahun sama dengan merayakan ziarah menuju Sang Hidup, mari terus mereformasi model misi dan teologi menyongsong perjalanan di usia yang baru. Dirgayahu GPIB, Dirgahayu Protestantisme. Terus menjadi gereja yang menjadi sahabat bagi semua dan bersama semua, agar khotbah-khotbah kita yang dipraktikkan menjadi surat-surat Kristus yang terbuka bagi sesama ciptaan. 

Salam sejahtera bagi semua.

 

MAJELIS SINODE GPIB

 

Ketua Umum               :  Pdt. Paulus Kariso Rumambi

Ketua I                         :  Pdt. Marthen Leiwakabessy

Ketua II                        :  Pdt. Melkisedek Puimera

Ketua III                       :  Pdt. Maureen Suzanne Rumeser-Thomas

Ketua IV                       :  Pen. Adrie Petrus Hendrik Nelwan

Ketua V                        :  Pen. Mangara Saib Oloan Pangaribuan

Sekretaris Umum         :  Pdt. Jacoba Marlene Joseph

SekretarisI                   :  Pdt. Elly Dominggas Pitoy-de Bell

Sekretaris II                 :  Pen. Sheila Aryani Salomo

Bendahara                 :  Pen. Ronny Hendrik Wayong                                                                        Bendahara I                 :  Pen. Eddy Maulana Soei Ndoen

 

 

Last modified on Last modified on November 04 2017

facebook-icon-web

Jadwal Ibadah Minggu

  •    Gereja Pusat I

    :   06.00 WIB

       Gereja Pusat II

    :   09.30 WIB

       Gereja Pusat III

    :   18.00 WIB

     

       IHM Nuansa Muda

     

    :   15.00 WIB

       Minggu ke 2 dan ke 4

     

       Setiap bulan.

     

     

       Pospel Sepolwan I

     

    :   07.00 WIB

       Pospel Sepolwan II

    :   17.00 WIB

     

       Pospel Pamulang I

     
     
    :   09.00 WIB

       Pospel Pamulang II

    :   17.00 WIB

     

       Pospel Hosana

     
     
    :   06.30 WIB

       Pelkat PA

     
    :   06.30 WIB
        09.30 WIB

       Pelkat PT

    :   08.00 WIB

     

     

    image6

    PEMBACAAN ALKITAB SEPEKAN

    Tanggal

    Pagi Malam
     22 Nov '17 Neh 9 : 16-27 Neh 9 : 28-31
     23 Nov '17 Neh 9 : 32-37

    Neh 9 : 38, 10 : 27

     24 Nov '17 Neh 13 : 1-9 Neh 13 : 10-14
     25 Nov '17 Neh 13 : 15-22 Neh 13 : 23-31
     26 Nov '17 Im 10 : 1-7 Im 10 : 8-11
     27 Nov '17

    Im 10 : 12-15

    Im 10 : 16-20