OT Vozzmag - шаблон joomla Окна
  • Pesparawi-2016
  • Jemaat Ibadah Penahbisan
  • Penahbisan Pdt. John Haba
  • Ibadah Penahbisan
  • Phmj
  • Slide1
Published in Pembinaan July 22 2017
Rate this item
(3 votes)

 

MENATAP SISI BURUK SESAMA!

Pdt. Ch.S.L Tarukla’bi

 

Ada orang yang selalu menatap sisi buruk sesama yang berada di sekitarnya. Akibatnya ia terus-menerus mengomeli orang-orang yang dianggapnya tidak becus! Mengapa demikian?

Hans Christian Andersen menceriterakan bahwa suatu hari setan sangat puas karena ia baru berhasil membuat sebuah cermin yang mampu mengubah segala sesuatu yang baik dan indah menjadi jahat dan begitu buruk! Setan pun bermaksud pergi ke Sorga untuk mengolok-olok dan mengejek para malaikat dan Allah dengan cermin hasil karyanya itu.

Ia pun terbang menuju Sorga dan ketika semakin dekat Sorga, setan itu tersenyum gembira memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Ketika ia sedang tersenyum, ia melihat ke cermin itu dan betapa terkejutnya setan itu melihat betapa buruknya dirinya itu!

Karena terkejut, maka tanpa sengaja cermin itu terlepas dan jatuh ke bumi, hancur bagaikan pasir halus. Angin meniup pasir cermin itu ke seluruh dunia, dan jika pasir itu masuk ke dalam mata seseorang, maka orang itu hanya dapat menatap sisi buruk dari orang-orang di sekitarnya!

Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari ceritera Andersen itu? Tentu saja, menatap sisi buruk dan jahat sesama akan menimbulkan rasa tidak senang, kemarahan dan kebencian! Ketidaksenangan, kemarahan dan kebencian akan membuat manusia tidak dapat berjalan bersama! Jika kebersamaan hendak dipaksakan untuk diteruskan, maka itu akan menciptakan suatu kondisi bagaikan “api dalam sekam” dan menghadirkan persekutuan semu!

Yesus mengajarkan agar kita saling mengasihi dengan sungguh-sungguh, karena hanya kasih yang dapat merekatkan suatu persekutuan menjadi indah dan mengagumkan!

Rasul Paulus mengatakan bahwa aku dapat melakukan apa pun yang baik dan hebat “… tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing … tidak berguna …!”

1 Korintus 13 : 1-7

 

Published in Artikel July 15 2017

PESAN MAJELIS SINODE GPIB

DALAM RANGKA HARI ULANG TAHUN KE 36 PELKAT PKB GPIB

 

Keadaan sosial politik bangsa kita saat ini, merupakan tantangan bagi kaum bapak untuk membawa dan menjadi berkat, bukan hanya di dalam tembok gereja. Pelayanan kaum bapak sesungguhnya adalah di tengah tengah masyarakat, di luar tembok tembok GPIB. Kaum bapak harus menjadi saluran berkat bagi lingkungan sekitarnya.

Hal ini juga sejalan dengan tema pelayanan GPIB tahun 2017 yang disarikan dari
Lukas 4:18-19. Karena Roh Tuhan ada pada kita dan telah mengurapi kita untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, membebaskan yang tertindas, menghadirkan damai sejahtera di manapun kita berada.

Pada Momen ulang tahun PKB yang ke-36 ini, kita terus mengintensifkan persekutuan dalam ibadah-ibadah PKB, menjadikan Persekutuan Kaum Bapak sebagai tempat mengembangkan potensi diri sehingga dapat menghadirkan Damai Sejahtera di keluarga yang kemudian menjadi berkat di tengah masyarakat.

Kaum Bapak dapat menjadi teladan dengan memberikan diri dalam pelayanan di gereja, baik terpilih sebagai Presbiter maupun terpilih sebagai pengurus Pelkat PKB dan tetap setia melayani Tuhan dalam status apapun, karena masih banyak bentuk pelayanan sebagai bakti kita kepada Tuhan.
“Ya, dengan segenap hati ku“
.

Pada kesempatan ini kami mengajak kita semua mempersiapkan diri untuk menjadikan acara Temu Karya PKB tahun 2018 di Makasar, sebagai ajang mengembangkan potensi diri untuk hormat dan kemuliaan Tuhan.

Kami juga mengundang Kaum Bapak turut serta dalam pembinaan spiritual pada kegiatan Retreat PKB Sinodal yang akan diselenggarakan pada bulan September 2017. Mohon dukungan doa untuk Kedua acara PKB secara Sinodal agar dapat terlaksana dengan baik untuk Kemuliaan nama Tuhan.

Akhirnya, selaku warga gereja dan sebagai elemen bangsa, kita perlu merawat kebhinekaan dalam bingkai persatuan NKRI, meredam radikalisme dan fanatisme berlebihan, melawan segala praktek kekerasan, mengentaskan kemiskinan dan menghadirkan keadilan. Kaum bapak harus menjadi saluran berkat bagi lingkungan sekitarnya. Sudah saatnya kita menumbuhkan budaya solider dan toleran di tengah-tengah keberagaman masyarakat Indonesia, menyatukan potensi bangsa untuk menjadikan Indonesia bersatu dan bermartabat.

Mari membangun jaringan dengan semua elemen masyarakat yang ada di sekitar kita, mengklarifikasi guna meredam berita-berita bohong atau provokatif, dan mari kita dengan ringan membantu mengusahakan kesejahteraan lingkungan di manapun kita berada seperti perintah Tuhan kepada umat-Nya di Yeremia 29:7.

Terus berdoa agar Tuhan menuntun dalam Roh-Nya yang Kudus kepada para pemimpin bangsa dan juga kepada kita agar beroleh hikmat dalam menyikapi berbagai persoalan bangsa. Terus maju, terus melayani, tetap tangguh namun juga tetap luwes dalam kehidupan persekutuan, keluarga dan masyarakat.

Dirgahayu PKB !!

Yell PKB: PKB !!! Maju Terus. !!! Pelayanan !!! Tangguh dan Luwes !!!

 

 

MAJELIS SINODE GPIB

Pdt. Maureen S. Rumeser-Thomas,M.Th. ̶ Ketua III

Pdt. J. Marlene Joseph, M.Th. ̶̶ Sekretaris Umum

UNIT MISIONER MAJELIS SINODE GPIB 2015-2020 DEWAN PKB

Michael Roring, Bambang R. Widjaja, Victori Saetakela, Erino Theopani, Michael Kirangen,

Ronny Pangemanan, Markus Hallatu, Elizar P. Hasibuan, Plip W. Polatu.

Published in Pembinaan July 15 2017

RENDAH HATI

Pdt. Ch.S.L Tarukla’bi

Barang siapa telah memutuskan untuk menjadi Kristen apa lagi yang sudah cukup lama pasti dia telah berkomitmen untuk hidup seperti yang diajarkan Tuhannya. Salah satu ajaran itu ialah “rendah hati”. Yang mendasari ajaran ini adalah : “Dan barang siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Matius 23 : 12). Dihadapkan dengan ajaran ini sepintas kita dapat mengerti seolah-olah kita berada di persimpangan jalan di mana kita harus memilih ke mana kita akan pergi. Maksudnya adalah bahwa kerendahan hati itu soal pilihan pribadi. Pertanyaannya ialah apakah kita rendah hati? Kalau ya, itu karena kita memutuskan untuk merendahkan diri, itu pilihan kita. Apakah kita tinggi hati? Kalau ya, karena itu kita memutuskan untuk tidak merendahkan diri, itu juga pilihan kita. Setiap orang memang diberi kebebasan untuk memilih. Namun sebuah kenyataan Alkitab mengajarkan “rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain”, sebab : “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati”.

Bagi orang percaya rendah hati harus dicapai. Menurut Peter Wagner Kerendahan Hati mempunyai dua dimensi. Satu adalah kerendahan hati kita dihadapan Tuhan, dan yang satu lagi adalah kerendahan hati kita dengan orang lain. Dengan bahasa yang singkat dia menyebutnya, "Kerendahan hati vertical" dan "Kerendahan hati horizontal". Kedua-duanya tidak bisa dipisahkan. Kerendahan hati kita dihadapan Tuhan adalah dasar yang tak tergantikan bagi kerendahan hati kita dalam hubungan terhadap sesama. Kerendahan hati vertical bagi kerendahan hati horizontal sama dengan iman bagi perbuatan. kita tidak memperoleh iman dengan melakukan perbuatan baik, tetapi tidak ada yang disebut iman yang murni yang tidak menghasilkan perbuatan yang baik. Jadi intinya, satu-satunya bukti yang dapat diukur bahwa kita mempunyai iman yang sejati adalah perilaku kita. Oleh karena itu Yakobus menulis: "Demikianlah juga halnya dengan iman; jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati" (Yak. 2:17). Ada yang disebut sebagai iman yang mati. Tetapi apa yang membuat iman yang mati itu menjadi hidup? Jawabnya adalah perbuatan!

Published in Pembinaan July 01 2017

PERJAMUAN KUDUS

         Untuk memahami Perjamuan Kudus, terlebih dahulu kita melihat kepada Perjamuan Malam yang diadakan oleh Tuhan Yesus dengan murid-murid-Nya pada malam sebelum Tuhan Yesus ditangkap untuk disalibkan. Perjamuan malam itu diadakan sehubungan dengan perjamuan Paskah yang biasa dilakukan oleh orang-orang Yahudi memperingati keluarnya Israel dari Mesir (Kel 12 : 1-13). Ketika Tuhan Yesus merayakan perjamuan Paskah untuk terakhir kalinya, Ia mengambil roti, Ia mengucap berkat, Ia memecah-mecahkannya, dan memberikan kepada murid-murid-Nya sambil berkata: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan karena kamu, perbuatlah demikian menjadi peringatan akan Daku, dan pada akhir perjamuan, ketika diedarkan-Nya cawan berisi air anggur, Ia berkata: Cawan minuman ini adalah perjanjian baru di dalam darah-Ku (1 Kor 11 : 24-25). Dan Tuhan Yesus minta agar murid-murid-Nya tiap-tiap kali merayakan Perjamuan itu mulai saat ditetapkan sampai kedatangan-Nya kembali. Dengan cara yang ditetapkan oleh Yesus inilah, Gereja lalu merayakan perjamuan seperti yang ditetapkan oleh Tuhan Yesus.

          Sebagaimana Baptisan Kudus, Perjamuan Kudus adalah perjamuan yang terhisab pada perjanjian yang didirikan Allah dengan umat-Nya di bukit Golgota. Di bukit Golgota, Anak Domba Paskah telah dikorbankan untuk keselamatan manusia, dan pengorbanan-Nya adalah satu kali untuk selama-lamanya.

           Apakah arti roti dan anggur yang dipakai sebagai tanda pada perjamuan kudus itu? Roti dan anggur dipergunakan pada perjamuan kudus adalah roti dan anggur yang biasa. Tetapi sama seperti Baptisan Kudus, maka dengan perantaraan roti dan anggur itu, sakramen Perjamuan Kudus merupakan firman yang kelihatan. Roti yang dipecah-pecahkan melambangkan tubuh Kristus yang dipecah-pecahkan atau pun binasa untuk pengampunan dosa kita manusia, dan cawan anggur yang dipergunakan dalam perjamuan menunjukkan dua arti yaitu : sebagai ucapan syukur, untuk merayakan kebebasan yang diperoleh, dan anggur melambangkan darah Kristus yang dicurahkan demi pengampunan dosa. Melalui curahan darah Kristus terjadi pengudusan dan penyelamatan atas banyak orang.

Berkat-berkat apakah yang kita peroleh melalui Perjamuan Kudus itu? 

  1. Kita mengalami persekutuan dengan Kristus, serentak melakukan diakonia Kristus. Perayaan Perjamuan adalah sesuatu yang hdup, kita hadir, kita mengambil, kita memakan, berarti kita adalah bahagian di dalam keselamatan. Lewat perjamuan, kita diingatkan betapa mahal dan berharganya pengorbanan Yesus menjadi penebusan kita. Sekalipun Perjamuan Kudus itu memperingati kematian Kristus namun itu bukanlah perjamuan duka, bukanlah perkabungan, tetapi perjamuan pengucapan syukur karena kebangkitan-Nya merupakan kemenangan Kristus atas maut yang mendatangkan keselamatan bagi orang percaya/beriman.
  2. Kita mengalami dalam Perjamuan Kudus penyelamatan Allah dalam Kristus dengan orang-orang percaya, perjamuan tersebut dinamakan Perjamuan Persekutuan. Kematian dan kebangkitan Kristus memulihkan hubungan persekutuan manusia dengan Allah, tetapi sekaligus juga memulihkan hubungan persekutuan manusia dengan sesama. Sama seperti kita makan roti dari yang satu dan minum dari cawan yang satu, demikian juga Perjamuan Kudus menyatakan bahwa kita telah bersekutu dan dipersatukan di dalam Kristus. Persekutuan dengan Kristus diwujudkan dalam persekutuan tiap orang dengan Jemaat (kehidupan Jemaat yang mula-mula). Pada meja perjamuan tidak ada perbedaan /warna kulit, kedudukan, bahasa dan lain sebagainya, ada keadilan, kasih dan kerukunan.
  3. Perjamuan Kudus menunjuk ke depan, ke Perjamuan Agung yang disediakan, penyempurnaan kehidupan kekal, yang nantinya terjadi. Tuhan Yesus berkata : Mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku (Mat 26:29). Perjamuan Kudus adalah perjamuan pengharapan kegembiraan Kerajaan Allah dimulai di dunia ini, dan sedang menuju kesempurnaannya yang segera datang.

Bagaimana kita mempersiapkan diri untuk merayakan Perjamuan Kudus?

        

Dengan menyadari bahwa dalam Perjamuan Kudus kita hendak bersekutu dengan Tuhan sendiri, dan yang mengundang kita untuk turut serta dalam Perjamuan Kudus itu ialah Yesus Kristus sendiri, maka sudah selayaknya kita harus mempersiapkan diri untuk merayakan Perjamuan Kudus itu. Persiapan diri yang dimaksudkan bukanlah persiapan lahiriah, melainkan kesadaran diri bahwa sebenarnya kita adalah orang-orang berdosa, yang tidak layak, tetapi yang dikasihi oleh Tuhan.

          Kesadaran yang mendorong kepada pertobatan dan pembaharuan hidup, penyesalan dan rendah hati di hadapan Tuhan, serta kesediaan untuk berbuat dan menuruti perintah-perintah Tuhan. Dengan demikian perayaan Perjamuan Kudus menjadi suatu perayaan dan pesta sukacita dan pesta iman.

(Diambil dari Bahan Pelajaran Katekisasi Buku – I)

Published in Pembinaan June 24 2017

MENJUMPAI YESUS di TEMPAT TERPENCIL

(Menggugah semangat ber-Pelkes)

Pdt. Ch. S. L. Tarukla’bi

Suru Engkaduk dan Suru Tembawang, dusun terpencil dipedalaman Kalimatan Barat, jarak tempuh seharian dari perbatasan Entikong Indonesia dan Serawak Kucing Malaysia. Tidak ada kendaraan umum menjangkau dusun ini. Tidak ada motor dan juga tidak ada sepeda. Masyarakatnya berjalan kaki dan menggunakan getek (ketinting) jika berpergian. Tidak ada listrik, tidak mengenal toilet dan tidak ada air bersih. Tetapi GPIB ada disana. GPIB hadir untuk melayani umat Tuhan yang ada disana. Tidak terpikirkan bahwa mereka dapat dijangkau karena begitu terasing, tetapi Tuhan menghadirkan GPIB di tempat itu.

Suruk Engkaduk dan Suruk Tembawang hanyalah dua dusun dari sekian banyak tempat terpencil yang dilupakan dan sulit dijangkau yang harus dilayani oleh GPIB. Ada begitu banyak pos-pos pelayanan GPIB. Jika kita warga jemaat GPIB, apakah kita tahu bahwa Tuhan merindukan kita hadir diantara mereka yang hampir terlupakan itu? Bukan hanya bantuan kita berupa uang, tetapi keberadaan kita untuk menunjukkan kepedulian dengan menyapa mereka secara nyata. Jika kita warga jemaat GPIB dan telah menghayati sungguh kehadiran kita sebagai milik Kristus, sudahkah kita menjumpai saudara-saudara kita yang ada jauh disana, karena itu berarti menjumpai Tuhan disana, diantara mereka? Jika kita hadir disana dan bermakna bagi mereka, itu berarti kita berbuat bagi Tuhan.

Penghayatan keagamaan kita tentang kehadiran Tuhan dan dimana Tuhan dapat kita jumpai sangat dangkal. Kita yang berada di kota besar dengan fasilitas yang ada, menghayati bahwa menjumpai Tuhan di gedung-gedung gereja yang mewah, di hall-hall yang besar, dan di hotel-hotel berbintang. Dalam penghayatan yang demikian, kita telah mengkristalkan Tuhan dan menjadikan-Nya “sesuatu” yang indah dan megah. Menempatkan Tuhan pada posisi tertinggi padahal Tuhan sendiri meninggalkan tahta-Nya untuk ada di antara manusia.

Tuhan Yesus mengajak gereja-Nya untuk keluar menjangkau sebanyak mungkin orang agar mereka mendengar dan mengalami secara nyata kasih-Nya. Mereka yang di kota-kota besar terlebih yang berada di pelosok. Ada tanggung jawab iman sebagai gereja Tuhan yang diberkati untuk mengalirkan berkat itu kepada mereka yang jauh dari kita. Demikian ketika Tuhan Yesus berkata “pergilah, jadikan semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Ku perintahkan kepadamu (Matius 28 : 19-20a).

Kalau gereja-Nya menunjukkan kepedulian dan perhatian dalam tindakkan yang nyata, maka gereja-Nya telah mengaplikasikan apa yang Tuhan Yesus kehendaki. Dengan demikian gereja akan berjumpa Tuhan Yesus sampai di tempat-tempat terpencil.

Alangkah indahnya jika GPIB jemaat “Karunia” Ciputat menjadi bagian dari arak-arakan gereja yang rajin ber-Pelkes, karena akan semakin nyata perjumpaan dengan Tuhan Yesus di anatara yang dikasihi-Nya.

Page 2 of 4

facebook-icon-web

Jadwal Ibadah Minggu

  •    Gereja Pusat I

    :   06.00 WIB

       Gereja Pusat II

    :   09.30 WIB

       Gereja Pusat III

    :   18.00 WIB

     

       IHM Nuansa Muda

     

    :   15.00 WIB

       Minggu ke 2 dan ke 4

     

       Setiap bulan.

     

     

       Pospel Sepolwan I

     

    :   07.00 WIB

       Pospel Sepolwan II

    :   17.00 WIB

     

       Pospel Pamulang I

     
     
    :   09.00 WIB

       Pospel Pamulang II

    :   17.00 WIB

     

       Pospel Hosana

     
     
    :   06.30 WIB

       Pelkat PA

     
    :   06.30 WIB
        09.30 WIB

       Pelkat PT

    :   08.00 WIB

     

     

    image6

    PEMBACAAN ALKITAB SEPEKAN

    Tanggal

    Pagi Malam
     17 Okt '17 Mzm 102 : 24-29 Mzm 103 : 1-5
     18 Okt '17 Mzm 103 : 6-18

    Mzm 103 : 15-22

     19 Okt '17 Mzm 104 : 1-18 Mzm 104 : 19-24
     20 Okt '17 Mzm 104 : 25-30 Mzm 104 : 31-35
     21 Okt '17 Mzm 108 : 1-10 Mzm 108 : 11-14
     22 Okt '17

    1 Taw 6 : 31-47

    1 Taw 6 : 48-53