OT Vozzmag - шаблон joomla Окна
  • Slide1
  • Kalender GPIB Karunia 2019
  • PPLP_3R
  • Workshop PKP

MINGGU KE XXV SESUDAH PENTAKOSTA

KAMIS, 15 NOVEMBER 2018

Renungan Pagi

KJ.429 : 1 "Masih Banyak Orang Berjalan"- Berdoa

 

SALING MERAWAT DAN MEMPERHATIKAN

Efesus 5 : 22 - 30

“...tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat" (ay. 29)

 

Aristoteles menyebut manusia sebagai zoon politicon atau makhluk sosial yakni manusia yang bermasyarakat. Hal yang hampir mirip dikemukakan oleh Adam Smith dengan menyebut manusia homo homini socious yang berarti manusia sahabat bagi manusia lainnya. Sementara itu, pendapat umum mengemukakan bahwa sebagai makhluk sosial manusia tidak dapat hidup sendiri. la membutuhkan manusia lainnya, bahkan bergantung padanya serta membangun hubungan timbal balik di dalamnya.

Bacaan firman TUHAN saat ini mengemukakan tentang hubungan antar manusia, antar suami istri yang dibangun dalam kesadaran pada hubungan antara Kristus dengan jemaat-Nya yang berlandaskan kasih: “Sebab tidak pernah orang membenci tubuh-nya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya” (ay.29-30)

Hal ini hendak menegaskan bahwa sebagaimana hubungan yang terjalin antara Kristus dengan jemaat-Nya yang penuh cinta kasih, maka demikian adanya hubungan sebuah keluarga Kristen, antara suami-istri, orang tua dan anak-anak, bahkan sebagai sebuah keluarga dan jemaat hendaklah membangun hubungan yang berlandaskan kasih.

Kasih yang ditunjukkan melalui sebuah perbuatan nyata, yakni dengan saling memperhatikan, merawat dan memelihara agar hubungan yang terjalin dapat terus berlangsung serta membuahkan sukacita dan damai sejahtera TUHAN kedalam kehidupan bersama ditengah keluarga, jemaat dan masyarakat. Hal ini wujud perbuatan baik yang akan meminimalisir, bahkan menghilangkan sekat-sekat dan berbagai halangan di dalam membangun hubungan sebuah jemaat dan keluarga Kristen.

 

KJ. 429 1 2

Doa : (TUHAN, mampukan kami membangun hubungan suami dan istri dengan saling merawat dan memperhatikan)

RJMW/jm

MINGGU KE XXV SESUDAH PENTAKOSTA

RABU, 14 NOVEMBER 2018

Renungan Malam

KJ.363 : 1 "Bagi Yesus Kuserahkan"- Berdoa

KEMURAHAN HATI

2 Korintus 9 : 6 - 15

“kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami" (ay.11)

 

Seberapa sungguh dan besar rasa syukur kita kepada TUHAN? Rasa syukur dalam menjalani hari-hari yang TUHAN berikan untuk kita tapaki dari waktu ke waktu yang di dalamnya kekuatan, kesehatan dan kebutuhan-kebutuhan hidup dipenuhi oleh-Nya. Bisa jadi kita tidak pernah mengukur seberapa sungguh dan seberapa besar rasa syukur kita. Bisa jadi kita beranggapan bahwa tidak penting untuk mengevaluasi kesungguhan diri kita dalam hal bersyukur.

Bacaan firman TUHAN saat ini mengemukakan tentang hal memberi dengan sukacita dan dengan rasa syukur yang dilandasi oleh kemurahan hati: ”kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, . . . ”Kalimat “kemurahan hati" hendak menjelaskan sesuatu yang wajib dimiliki oleh setiap orang percaya dalam hal memberi, sehingga pemberian tersebut akan membuahkan rasa syukur dan terhindar dari keberatan-keberatan hati.

Apa itu “kemurahan hati"? Kemurahan hati (Yun. haplotes) adalah perbuatan baik yang nyata. Artinya, suatu perbuatan baik yang bukan sebatas diucapkan, tetapi terlihat dan dapat dirasakan secara nyata melalui sebuah perbuatan dan tindakan. Dalam perikop ini lebih ditujukan kepada perbuatan baik yang nyata dalam hal memberi.

Bagaimana memiliki “kemurahan hati”? Firman TUHAN menjelaskan bahwa kemurahan hati itu akan kita miliki jika TUHAN menganugerahkannya kepada kita sebagai suatu kekayaan dan melekat dalam sikap hidup orang beriman yang akan membangkitkan syukur kepada TUHAN. Oleh sebab itu, jika hari ini dalam hal memberi masih terdapat keberatan-keberatan hati, itu berarti bahwa kita belum sungguh-sungguh bersyukur. Supaya kita sungguh bersyukur dalam hal memberi, maka mulailah memohon kepada TUHAN untuk memiliki apa yang dituliskan rasul Paulus “Kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati. ”

 

KJ. 363 : 2 "Bagi Yesus Kuserahkan"

Doa : (TUHAN, berikanlah kami kemurahan hati)

RJMW/jm

MINGGU KE XXV SESUDAH PENTAKOSTA

RABU, 14 NOVEMBER 2018

Renungan Pagi

KJ.432 : 1 "Jika Padaku Ditanyakan"- Berdoa

 

SIKAP DIRI DALAM HAL MEMBERI

2 Korintus 9: 1 - 5

"Aku telah tahu kerelaan hatimu tentang mana aku megahkan kamu kepada orang-orang

Makedonia. Kataku: “Akhaya sudah siap sedia sejak tahun yang lampau." Dan kegiatanmu telah

menjadi perangsang bagi banyak orang." (ay.2)

 

Bagaimanakah sikap diri saudara saat hendak memberikan persembahan di Gereja? Atau bagaimanakah sikap diri saudara saat memberikan sumbangan kepada sekelompok pemuda yang tergabung dalam Panitia 17 Agustusan? Atau bagaimanakah sikap diri saudara saat memberikan recehan kepada seorang peminta-minta? Pasti akan berbeda sikap diri saudara, mungkin ada yang memberi persembahan ke Gereja dengan sukacita, tetapi saat memberi kepada sekelompok Panitia 17Agustusan dengan ragu-ragu atau ada yang dengan sikap acuh dan tak acuh saat memberikan recehan kepada seorang peminta-minta.

Bacaan Firman TUHAN saat ini mengemukakan tentang sikap diri dalam memberikan persembahan yang dikumpulkan untuk jemaat yang miskin di Yerusalem: “Aku telah tahu kerelaan hatimu tentang mana aku megahkan kamu kepada orang-orang Makedonia...”(ay.2). Kerelaan hati adalah sikap diri yang sudah semestinya terbentuk dalam hati setiap orang percaya, sehingga kepada siapapun ia memberikan persembahan, sumbangan ataupun bantuan semua di dasarkan pada kerelaan hati, artinya bersedia memberi tanpa ada keberatan-keberatan hati.

Jika kita memberi dengan rela hati, maka pemberian itu akan menjadi berkat bagi mereka yang menerima dan bagi kita yang memberi. Kita memberi dengan sukacita, maka mereka yang menerima akan lebih bersukacita, karena mereka mengetahui kerelaan dan ketulusan hati kita. Namun, jika kita memberi dengan bersungut-sungut, maka pemberian kita tidak akan pernah berbuah berkat dalam kehidupan kita. Itulah sebabnya Rasul Paulus menegaskan: "Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hati nya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (9:7). Menjalani seiuruh aktifitas di hari ini, maka milikilah sikap diri yang rela hati dan berilah dengan sukacita.

 

KJ.432 : 2 "Jika Padaku Ditanyakan"

Doa : (TUHAN, ajarkan aku untuk mau memberi dengan hati yang rela)

RJMW/jm

MINGGU XXV SESUDAH PENTAKOSTA

SELASA, 13 NOVEMBER 2018

Renungan Pagi

KJ.288 : 1 "Mari, Puji Raja Sorga"– Berdoa

PERSEMBAHAN YANG BERKENAN

2 Korintus 8 : 8 - 15

“...jlka kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu" (ay.12)

 

Sebagai orang yang bersyukur atas keselamatan, penyertaan dan pemeliharaan TUHAN dalam seluruh kehidupan saat ini, maka saudara dan saya hadir dalam setiap ibadah yang dijadwalkan oleh Gereja. Salah satu bentuk syukur kita di dalam ibadah tersebut adalah memberikan persembahan syukur. Sekalipun demikian, tahukah saudara bahwa persembahan syukur saudara itu bisa saja berkenan, tetapi bisa juga tidak berkenan di hadapan TUHAN.

Bacaan firman TUHAN saat ini mengemukakan tentang pelayanan kasih yang memiliki latarbelakang tentang pengumpulan uang untuk membantu pelayanan orang-orang kudus. Rasul Paulus menjelaskan secara jelas dan rengkap dari sikap hati dan diri dalam memberikan bantuan melalui pengumpulan uang tersebut. Penjelasan Rasul Paulus dimaksudkan agar jemaat di Korintus memiliki pemahaman yang tepat dalam hal memberi.

Salah satu penjelasan Paulus dalam hal memberi: berdasarkan apa yang ada pada kita, bukan yang tidak ada. Artinya, ketika kita memberikan persembahan syukur, maka pemberian kita dalam bentuk apapun itu, seharusnya diberikan dengan hati yang rela dan barsyukur, serta pemberian tersebut tidak mengurangi rasa sukacita kita (band. Kis.9:7). Hal ini penting karena ternyata pemberian yang kita berikan kepada TUHAN melalui gereja-Nya, tidak lepas dari pengamatan dan penilaian TUHAN: “...jika kamu rela untuk mernberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu”(ay. 12).

Satu pesan yang baik, mari berikan persembahan syukur dengan hati yang rela dan dengan hati yang berlimpah syukur sesuai berkat dan kemampuan yang TUHAN karuniakan kepada kita agar persembahan dan pemberian kita berkenan di hadapan TUHAN.

 

KJ. 288 : 2 "Mari, Puji Raja Sorga"

Doa : (TUHAN, terimalah persembahan syukur kami)

RJMW/jm

 

MINGGU KE XXV SESUDAH PENTAKOSTA

SELASA, 13 NOVEMBER 2018

Renungan Pagi

KJ.439 : 1 "Bila Topan K'ras Melanda Hidupmu"- Berdoa

 

MENJADI BERKAT Dl TENGAH PENDERITAAN

2 Korintus 8 : 1-7

“Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan

meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan" (ay. 2)

 

Pada umumnya ketika seseorang berada dalam pergumulan dan menderita, maka perhatian orang tersebut akan terserap habis dalam menghadapi dan mencari jalan keluar dari pergumulan dan penderitaan tersebut. ltulah sebabnya sering terdengar lontaran ucapan-ucapan: “Kami saja sedang susah, bagaimana mungkin kami bisa membantu...", “Maaf, untuk sementara kami tidak bisa ikut kegiatan gereja karena ada masalah di rumah...” dan masih banyak lagi ucapan lainnya yang menandakan betapa berat pergumulan yang dihadapi. Sangat manusiawi.

Bacaan firman TUHAN saat ini tentang sebuah sikap hidup jemaat-jemaat di Makedonia yang sekalipun berada dalam penderitaan, namun masih bersedia memberi diri mengambil bagian dalam pelayanan dan menjadi berkat dalam pelayanan tersebut: “Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan” (ay.2).

Hal apa yang melatarbelakangi jemaat-jemaat di Makedonia mampu menjadi berkat sekalipun mereka berada dalam penderitaan berat? Mari perhatikan kalimat: ”Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap...” Kata "sukacita meluap" hendak menjelaskan sikap hidup mereka yang senantiasa bersyukur sekalipun diperhadapkan dengan penderitaan. Sikap hidup jemaat yang senantiasa bersyukur tersebut semakin diperjelas didalam kalimat selanjutnya, sekaligus sebagai kalimat penjelas sikap situasi dan kondisi jemaat: "...dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. Mereka miskin, namun kaya dalam kemurahan (Liberality = kemurahan hati).

Hari ini saudara diajak menyikapi segala penderitaan dengan tetap bersukacita, bersyukur dan tetap memiliki kemurahan hati. Hal ini dimaksudkan agar sekalipun saudara berada di tengah berbagai penderitaan, saudara tetap menjadi berkat bagi pelayanan gereja TUHAN, bagi sesama dan bagi para pelayan TUHAN.

 

KJ.439 : 4 "Bila Topan K'ras Melanda Hidupmu"

Doa : (TUHAN, kami bersedia menjadi berkat didalam segala situasi)

RJMW/jm

Page 2 of 34

facebook-icon-web

Jadwal Ibadah Minggu

  •    Gereja Pusat I

    :   06:30 WIB

       Gereja Pusat II

    :   09:30 WIB

       Gereja Pusat III

    :   18:00 WIB

     

       IHM Nuansa Muda

     

    :   18:00 WIB

       Minggu ke 2 dan ke 4

     

       Setiap bulan.

     

     

       Pospel Sepolwan I

     

    :   07:00 WIB

       Pospel Sepolwan II

    :   17:00 WIB

     

       Pospel Pamulang I

     
     
    :   09:00 WIB

       Pospel Pamulang II

    :   17:00 WIB

     

       Pospel Hosana

     
     
    :   06:30 WIB

       Pelkat PA

     
    :   06:30 WIB
        09:30 WIB

       Pelkat PT

    :   08:00 WIB