OT Vozzmag - шаблон joomla Окна
  • Slide1
Published in Artikel March 31 2018

PESAN PASKAH 2018

MAJELIS SINODE GPIB

 

Hidup di Era Globalisasi ciri utamanya adalah persaingan. Semakin hari persaingan semakin ketat, seru dan semakin keras. Siapa yang mampu bersaing akan bertahan dan yang tidak mampu bersaing tidak akan bertahan. Dengan demikian hokum rimba yang berlaku, sehingga dengan berbagai cara para pesaing harus dimatikan. “Budaya kematian” yang terus berkembang ini harus dihentikan.

Dengan peristiwa Paskah yang kembali kita peringati mau mengingatkan kepada kita bahwa kematian Yesus bukanlah kematian Allah (the death of God), kematian Yesus adalah kematian di dalam Allah (the death in God), artinya Allah dalam Yesus merengkuh, merangkul dan mengambil kematian kita ke dalam diri-Nya, supaya kita bisa hidup yang sesungguhnya. Yaitu hidup yang sejati, yang kekal, yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Hidup yang seperti itu dianugerahkan kepada kita supaya kita hidup untuk menghidupkan dengan cara menghentikan “budaya kematian” atau mematikan kematian itu sendiri. Inilah arti Paskah yang sesungguhnya, yaitu melalui Paskah (Kebangkitan Yesus) kematian telah dimatikan. Kematian akhirnya mati karena dikalahkan oleh kehidupan yang ditandai dengan Kebangkitan Yesus dari kematian-Nya.

Dengan tema tahun pelayanan 2018-2019: MEMBANGUN SPIRITUALITAS DAMAI YANG MENCIPTAKAN PENDAMAI” (YAKOBUS 3 : 13 – 18) kiranya warga jemaat GPIB yang telah dianugerahkan kehidupan sebagai anak-anak Allah dapat membawa damai khususnya dalam konteks pesta demokrasi 2018, dimana suhu politik meningkat, sehingga lebih mudah menimbulkan ketegangan, diantara sesama anak bangsa. Dalam semangat Paskah marilah dengan spiritualitas damai kita hadirkan damai Allah yang membawa keteduhan, yang mensejahterakan, agar pesta demokrasi 2018 dapat berlangsung dengan baik dan sukses untuk kemajuan bangsa dan Negara Republik Indonesia yang kita cintai.

Selamat Paskah 2018

Soli Deo Gloria

 

 

                           Salam Kasih,

 

              MAJELIS SINODE GPIB

Ketua Umum

: Pdt. Drs. Paulus Kariso Rumambi, M.Si

Ketua I

: Pdt. Marthen Leiwakabessy, S.Th.

Ketua II

: Pdt. Drs. Melkisedek Puimera, M.Si

Ketua III

: Pdt. Maureen Suzanne Rumeser-Thomas, M.Th.

Ketua IV

: Pen. Drs. Adrie Petrus Hendrik Nelwan

Ketua V

: Pen. Mangara Saib Oloan Pangaribuan, SE.

Sekretaris Umum

: Pdt. Jacoba Marlene Joseph, M.Th.

Sekretaris I

: Pdt. Elly Dominggas Pitoy-de Bell, S.Th.

Sekretaris II

: Pen. Sheila Aryani Salomo, SH.

Bendahara

: Pen. Ronny Hendrik Wayong, SE.

Bendahara I

: Pen. Eddy Maulana Soei Ndoen, SE.

 

 

March 03 2018
Rate this item
(0 votes)

 

A S A L – U S U L   G E R E J A   B E R B A K T I   P A D A   H A R I   M I N G G U

 

 

         Apa perasaan Anda jika membaca titah keempat dari Dasa Titah? Ada yang merasa janggal. Karena di situ dikatakan, “Kuduskanlah hari Sabat”, padahal kita berbakti pada hari Minggu.

           Memang benar, hari kebaktian yang ditetapkan Dasa Titah adalah hari Sabat, yaitu hari ketujuh, atau yang sekarang ini disebut hari Sabtu. Gereja yang mula-mula pun berbakti pada hari Sabtu, meneruskan kelaziman itu. Tetapi kemudian Gereja mengalihkan kebaktiannya dari hari Sabtu ke hari Minggu. Kapan tepatnya perubahan itu terjadi, tidaklah kita ketahui. Namun agaknya tidak terlalu lama setelah kebangkitan Yesus. Di dalam Kisah Para Rasul 20:7 kita membaca “Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti…” Dan di 1 Korintus 16:2 Paulus menulis; “Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu…”

           Perubahan kebaktian dari hari Sabtu ke hari Minggu merupakan suatu keputusan yang drastis, mengingat bahwa Gereja pada waktu itu kebanyakan terdiri dari orang-orang Yahudi, yang ingin memegang terus tradisi Sabat. Tentunya ada alasan yang sangat kuat untuk mengubah hari kebaktian itu. Adapun dasarnya adalah karena mereka memandang kebangkitan Yesus sebagai peristiwa yang besar, sehingga mereka ingin merayakannya setiap Minggu. Karena Yesus dibangkitkan pada hari Minggu, mereka pun bersedia mengalihkan hari kebaktian menjadi hari Minggu.

           Pada akhir abad pertama, Gereja pun lazim menyebut “Hari Tuhan” sebagai sebutan untuk hari Minggu. Sebutan itu kita temui di dalam Wahyu 1:10. Kitab Wahyu itu ditulis di Asia Kecil, di mana ada kebiasaan pemujaan kepada kaisar, dan sebulan sekali ada “Hari Kaisar” untuk menghormati naiknya kaisar ke takhta. Lalu Gereja memakai sebutan “Hari Tuhan” untuk menyatakan penghormatan kepada Kristus yang naik atau bangkit dari kematian.

           Sebutan “Hari Minggu” dalam bahasa kita sebenarnya juga berarti “Hari Tuhan”, sebab kata “Minggu” berasal dari bahasa Portugis Dominggo yang berarti Hari Tuhan.

          Dalam kebudayaan Yunani, pada zaman itu hari Minggu pun sudah menjadi perayaan untuk menghormati dewa matahari. Mereka menyebut hari Minggu sebagai “Hari Matahari”. Tetapi Gereja memberi arti yang baru dengan mengatakan bahwa hari itu adalah hari penghormatan kepada “Matahari Kebenaran” (Mal. 4:2), yaitu Yesus Kristus. Dari sebutan itulah kini kita mengenal nama Sunday, Zondag, atau Sonntag.

 

           Apakah ketika itu hari Minggu sudah merupakan hari libur? Di banyak daerah – yang pasti di antara orang Yahudi – belum. Kalau begitu, bagaimana mereka bisa berbakti?

 

           Hal itu bisa terjadi karena hari dalam perhitungan Yahudi bukanlah seperti perhitungan kita, yaitu dari pukul dua belas malam hingga pukul dua belas malam, melainkan dari matahari terbenam hingga ke matahari terbenam keesokan harinya. Jadi rupanya kebaktian pada waktu itu diadakan pada hari Sabtu malam menurut perhitungan kita, yang bagi mereka sudah hari Minggu.

 

           Tetapi karena Gereja Purba terus merayakan hari Minggu sebagai hari kebaktian, lambat-laun kebiasaan itu makin diterima oleh masyarakat. Pada tahun 321, Kaisar Constantinus dengan undang-undang menetapkan hari Minggu sebagai hari libur di seluruh wilayah kekaisarannya.

 

           Dari ketetapan itu – yang kemudian menjadi universal - kini dunia mengenal hari Minggu sebagai hari libur. Tetapi bagi Gereja, asal-usul menjadikan hari Minggu sebagai hari kebaktian adalah karena hari itu adalah kebangkitan Tuhan, sehingga hari Minggu adalah Hari Tuhan, yaitu Hari milik Tuhan dan Hari untuk Tuhan.

 

 

Disadur dari Buku Selamat Paskah – Andar Ismail

Published in Artikel February 18 2018

minggu pra paskah

 

PRAPASKAH adalah persiapan sebelum paskah. Masa Prapaskah adalah masa dimana umat mengenang dan menghayati kembali seluruh pelayanan Yesus yang penuh tantangan dan derita, yang dimulai dari Kaisarea Filipi sampai di Yerusalem. Oleh karena itu, masa ini adalah merupakan kesempatan untuk umat berpuasa, meratap, sadar diri, menyesal  dan bertobat.

Ada yang memulainya dengan pada Septuagesima (berarti ‘yang ke-70’); bukan menunjuk pada hari ke-70 sebelum Paskah, tetapi melambangkan ke-70 bangsa di dunia atau ke-70 tahun masa pembuangan di negeri Babel (2 Taw.36:21; Yer.25:11,12). Ada juga yang memulainya dengan Sexagesima (berarti ‘yang ke-60’); Ini hanya nama saja, sama seperti ‘yang ke-70’ bukan berarti hari ke-60 sebelum Paskah. Ada juga yang memulainya dengan Quinquagesima (berarti ‘yang ke-50’), yaitu hari ke-50 sebelum Paskah, sama seperti Pentakosta (bahasa Yunani) adalah yang ke-50 sesudah Paskah, sehingga seluruh Paskah menjadi ‘100 Hari’.

Mengacu pada kesaksian Alkitab tentang masa pergumulan dan pertobatan, baik yang dialami umat Israel di padang gurun; Musa di atas gunung; Elia dalam perjalanan ke Horeb; Pertobatan orang Niniwe setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan terakhir Yesus yang berpuasa di padang gurun maka GPIB memperingati masa prapaskah selama 40 hari atau Enam Minggu. Bahasa latinnya adalah Quadragesima (berarti ‘yang ke-40’); hari ke-40 sebelum Paskah. Minggu Prapaskah dimulai dengan ‘Rabu Abu’ (hari Rabu sebelum Minggu Prapaskah VI).

RABU ABU Awal Masa 40 hari; bukan Hari Rabu sebelum Jumat Agung. Abu yang secara simbolik ditaruh di atas kepala atau dijadikan tempat tidur menunjukkan perendahan diri, intropeksi, perkabungan, pertobatan, pendekatan diri kepada Tuhan : manusia tidaklah lebih daripada debu di hadapan Allah (Kej.18:27; 2 Sam.13:19; Est.4:1,3; Ayb.2:8;42:6 Yes.58:5, Yeh. 27:30; Dan 9:3; Yun.3:6).

Oleh karena dinamakan Minggu Prapaskah maka perhitungannya adalah mulai dari Minggu Prapaskah VI dan seterusnya sampai Minggu Prapaskah I. Hal ini penting karena Jumat Agung atau peringatan Kematian Yesus Kristus terjadi dalam Minggu Prapaskah I. Jika dihitung menurut jumlah hari antara Rabu Abu dan Paskah, maka ternyata jumlah itu bukan 40, melainkan 46. Dalam hal ini, 6 Hari Minggu tidak termasuk karena hari Minggu tetap mengacu kepada Kebangkitan Kristus. Bagaikan enam oasis di padang gurun yang menjadi tempat untuk melepas lelah dan penyegaran untuk terus menjalani gurun kehidupannya, demikianlah 6 Hari Minggu dalam masa prapaskah yang menjadi tempat persinggahan umat untuk memperoleh kekuatan agar tabah melangkah menjalani masa 40 hari sampai memuncak pada Hari Paskah.

INVOCABIT Kata Latin Invocabit = ‘Bila ia berseru’ (Mzm. 91:15), sesuai dengan antifon Mazmur Pembukaan pada Hari Minggu VI Prapaskah.

REMINISCERE Reminiscere = ‘Ingatlah’ (Mzm.25:6), sesuai dengan antifon Mazmur Pembukaan pada Hari Minggu V Prapaskah.

OCULI Oculi = “Mata (ku) ‘Mzm. 25:15), sesuai dengan antifon Mazmur Pembukaan pada Hari Minggu IV Prapaskah.

LAETARE Laetare = ‘Bersukacitalah’ (Yes. 66:10), sesuai dengan antifon untuk Mazmur 122 sebagai Mazmur Pembukaan pada Hari Minggu III Prapaskah.

JUDICA Judica = ‘Berilah Keadilan’ (Mzm.43:1), sesuai dengan antifon Mazmur Pembukaan pada Hari Minggu II sebelum Paskah.

PALMARUM berarti ‘Hari Palma’ (bnd. Yoh.12:13), yaitu Hari Minggu Prapaskah I. Jika tematiknya tidak berhubungan dengan perjalanan Yesus Masuk ke Yerusalem, maka Hari Minggu ini juga dapat disebut Hari Minggu Passio (Minggu Sengsara).

Simbol Minggu Prapaskah adalah gambar Ikan (Yun. IXHTUS) dengan warna dasar ungu tua dengan tulisan ‘Yesus Kristus, Anak Allah, Juruselamat) dari kata IXHTUS = YESU KRISTU, THEOS HUIOS, SOTERIA

Warna dasar                           : Ungu Tua

Lambang/Logo                         : Ikan (ICHTUS)

Warna pinggir ikan dan huruf  : Kuning

Tulisan                                    : Yesus Kristus, Anak Allah, Juruselamat

Arti                                        : Tanda ini merupakan suatu Sandi rahasia di kalangan orang Kristen

mula-mula yang sedang mengalami penganiayaan. Pada masa penyiksaan dan penganiaayaan yang hebat itu mereka tidak bisa saling menyatakan diri sebagai pengikut Yesus. Karena itu, agar mereka tetap bersatu dan saling mengenal di antara mereka sebagai pengikut Yesus, dan terlebih tetap mengakui iman bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah dan Juruselamat maka mereka menggambar ikan di telapak tangan mereka masing-masing.

Simbol Prapaskah berganti pada malam Jumat Agung.

Published in Artikel January 03 2018

EPIFANI 1

EPIFANI (Yun. Epifanea = penampakan). Istilah ini awalnya dipakai untuk penampakkan kaisar atau patungnya sebagai dewa pada puncak manifestasi di stadion atau amfiteater (tempat tontonan besar untuk rakyat).
Umat Kristen pertama tidak mengakui kaisar, melainkan Yang Tersalib sebagai Tuhan.

Istilah ‘Epifania’ tetap mereka pakai untuk peringatan Penampakan (penyataan atau tampil di muka umum) Sang Juruselamat yang bernama Yesus. Makanya, Epifani lebih terkait dengan perisitiwa-peristiwa sbb; penampakkan Bintang di Timur, penyembahan orang Majus, Bayi Yesus yang dibawa oleh orang tuanya ke Bait Allah untuk diserahkan kepada Allah, tampilnya Yesus di sungai Yordan untuk dibaptis Yohanes dan penetapanNya (dengan suara dari atas : ‘Inilah Anak-Ku’).

Hari Epifani dirayakan pada 6 Januari, sedangkan Minggu Epifani dimulai dengan Hari Minggu terdekat dengan tanggal 6 Januari.
Minggu transfigurasi (Yesus berubah wujud = Pemuliaan Yesus di atas gunung dan penetapan kembali sebagai Anak yang dikasihi dan dikenan oleh Allah) masuk dalam Minggu-minggu Epifani. Dalam Lukas 9:31 dikatakan bahwa Musa dan Elia berbicara dengan Yesus tentang ‘tujuan kepergian-Nya’ (Yun. ekshodos atau exodus-Nya) ke Yerusalem, yakni agar paskah digenapi oleh-Nya.
Minggu terakhir dari Minggu-minggu Epifani disebut Esto Mihi = ‘Jadilah bagiku’ (Mzm. 31:3b);

Yakni sebagai titik peralihan, menurut cerita Injil, dari perjalanan Yesus di Galilea kepada perjalanan-Nya ke Yerusalem.
Simbol Hari dan Minggu Epifani adalah Bintang bersegi lima (warna putih) di dalam Lingkatan (warna kuning) dengan warna dasar Hijau.

  • Warna dasar     : Hijau
  • Lambang/Logo  : Bintang bersegi lima
  • Warna Bintang  : Putih
  • Lingkaran         : Kuning
  • Arti                 : Bintang persegi lima lebih dikenal sebagai bintang Yakub, dalam hal ini menunjuk pada terbitnya bintang dari keturunan Yakub (Bilangan 24:17). Di kemudian hari hal ini dimanifestasikan lewat kelahiran YESUS KRISTUS yang ditandai pula dengan munculnya/terbitnya bintang di Timur (Matius 2:1-2). Bintang ini pula yang menunjuk pada penampakan kemuliaan YESUS KRISTUS bagi umat manusia.

Simbol Minggu Epifani ini berganti pada Hari Minggu Prapaskah.

Published in Artikel December 27 2017

Natal

 

NATAL Kata Portugis ‘Natal’ berasal dari bahasa Latin Natalis, yakni Dies Natalis, yang berarti Hari Lahir. Masyarakat dalam Imperium Romawi dahulu menggunakan istilah ini untuk kelahiran dewa Sang Surya; dies natalis invicti yang berarti hari kelahiran matahari yang tak terkalahkan. Pengertiannya dihubungkan pula dengan penyembahan kaisar sebagai dewa seperti matahari. Dan demi kehormatannya sendiri sebagai ‘tuhan’ maka pada abad ke-3, kaisar menetapkan perayaan hari kelahirannya pada 25 Desember.

Di kemudian hari, ketika seluruh imperium Romawi dikristenkan maka makna dan tanggal tersebut diambil alih dan diisi dengan makna baru, yaitu sebagai Dies Natalis Yesus Kristus. Dalam hal ini Yesus dipahami sebagai Matahari Kebenaran, Terang dunia yang sebenarnya, Raja Alam semesta, Tuhan yang sanggup turun dari takhta-Nya. Makanya, setiap tanggal 25 dan 26 Desember, selalu diperingati sebagai Hari Natal I dan Hari Natal II oleh GPIB.

Ada juga perhitungan tanggal kelahiran Yesus yang bertitik tolak dari Lukas 1:26. Jikalau Tahun Baru Yahudi (awal bulan Tisyri) jatuh pada sekitar awal Oktober, maka bulan keenam jatuh sekitar bulan Maret Apabila malaikat Gabriel datang kepada Maria pada akhir bulan keenam itu, maka akhir Desember (menurut kalender kita) adalah 9 bulan sesudahnya. Namun, menurut kalender Yahudi, bulan keenam juga dapat dihitung dari Paskah, sehingga kelahiran Yesus terjadi pada musim panas dan kandang di Betlehem sedang kosong karena domba-domba bisa bermalam di alam terbuka.

Terkait dengan ketidakpastian tanggal kelahiran Yesus seperti tersebut di atas maka gereja mula-mula menyepakati suatu rentang waktu untuk kelahiran Yesus Kristus, yaitu antara 25 Desember – 6 Januari.

SUB OKTAF NATAL adalah sebutan untuk Hari Minggu di antara 25 Desember dan 1 Januari. Sering kita sebut dengan Minggu I sesudah Hari Natal yang jatuh pada suatu tanggal sebelum ‘Oktaf Natal’. ‘Sub Oktaf berarti’ di bawah oktaf.

OKTAF NATAL adalah Hari ke-8 sesudah 25 Desember, yaitu tepat pada tanggal 1 Januari. Tanggal penting, bukan saja karena tanggal itu menandai dimulainya Tahun Baru, tetapi menurut kesaksian Alkitab bahwa merupakan tanggal pemberian nama ‘Yesus’ bagi bayi Yusuf dan Maria ketika Ia disunat satu minggu sesudah Ia lahir (Luk. 2:21). Karena itu, kita beribadah pada malam akhir Tahun Lama dan permulaan Tahun Baru, bukan hanya karena kita memahami bahwa Yesus Kristus yang telah lahir sebagai Matahari Kebenaran dan Terang Dunia itu yang telah menyertai kita mengahiri tahun yang lama dan akan memuntun kita memasuki tahun baru, sehingga kita akan berjalan dengan aman dan sejahtera sepanjang tahun, tetapi terlebih karena pemberian Nama ‘Yesus’ (Penyelamat), yang didalamnya kita diselamatkan.

Simbol Hari Natal, Sub Oktaf dan Oktaf Natal Minggu Natal adalah Palungan (kuning mas) tempat bayi Yesus diletakkan (bukan laba-laba) dan pelangi dengan warna dasar putih.

Warna dasar      : Putih

Lambang/Logo  : Palungan dan pelangi

Warna pelangi   : Merah, Kuning, Hijau

Palungan           : Kuning

Arti                    : Pelangi merupakan simbol dari kesetiaan dan cinta kasih Allah bagi seisi dunia.

Setelah peristiwa air bah yang menghancurkan bumi karena dosa manusia (Kej 9) maka Tuhan Allah menghadirkan pelangi sebagai tanda perjanjianNya dengan Nuh dan keturunannya (seluruh umat manusia) serta semua makhluk hidup lainya. Allah telah berjanji bahwa Ia tidak akan menghancurkan bumi ini lagi dengan air bah. Jadi, pelangi mengingatkan kita tentang kesungguhan Tuhan Allah untuk memenuhi dan menggenapi janji-janji-Nya. Dan hal itu, telah dipenuhi dan digenapi di dalam Yesus Kristus, yang lahir sebagai seorang bayi dan terbungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.

Jadi, pelangi dan palungan mau menjelaskan bahwa Tuhan Allah, dalam kasihNya yang tiada tara mau menjelma menjadi manusia dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya siapa yang percaya kepadaNya, tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16). Pelangi dan palungan juga mau menjelaskan tentang peebusan dan pembebasan yang sekaligus telah diberikan lewat kelahiran Anak Allah, yakni Yesus Kristus. Bahwa pembebasan dan penebusan tersebut diperuntukkan tidak saja bagi orang-orang pilihan, tetapi juga kepada semua orang, dan bahkan seluruh ciptaan.

Simbol ini berganti pada tanggal 6 Januari.

Page 2 of 4

facebook-icon-web

Jadwal Ibadah Minggu