OT Vozzmag - шаблон joomla Окна
  • PHMJ GPIB KARUNIA CIPUTAT 2017-2020
  • KHOTBAH TEMATIK DALAM MASA ADVENT 2018
  • PPLP_3R
  • Kalender GPIB Karunia 2019
  • Workshop PKP
  • Slide1
August 14 2018

MINGGU XII SESUDAH PENTAKOSTA

RABU,  15 AGUSTUS 2018

  

RENUNGAN PAGI

KJ.424 : 1 "Yesus Menginginkan Daku"– Berdoa

HAWA NAFSU

Yakobus 4 : 1-6

"Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?" (ay.1)

 

Mari menjawab pertanyaan ayat 1 ini, tentang asal mula pertengkaran dan perselisihan. Yakobus menyebut hawa nafsu sebagai penyebab utamanya. Istilah yang dipakai adalah ἡδονή (hedone) yang berarti kenikmatan atau kesenangan; keinginan kuat mendapatkan kesenangan. Istilah ini setara dengan istilah PL, yakni istilah 'avah yang berarti hasrat untuk memiliki (lih.Ul.5:21). Memuaskan keinginan untuk menikmati kesenangan terdapat dalam berbagai aspek kehidupan, misalnya pada harta dan kekayaan, jabatan dan kedudukan, keinginan seksual, dan atau segala sesuatu yang dikejar demi menikmati kesenangan. Orang seperti ini kemudian diidentikkan dengan suatu paham hidup yang disebut dengan hedonisme, yakni paham yang menyebut bahwa kesenangan dan kenikmatan adalah tujuan hidup manusia.

Yakobus memberikan peringatan keras tentang hawa nafsu ini. Sebab demi mendapatkan sesuatu untuk memuaskan dirinya, tiap orang akan mengupayakan berbagai cara termasuk merugikan orang lain sekalipun. Akibatnya, pertengkaran dan sengketa dengan orang lain tidak terelakkan lagi (ay.1). Selanjutnya, menurut Yakobus, hawa nafsu menjadi alasan bagi Tuhan untuk tidak menjawab doa dan permintaan seseorang karena demi memuaskan keinginan dan kenikmatannya saja (ay.3). Sifat dan sikap seperti itu bertentangan dengan kehendak Allah. Sebab orientasi dari hawa nafsu adalah keinginan duniawi dan kedagingan. Menuruti keinginan daging atau duniawi ini setara dengan bersahabat dengan dunia dan bukan dengan Allah. Itu berarti dengan sengaja menjadi musuh Allah (ay.4).

Kesenangan dan kepuasan adalah bagian dari kehidupan ini. Tetapi tidak berarti membuat kita mengejarnya secara membabi buta. Kesenangan dapat diperoleh di dalam Tuhan. Kepuasan hidup ada pada-Nya. Tuhanlah sumber kepuasan (Mzm.103:5) dan bukan dunia ini. Maka seharusnya pula, Tuhanlah yang kita cari dan bukan kenikmatan dunia. Jika tidak, kita telah tertawan oleh Hawa Nafsu.

 

KJ.424 : 3 "Yesus Menginginkan Daku"- Berdoa

Doa : (Tuhan, jagalah hatiku dari Nafsu Dunia yang mendukakan hati-Mu)

 

IND/Iph

MINGGU XII SESUDAH PENTAKOSTA

SELASA,  14 AGUSTUS 2018

  

RENUNGAN MALAM

KJ.37 : 1,2 "Batu Karang Yang Teguh"– Berdoa

JANGAN BIMBANG

Yakobus 1 : 7-8

"Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya" (ay.8)

 

Seran "jangan bimbang" mudah untuk diucapkan, ataupun dilakukan jika situasi dan keadaan aman dan tenteram. Bagaimana jika sebaliknya? Ketika keadaan begitu sulit, saat situasi mendesak dan pertolongan tak kunjung datang? Bagaimana jika penganiayaan dan prilaku keji sedang kita alami dan nyawa adalah taruhannya? Pastilah kita setuju bahwa menjadi tetap teguh, tidaklah mudah. Menariknya, hal ini menjadi alasan beberapa orang untuk merasa wajar jika ragu dan manusiawi jika bimbang.

Benarkah demikian? Umat Kristen penerima surat Yakobus ini menghadapi kondisi yang tidak mudah dalam hidup mereka karena iman kepada Allah. Berbagai-bagai pencobaan datang silih berganti (ay.2), entah soal status sosial mereka (ay.9-11), maupun pencobaan yang datang dari diri sendiri berhubungan dengan kepercayaan masa lalu ataupun karena kelemahan iman (ay.12-18).

Apakah Yakobus memaklumi hal itu dan mentolerir kebimbangan yang terjadi? Jawabnya, TIDAK. Bagi Yakobus, orang yang bimbang tidak akan mendapatkan apa-apa dari Tuhan sekalipun memohon dengan iba. Bahkan untuk meminta hikmat menyelesaikan persoalan itupun, tidak akan mereka peroleh dari Tuhan, jika mereka bimbang (ay.7).

Lawan dari bimbang adalah yakin. Iman yang teguh menggambarkan tidak bimbangnya seserang menghadapi tiap kenyataan hidup. Karena itu hadapilah tiap kehidupan ini dengan iman yang teguh. Jangan bimbang dan jangan mudah terombang ambing dengan berbagai tawaran dunia. Percaya saja pada Allah, Dia pasti bertindak. Jangan mencari tumpuan lain untuk memperoleh ketenangan, sebab bagaimanapun mereka yang bimbang imannya pada Allah setara dengan mendua hati pada-Nya. Mereka yang mendua hati, tidak akan tenang dalam hidup.

KJ.37 : 6 "Batu Karang Yang Teguh"- Berdoa

Doa : (Tuhan mampukan kami mengerjakan iman percaya kami)

 

IND/Iph

August 14 2018

MINGGU XII SESUDAH PENTAKOSTA

SELASA,  14 AGUSTUS 2018

  

RENUNGAN PAGI

KJ.392 : 1,2 "Ku Berbahagia"– Berdoa

BAHAGIA DI TENGAH COBAAN

Yakobus 1 : 2-6

"Saudara-saudaraku, anggaplah suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan! (ay.2)

 

Secara umum, siapapun pasti menyetujui, bahwa penderitaan adalah suatu keadaan yang tidak menyenangkan dan jauh dari suasana bahagia. Sebab dimanakah kita melihat orang berbahagia ketika mengalami penderitaan? Tentu saja tidak ada, bukan? Tetapi berlawanan dengan kenyataan itu, Yakobus menuliskan pada ay.2 sesuatu yang menarik, yakni: "Saudara-saudara, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan."

Bagaimanakah dapat mampu menganggap suatu kebahagiaan walaupun menghadapi pencobaan? Yakobus menyebut bahwa pencobaan itu bagian dari ujian iman yang menghasilkan ketekunan (ay.3). Selanjutnya, ketekunan menghasilkan buah yang matang yakni menuju ke arah kesempurnaan iman (ay.4). Dengan demikian kita menemukan suatu Simpulan Pertama, yakni ketika menghadapi penderitaan hidup, orang percaya haruslah memandang penderitaan itu sebagai ujian dan selanjutnya bersedia dengan penuh ketekunan menjalani semua kenyataan tersebut.

Pada bagian lain, Rasul Paulus menyebut lebih detail tentang kondisi ini : "Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan" (Roma 5:3,4).  Maka kita menemukan simpulan kedua, yakni mereka yang menjalani pencobaan dan derita hidup dengan tekun akan lolos uji dan disebut sebagai pribadi yang tahan uji sehingga selalu berpengharapan bahwa apa yang dihadapi saat itu akan berakhir, yakni damai sejahtera yang indah pada waktunya (bd. Yer.29:11; Pkh.3:11).

Untuk dapat melakukan semuanya itu, yakni bermegah atau berbahagia dalam pencobaan dan sengsara hidup, maka orang percaya memerlukan hikmat (ay.5). Dengan hikmat Tuhan itulah, setiap pribadi, yang mengalami pencobaan, tetap mampu menghadapinya dengan berbagai cara sehingga tetap berbahagia.

KJ.392 : 3 "Ku Berbahagia"- Berdoa

Doa : (Tuhan, mampukan kami berpengharapan di tengah cobaan hidup)

 

IND/Iph

August 11 2018

MINGGU XI SESUDAH PENTAKOSTA

SENIN,  13 AGUSTUS 2018

  

RENUNGAN PAGI

KJ.441 : 1,2 "Ku Ingin Menyerahkan"– Berdoa

 

MELAWAN COBAAN

(bagian 2)

Matius 4 : 8-11

"... Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti (ay.10)

 

Barteran adalah salah satu transaksi kuno yang dipakai jika seseorang ingin memperoleh barang tertentu dari orang lain. Untuk memperoleh barang tertentu dari orang lain. Untuk memperoleh barang-barang yang tidak dapat dihasilkan sendiri mereka mencari dari orang yang mau menukarkan barang yang dimilikinya dengan barang lain yang dibutuhkannya. Sudah pasti, paling tidak, nilai barang harus sama dengan yang mau ditukarkan. Sebab bukankah tidak ada yang mau menerima kerugian?

Pencobaan kedua kepada Tuhan Yesus, oleh Iblis, juga menggunakan pola ini. "Aku memiliki kerajaan dunia dan kemegahannya, Engkau dapat memilikinya jika Engkau sujud menyembah", demikian Iblis memulai barteran ini (ay.8,10). Siapapun mengingini kekayaan, dan kemegahan hidup. Bayangkanlah nikmatnya, jika dunia ini sepenuhnya menjadi milik kita!! Wow... sesuatu yang tak bisa dibayangkan.

Apakah reaksi Tuhan Yesus terhadap tawaran ini? Kemilau dunia tidak mampu merayu keagungan dan kemuliaan-Nya untuk tunduk kepada Iblis. Kemasyuran dan gemerlap duniawi tidak dapat ditukarkan dengan ketaatanNya kepada Sang Bapa. Nilai tertinggi yang diukur Tuhan Yesus adalah merendahkan diri kepada Bapa-Nya di dalam ketaatan. Itulah sebabnya dengan tegas, Tuhan Yesus menampik godaan itu dengan mengutip Ul.6:13, dan menghardik Iblis : "... Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti" (ay.10).

Demikian jugalah dengan kita. Bagaimana mungkin kita menukar nilai keselamatan yang tak terukur ini dengan kesenangan sesaat terhadap kemilau nikmat dunia? Jangan menukar sesuatu yang bernilai tinggi dengan suatu hal yang tidak berharga. Prinsip ini harusnya menjadi prinsip orang percaya ketika menghadapi cobaan hidup. Kiranya Tuhan menolong kita untuk mampu menepis segala godaan murahan dunia ini.

KJ.441 : 3 "Kuingin Menyerahkan"- Berdoa

Doa : (Ya Allah, mampukan kami menghadapi pencobaan hidup ini)

 

IND/Iph

MINGGU XI SESUDAH PENTAKOSTA

MINGGU,  12 AGUSTUS 2018

  

RENUNGAN MALAM

KJ.436 : 1,2 "Lawanlah Godaan"– Berdoa

 

MELAWAN COBAAN

(bagian 1)

Matius 4 : 5-7

"... Ada pula tertulis : Janganlah Engkau mencobai Tuhan, Allahmu!" (ay.7)

 

Siapa yang tidak ingin terkenal? Setiap orang tidak mungkin menolak tawaran popularitas. Walaupun terlihat tidak ingin polular, sebagian besar orang cenderung ingin diperhatikan dan diakui oleh orang lain. Apakah salah jika menjadi orang terkenal? Rasanya tidak! Tetapi bagaimana prosesnya, itulah yang perlu menjadi perhatian.

Iblis membuka pencobaan kedua ini dengan pernyataan menarik : "jika Engkau adalah Anak Allah"Sudah pasti iblis sangat tahu bahwa Tuhan Yesus adalah Anak Allah, sehingga tujuan dari pernyataannya itu untuk mengajak Yesus membuktikannya. Sebagai Mesias, sebagai Anak Allah bukankah suatu peristiwa menghebohkan jika tiba-tiba Yesus terjun dari bumbungan Bait Allah? Peristiwa itu pasti ditonton banyak orang. Bukan itu saja, perkara yang dramatis itu mendadak menjadi spektakuler ketika ternyata Yesus tidak terantuk batu, karena tiba-tiba tubuhNya terapung, melayang dan turun secara mantap di atas tanah tanpa cedera. Bagaimana bisa? Tentu bisa, karena Sang Bapa memerintahkan Malaikat-Nya untuk menopang Sang Mesias (Mzm.91 : 11-12). Ayat inilah yang digunakan oleh iblis untuk mencobai Yesus.

Tetapi Yesus tidak haus popularitas. Mentalitas Tuhan Yesus bukan mentalitas instan. Ia tidak membutuhkan pengakuan semua orang tentang diriNya sebagai pribadi yang besar. Semua itu, yakni segala kuasa dan hormat, telah ia terima dari Bapa-Nya (Yoh.10 : 18). Bagaimana mungkin Yesus meragukan Bapa-Nya dengan cara menguji apa yang sudah difirmankan-Nya? Tidak mungkin bagi Yesus untuk menunjukkan kebesaran-Nya dengan proses instan dalam "ketinggian" dan "keagungan"! Sebab Yesus tahu, bahwa Mesias harus menderita dan direndahkan. Itulah sebabnya Yesus berkata : "Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allah-mu". Tuhan Yesus menjawab ayat yang dipakai iblis itu dengan kebenaran Firman pula (Ul.6:16).

Karena itu, mari seperti Yesus, kita menguji setiap hal dengan kebenaran Firman agar kita menang dalam pencobaan.

 

KJ.436 : 3 "Lawanlah Godaan"- Berdoa

Doa : (Tuhan, Biarlah Firman-Mu memampukan kami menghadapi cobaan)

 

IND.Iph

Page 39 of 42

facebook-icon-web

Jadwal Ibadah Minggu

  •    Gereja Pusat I

    :   06:30 WIB

       Gereja Pusat II

    :   09:30 WIB

       Gereja Pusat III

    :   18:00 WIB

     

       IHM Nuansa Muda

     

    :   18:00 WIB

       Minggu ke 2 dan ke 4

     

       Setiap bulan.

     

     

       Pospel Sepolwan I

     

    :   07:00 WIB

       Pospel Sepolwan II

    :   17:00 WIB

     

       Pospel Pamulang I

     
     
    :   09:00 WIB

       Pospel Pamulang II

    :   17:00 WIB

     

       Pospel Hosana

     
     
    :   06:30 WIB

       Pelkat PA

     
    :   06:30 WIB
        09:30 WIB

       Pelkat PT

    :   08:00 WIB