OT Vozzmag - шаблон joomla Окна
  • Slide1
Published in Pembinaan July 15 2017

RENDAH HATI

Pdt. Ch.S.L Tarukla’bi

Barang siapa telah memutuskan untuk menjadi Kristen apa lagi yang sudah cukup lama pasti dia telah berkomitmen untuk hidup seperti yang diajarkan Tuhannya. Salah satu ajaran itu ialah “rendah hati”. Yang mendasari ajaran ini adalah : “Dan barang siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Matius 23 : 12). Dihadapkan dengan ajaran ini sepintas kita dapat mengerti seolah-olah kita berada di persimpangan jalan di mana kita harus memilih ke mana kita akan pergi. Maksudnya adalah bahwa kerendahan hati itu soal pilihan pribadi. Pertanyaannya ialah apakah kita rendah hati? Kalau ya, itu karena kita memutuskan untuk merendahkan diri, itu pilihan kita. Apakah kita tinggi hati? Kalau ya, karena itu kita memutuskan untuk tidak merendahkan diri, itu juga pilihan kita. Setiap orang memang diberi kebebasan untuk memilih. Namun sebuah kenyataan Alkitab mengajarkan “rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain”, sebab : “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati”.

Bagi orang percaya rendah hati harus dicapai. Menurut Peter Wagner Kerendahan Hati mempunyai dua dimensi. Satu adalah kerendahan hati kita dihadapan Tuhan, dan yang satu lagi adalah kerendahan hati kita dengan orang lain. Dengan bahasa yang singkat dia menyebutnya, "Kerendahan hati vertical" dan "Kerendahan hati horizontal". Kedua-duanya tidak bisa dipisahkan. Kerendahan hati kita dihadapan Tuhan adalah dasar yang tak tergantikan bagi kerendahan hati kita dalam hubungan terhadap sesama. Kerendahan hati vertical bagi kerendahan hati horizontal sama dengan iman bagi perbuatan. kita tidak memperoleh iman dengan melakukan perbuatan baik, tetapi tidak ada yang disebut iman yang murni yang tidak menghasilkan perbuatan yang baik. Jadi intinya, satu-satunya bukti yang dapat diukur bahwa kita mempunyai iman yang sejati adalah perilaku kita. Oleh karena itu Yakobus menulis: "Demikianlah juga halnya dengan iman; jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati" (Yak. 2:17). Ada yang disebut sebagai iman yang mati. Tetapi apa yang membuat iman yang mati itu menjadi hidup? Jawabnya adalah perbuatan!

Published in Pembinaan June 24 2017

MENJUMPAI YESUS di TEMPAT TERPENCIL

(Menggugah semangat ber-Pelkes)

Pdt. Ch. S. L. Tarukla’bi

Suru Engkaduk dan Suru Tembawang, dusun terpencil dipedalaman Kalimatan Barat, jarak tempuh seharian dari perbatasan Entikong Indonesia dan Serawak Kucing Malaysia. Tidak ada kendaraan umum menjangkau dusun ini. Tidak ada motor dan juga tidak ada sepeda. Masyarakatnya berjalan kaki dan menggunakan getek (ketinting) jika berpergian. Tidak ada listrik, tidak mengenal toilet dan tidak ada air bersih. Tetapi GPIB ada disana. GPIB hadir untuk melayani umat Tuhan yang ada disana. Tidak terpikirkan bahwa mereka dapat dijangkau karena begitu terasing, tetapi Tuhan menghadirkan GPIB di tempat itu.

Suruk Engkaduk dan Suruk Tembawang hanyalah dua dusun dari sekian banyak tempat terpencil yang dilupakan dan sulit dijangkau yang harus dilayani oleh GPIB. Ada begitu banyak pos-pos pelayanan GPIB. Jika kita warga jemaat GPIB, apakah kita tahu bahwa Tuhan merindukan kita hadir diantara mereka yang hampir terlupakan itu? Bukan hanya bantuan kita berupa uang, tetapi keberadaan kita untuk menunjukkan kepedulian dengan menyapa mereka secara nyata. Jika kita warga jemaat GPIB dan telah menghayati sungguh kehadiran kita sebagai milik Kristus, sudahkah kita menjumpai saudara-saudara kita yang ada jauh disana, karena itu berarti menjumpai Tuhan disana, diantara mereka? Jika kita hadir disana dan bermakna bagi mereka, itu berarti kita berbuat bagi Tuhan.

Penghayatan keagamaan kita tentang kehadiran Tuhan dan dimana Tuhan dapat kita jumpai sangat dangkal. Kita yang berada di kota besar dengan fasilitas yang ada, menghayati bahwa menjumpai Tuhan di gedung-gedung gereja yang mewah, di hall-hall yang besar, dan di hotel-hotel berbintang. Dalam penghayatan yang demikian, kita telah mengkristalkan Tuhan dan menjadikan-Nya “sesuatu” yang indah dan megah. Menempatkan Tuhan pada posisi tertinggi padahal Tuhan sendiri meninggalkan tahta-Nya untuk ada di antara manusia.

Tuhan Yesus mengajak gereja-Nya untuk keluar menjangkau sebanyak mungkin orang agar mereka mendengar dan mengalami secara nyata kasih-Nya. Mereka yang di kota-kota besar terlebih yang berada di pelosok. Ada tanggung jawab iman sebagai gereja Tuhan yang diberkati untuk mengalirkan berkat itu kepada mereka yang jauh dari kita. Demikian ketika Tuhan Yesus berkata “pergilah, jadikan semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Ku perintahkan kepadamu (Matius 28 : 19-20a).

Kalau gereja-Nya menunjukkan kepedulian dan perhatian dalam tindakkan yang nyata, maka gereja-Nya telah mengaplikasikan apa yang Tuhan Yesus kehendaki. Dengan demikian gereja akan berjumpa Tuhan Yesus sampai di tempat-tempat terpencil.

Alangkah indahnya jika GPIB jemaat “Karunia” Ciputat menjadi bagian dari arak-arakan gereja yang rajin ber-Pelkes, karena akan semakin nyata perjumpaan dengan Tuhan Yesus di antara yang dikasihi-Nya.

 

 

Published in Artikel June 24 2017

minggu sesudah pantekosta

 

MINGGU SETELAH PENTAKOSTA (Minggu-Minggu Sesudah Pentakosta)

Hari Pentakosta yang jatuh pada hari Minggu, mengawali Minggu-minggu Pentakosta yang berjumlah 26 Minggu. Minggu Trinitas adalah Minggu I sesudah Pentakosta, dst. Minggu-minggu ini juga dikenal dengan Minggu Biasa, yang ditandai dengan warna Hijau, warna pertumbuhan dan kesuburan. Masa ini juga disebut masa Gereja berjuang.

Ada yang menyatakan bahwa sesudah Minggu Trinitas sudah tidak ada lagi hari raya. Sebenarnya, masih ada yaitu Hari Minggu, di mana melalui setiap hari Minggu, Gereja diingatkan tentang penyertaan Tuhan di dalam perjuangan Gereja. Yesus Kristus, Kepala Gereja, selalu beserta dengan Gereja-Nya (Allah beserta kita). Karena itu, Hari Minggu harus selalu menjadi perayaan besar, dan dirayakan dengan penuh puji-pujian dan syukur.

Simbol Hari Minggu sesudah Pentakosta adalah burung Merpati (putih) dengan ranting zaitun diparuhnya, perahu layar di tengah gelombang dan pelangi dengan warna dasar Hijau.

Warna dasar                       :          Hijau, yang berarti warna pertumbuhan dan kesuburan

Lambang/Logo                   :          Burung Merpati dengan ranting zaitun diparuhnya, perahu layar ditengah gelombang dan pelangi

Warna Burung Merpati       :          Putih

Arti                                    :           Perahu merupakan simbol dari Gereja.

Ide ini menjadi berarti bagi orang Kristen mula-mula yang mengalami penganiayaan dan pergumulan, ketika mereka mengetahui bahwa akan ada pertolongan dari Tuhan. Hal ini nyata lewat perpaduan antara perahu dan pelangi. Di sini janji Allah tentang pertolongan-Nya itu mendapat penekanan yang kuat. Pelangi melambangkan kesetiaan Allah atas janji-Nya untuk memelihara bumi, khusus Gereja dan orang-orang percaya.

Burung merpati dengan ranting zaitun di paruhnya mengungkapkan tentang janji keselamatan dan kehidupan dari Allah (bnd. Kej. 8:10.11) yang akan terus menyertai sampai ke tempat tujuan. Jadi seka­lipun Gereja mengalami berbagai ancaman goncangan dan cobaan, Gereja akan tetap hidup di dalam dan oleh janji Allah tersebut.

Simbol ini beraganti pada Hari Sabtu malam menjelang Hari Minggu I Advent.

Published in Artikel June 10 2017

trinitas

 

MINGGU TRINITAS

Minggu Trinitas (Lat. Trinitatis = Trinitas), disebut juga Hari Raya Tritunggal Mahakudus.

Minggu Trinitas adalah hari Minggu pertama setelah Pentakosta, dirayakan untuk memperingati doktrin Trinitas, Allah yang Esa atau Allah Tritunggal (Bapa, Putra, dan Roh Kudus). Perayaan Hari Minggu Trinitas baru ditetapkan pada abad ke-14. Di sini pernyataan Allah dan kekudusan keesaan-Nya menjadi pusat penyembahan umat.

Simbol hari Minggu Trinitas adalah Segitiga (Triquetra) dengan warna dasar putih, yang merupakan simbol mula-mula dari ketritunggalan.

Warna Dasar        :     Putih

Lambang/Logo   :     Lingkaran Segitiga / Triquetra

 

Arti                        :    Tiga buah lekukan yang tidak terputus, saling bersambung menyatakan kekekalan dari tritunggal.

                                  Pada pusat dari ketiga lekukan itu terbentuklah sebuah segitiga yang merupakan simbol warisan dari Tritunggal.

 

Simbol ini berganti pada Hari Sabtu malam, menjelang Hari Minggu II Sesudah Pentakosta.

Published in Artikel June 07 2017

pentakosta

PENTAKOSTA (Yun. Pentakosta berarti ‘yang ke-50’), yakni hari ke-50 sesudah Paskah. Hari ke-50 sesuai dengan Ulangan 16:9-12 adalah suatu pesta besar, yakni pesta panen raya dan pesta kemerdekaan. Tidak kebetulan bahwa pada Hari ke-50 Yerusalem penuh orang. Pada Hari Pentakosta, Roh Kudus yang dijanjikan oleh Yesus Kristus ketika Ia naik takhta di surga, turun ke atas para murid. Artinya, mereka semua dibaptis dalam Roh Kudus, sehingga mereka mendapat kekuatan dan keberanian untuk bersaksi (Kis 2:14,22-24,32-33,36).

Dengan demikian, Roh Kudus panen pertama sesudah Yesus Kristus bangkit dan naik takhta di surga. Dan juga orang-orang yang menjadi percaya oleh pemberitaan para rasul dengan kuasa Roh Kudus (Kis.2:37-42) adalah juga panen pertama.

Makanya Hari Pentakosta diperingati juga sebagai hari kelahiran Gereja, di mana melalui kuasa Roh Kudus Gereja dilengkapi untuk melaksana­kan tugas pengutusannya kepada bangsa-bangsa.

Simbol Hari Pentakosta adalah lidah-lidah api (pinggirnya kuning) dan burung merpati (warna perak).

Warna dasar                                         : Merah, warna keberanian untuk memberi kesaksian (martyria).

Lambang/Logo                                   : Lidah-lidah api dan Burung Merpati

Warna Lidah-Lidah Api                      : Orange

Warna Burung Merpati                      : Putih

Arti                                                         : Warna dasar merah menyatakan keberanian untuk memberi

  kesaksian (martyria), Lidah-Lidah Api dan Burung Merpati yang

  menukik menunjuk pada peristiwa pencurahan Roh Kudus pada

  hari Pentakosta (Kis. Ras. 2:23). Tujuh lidah api menyimbolkan ke

  tujuh suluh api, yaitu ketujuh roh Allah (Why. 4:5) membentuk

  lingkaran yang menghadirkan kekekalan, keabadian.

Simbol ini berganti pada Hari Sabtu Malam menjelang Hari Minggu Trinitas.

Page 4 of 5

facebook-icon-web

Jadwal Ibadah Minggu

  •    Gereja Pusat I

    :   06:30 WIB

       Gereja Pusat II

    :   09:30 WIB

       Gereja Pusat III

    :   18:00 WIB

     

       IHM Nuansa Muda

     

    :   18:00 WIB

       Minggu ke 2 dan ke 4

     

       Setiap bulan.

     

     

       Pospel Sepolwan I

     

    :   07:00 WIB

       Pospel Sepolwan II

    :   17:00 WIB

     

       Pospel Pamulang I

     
     
    :   09:00 WIB

       Pospel Pamulang II

    :   17:00 WIB

     

       Pospel Hosana

     
     
    :   06:30 WIB

       Pelkat PA

     
    :   06:30 WIB
        09:30 WIB

       Pelkat PT

    :   08:00 WIB

     

     

    image6

    PEMBACAAN ALKITAB SEPEKAN

    Tanggal

    Pagi Malam
     12 Jan '18 Dan 10 : 1-9 Dan 10 : 10-14
     13 Jan '18 Dan 10:15 - 11:1

    Dan 11 : 2-9

     14 Jan '18 Dan 11 : 10-9 Dan 11 : 20-28
     15 Jan '18 Dan 11 : 29-39 Dan 11 : 40-45
     16 Jan '18 Dan 12 : 1-7 Dan 12 : 8-13
     17 Jan '18

    Yes 11 : 1-5

    Yes 11 : 6-10