OT Vozzmag - шаблон joomla Окна
  • Slide1
Published in Kegiatan Jemaat

PERMATA (PERSEKUTUAN BERSAMA TERUNA & ANAK)

Pelkat PA & PT akan mengadakan acara PERMATA (PER sekutuan bersaMA Teruna & Anak) pada tanggal 29 Juni – 1 Juli 2018 bertempat di Dusun Kunjani, Rawakalong, Bogor dengan tema :

Aku dan Kamu Pembawa Damai. Peserta adalah Anak layan PA dari kelas 3 – 6 & seluruh anak layan PT.

Demi menunjang pelaksanaan acara PERMATA, Pelayan PA & PT akan melakukan usaha pencarian dana yang akan dimulai dari hari ini tanggal 27 Mei 2018 sampai dengan 24 Juni 2018 dalam bentuk :

1

Aksi Pembatas Alkitab                              

:

tgl 27 Mei & 3 Juni 2018

2

Lelang Lagu di IK semua sektor                

:

tgl 30 Mei & 13 Juni 2018

3

Lelang Makanan                                      

:

tgl 3 Juni 2018

4

Penjualan Babe layak pakaidi area parkir GPIB Karunia Ciputat          

:

tgl 10 Juni 2018

5

Vallet Parkir di GPIB Karunia Ciputat          

:

tgl 10 Juni & 17 Juni 2018

6

Amplop Donatur ke 10 sektor (80 amplop)

:

27 Mei – 17 Juni 2018

Untuk itu, kami mohon dukungan dari seluruh warga jemaat, semua koordinator sektor dan para orang tua anak layan baik berupa doa dan materi demi terlaksananya acara ini.

Terima kasih & Tuhan memberkati.

 

Published in Artikel June 02 2018

MINGGU SETELAH PENTAKOSTA (Minggu-Minggu Sesudah Pentakosta).

Hari Pentakosta yang jatuh pada hari Minggu, mengawali minggu-minggu Pentakosta yang berjumlah 26 Minggu. Minggu Trinitas adalah Minggu I sesudah Pentakosta, dst. Minggu-Minggu ini juga dikenal dengan Minggu Biasa, yang ditandai dengan warna Hijau, warna Pertumbuhan dan Kesuburan. Masa ini juga disebut masa Gereja berjuang.

Ada yang menyatakan bahwa sesudah Minggu Trinitas sudah tidak ada lagi hari raya. Sebenarnya, masih ada yaitu Hari Minggu, di mana melalui setiap hari Minggu, Gereja diingatkan tentang penyertaan Tuhan di dalam perjuangan Gereja. Yesus Kristus, Kepala Gereja, selalu beserta dengan Gereja-Nya (Allah beserta kita). Karena itu, Hari Minggu harus selalu menjadi perayaan besar, dan dirayakan dengan penuh puji-pujian dan syukur.

 

Simbol Hari Minggu sesudah Pentakosta adalah burung Merpati (putih) dengan ranting zaitun diparuhnya, perahu layar di tengah gelombang dan pelangi warna dasar Hijau.

 

Warna dasar                            : Hijau yang berarti warna pertumbuhan dan kesuburan.

Lambang/Logo                          : Burung Merpati dengan ranting zaitun diparuhnya, perahu layar ditengah gelombang dan pelangi.

Warna Burung Merpati             : Putih

Arti                                          : Perahu merupakan simbol dari Gereja.

Ide ini menjadi berarti bagi orang Kristen mula-mula yang mengalami penganiayaan dan pergumulan, ketika mereka mengetahui bahwa akan ada pertolongan dari Tuhan. Hal ini nyata lewat perpaduan antara perahu dan pelangi. Di sini janji Allah tentang pertolongan-Nya itu mendapat penekanan yang kuat. Pelangi melambangkan kesetiaan Allah atas janji-Nya untuk memelihara bumi, khusus Gereja dan orang-orang percaya.

 

Burung merpati dengan ranting zaitun di paruhnya mengungkapkan tentang janji keselamatan dan kehidupan dari Allah (bnd. Kej. 8 : 10, 11) yang akan terus menyertai sampai ke tempat tujuan. Jadi sekalipun Gereja mengalami berbagai ancaman goncangan dan cobaan, Gereja akan tetap hidup di dalam dan oleh janji Allah tersebut.

 

Simbol ini berganti pada Hari Sabtu Malam menjelang Hari Minggu I Advent.

Published in Pembinaan
Rate this item
(0 votes)

K U A S A   D A L A M   P U J I A N

 

         

Yang  Terkasih,

 

 

        Pujian membungkamkan musuh! Pada zaman dahulu kala, Aku tidak memerintahkan prajurit-prajuti yang paling perkasa untuk berperang ke garis depan. Tidak, Aku memerintahkan pemuji untuk maju ke garis depan. Pujian membungkamkan musuh. Pujian membuat musuh mundur. Saat memuji-Ku tanpa malu-malu engkau menciptakan suatu kekuatan yang tidak dapat dihentikan.

 

        Anak-Ku, setiap kali engkau memuji-Ku engkau mengaktifkan kuasa sukacita, dan kuasa itu tidak dapat disangkal. Ada saatnya anak-anak-Ku yang terbaik mengalami kesulitan untuk memahami betapa berkuasanya pujian yang tulus itu. Mereka gagal untuk menyadari bahwa sukacita adalah suatu kekuatan yang harus diperhitungkan.

 

          Jangan biarkan pikiran rohanimu mencari-cari suatu alasan, “Bagaimana sesuatu yang sederhana seperti sukacita dan pujian dapat melepaskan aku?” Hanya ada satu jawaban atas pertanyaan itu – bisa dan terbukti! Bukti apakah yang lebih baik yang engkau perlukan? Aku katakan pujian sudah dan akan melepaskan dirimu! Yang perlu engkau lakukan hanyalah, lakukan saja! Bahkan engkau tidak perlu mempercayainya dahulu. Coba sajalah.

 

         Berikanlah kurban syukur bagi-Ku. Lepaskan kekuatan sukacita dan biarkan hasilnya memberi keuntungan dalam hidupmu pada saat ini. Biarkan sikap pujian sukacita memenuhi hati dan pikiranmu secara berlimpah dan kemudian biarkan memancar keluar dari dirimu.

 

        Sebagai bagian dari latihan pujian ini, Aku ingin engkau tertawa kepada iblis. Tertawalah pada iblis karena engkau berharga di mata-Ku! Ketika dia mencoba membuatmu merasa bodoh karena engkau sedang memuji-Ku, tertawalah padanya! Karena dia tahu semua mengenai kuasa pujian yang tidak dapat disangkal lagi. Setiap kali engkau tunduk pada setan dengan menutup mulutmu dan menolak untuk memuji Aku, engkau memberinya kuasa untuk mengalahkanmu. Ini adalah hal yang serius yang harus dibayar dengan harga yang mahal. Jangan membiarkan ketakutanmu membuat engkau diam dan menutup mulutmu.

 

      Bangkitlah! Ambil posisimu di depan tentara-Ku. Ambil posisimu di garis depan. Tugasmu dalam peperangan ini adalah menjadi pemuji. Seorang pemuji! Pujilah Aku, Allahmu, pelepasmu, yang memiliki langit dan bumi. Aku menginginkan engkau di garis depan tentara-Ku, karena di situlah posisi pemuji. Mereka memimpin pertempuran. Ambillah posisimu sekarang juga.

 

Kasihmu, Tuhan.

 

Disadur dari Buku Surat Cinta Dari Tuhan - Schluter

April 07 2018

K E S E L A M A T A N

 

         Betapa Aku bersuka setiap hari bersekutu denganmu. Betapa Aku menginginkan engkau dapat melihat dirimu seperti Aku melihatmu!

    Sebelum engkau dilahirkan, Aku telah mengenalmu. Aku melihatmu lengkap, utuh dan tidak mengingini apa-apa. Aku memberikanmu segala sesuatu yang engkau perlukan agar hidupmu berhasil. Aku melihat bahwa engkau akan bertemu dengan orang yang dapat dan akan mengajarkanmu dan membimbingmu untuk menjadi anak-Ku. Aku melihat bahwa engkau mendengar Firman. Aku telah mempersiapkan segala sesuatu yang engkau perlukan agar berhasil. Dan, engkau menanggapinya dengan baik. Aku berkenan.

      Betapa sukacitanya surga ketika engkau menjadikan Yesus Tuhan dari hidupmu! Kita bersukacita saat engkau berkata, “Tuhan Yesus, Aku percaya bahwa Engkau adalah Anak Allah”.

    “Aku percaya bahwa Engkau mati dan dibangkitkan dari antara orang mati. Aku mengundangmu, Tuhan Yesus, untuk masuk ke dalam hatiku. Aku bertobat dari segala dosa-dosaku. Aku meletakkan semua masa laluku di bawah kaki-Mu. Aku meletakkan seluruh masa depanku di tangan-Mu. Yesus, penuhilah aku dengan Roh Kudus-Mu. Bapa surgawi, aku adalah anak-Mu. Terima kasih telah menyelamatkanku.”

    Pada saat ini ketika engkau menjadikan Yesus Tuhan dan memintaNya untuk mengatur hidupmu, engkau menjadi ciptaan baru. Manusia batiniahmu menjadi sempurna.

 

     Oh ya, Aku tahu bahwa semua kebiasaan lama, kedaginganmu tidak segera hilang. Tetapi, Nak, Aku ingin engkau mengetahui bahwa pada saat engkau telah menjadi anak-Ku, rohmu telah diperbarui. Dengarlah, sesungguhnya yang lama telah berlalu dan yang baru telah datang.

      

    Sekarang, Nak, sisa perjalanan Kekristenanmu semata-mata hanyalah untuk membawa apa yang ada di dalam dirimu ke permukaan, dan keluar pada dunia. Yaitu membiarkan rohmu yang sudah diperbarui bertumbuh menjadi dewasa dan mengendalikan pikiranmu dan tubuhmu sehingga ketika orang melihatmu mereka melihat diri-Ku.

          

   Orang akan tahu bahwa engkau berbeda, karena sekarang engkau telah lahir baru. Aku berdiam di dalam dirimu dan engkau berdiam dalam diri-Ku. Aku sedang berkarya di dalam dirimu dan melalui dirimu.

    Suatu hal yang menyenangkan hati-Ku bahwa sekarang engkau berada dalam keluarga-Ku. Surga tidak akan sama seperti sekarang tanpa dirimu!

March 03 2018
Rate this item
(0 votes)

 

A S A L – U S U L   G E R E J A   B E R B A K T I   P A D A   H A R I   M I N G G U

 

 

         Apa perasaan Anda jika membaca titah keempat dari Dasa Titah? Ada yang merasa janggal. Karena di situ dikatakan, “Kuduskanlah hari Sabat”, padahal kita berbakti pada hari Minggu.

           Memang benar, hari kebaktian yang ditetapkan Dasa Titah adalah hari Sabat, yaitu hari ketujuh, atau yang sekarang ini disebut hari Sabtu. Gereja yang mula-mula pun berbakti pada hari Sabtu, meneruskan kelaziman itu. Tetapi kemudian Gereja mengalihkan kebaktiannya dari hari Sabtu ke hari Minggu. Kapan tepatnya perubahan itu terjadi, tidaklah kita ketahui. Namun agaknya tidak terlalu lama setelah kebangkitan Yesus. Di dalam Kisah Para Rasul 20:7 kita membaca “Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti…” Dan di 1 Korintus 16:2 Paulus menulis; “Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu…”

           Perubahan kebaktian dari hari Sabtu ke hari Minggu merupakan suatu keputusan yang drastis, mengingat bahwa Gereja pada waktu itu kebanyakan terdiri dari orang-orang Yahudi, yang ingin memegang terus tradisi Sabat. Tentunya ada alasan yang sangat kuat untuk mengubah hari kebaktian itu. Adapun dasarnya adalah karena mereka memandang kebangkitan Yesus sebagai peristiwa yang besar, sehingga mereka ingin merayakannya setiap Minggu. Karena Yesus dibangkitkan pada hari Minggu, mereka pun bersedia mengalihkan hari kebaktian menjadi hari Minggu.

           Pada akhir abad pertama, Gereja pun lazim menyebut “Hari Tuhan” sebagai sebutan untuk hari Minggu. Sebutan itu kita temui di dalam Wahyu 1:10. Kitab Wahyu itu ditulis di Asia Kecil, di mana ada kebiasaan pemujaan kepada kaisar, dan sebulan sekali ada “Hari Kaisar” untuk menghormati naiknya kaisar ke takhta. Lalu Gereja memakai sebutan “Hari Tuhan” untuk menyatakan penghormatan kepada Kristus yang naik atau bangkit dari kematian.

           Sebutan “Hari Minggu” dalam bahasa kita sebenarnya juga berarti “Hari Tuhan”, sebab kata “Minggu” berasal dari bahasa Portugis Dominggo yang berarti Hari Tuhan.

          Dalam kebudayaan Yunani, pada zaman itu hari Minggu pun sudah menjadi perayaan untuk menghormati dewa matahari. Mereka menyebut hari Minggu sebagai “Hari Matahari”. Tetapi Gereja memberi arti yang baru dengan mengatakan bahwa hari itu adalah hari penghormatan kepada “Matahari Kebenaran” (Mal. 4:2), yaitu Yesus Kristus. Dari sebutan itulah kini kita mengenal nama Sunday, Zondag, atau Sonntag.

 

           Apakah ketika itu hari Minggu sudah merupakan hari libur? Di banyak daerah – yang pasti di antara orang Yahudi – belum. Kalau begitu, bagaimana mereka bisa berbakti?

 

           Hal itu bisa terjadi karena hari dalam perhitungan Yahudi bukanlah seperti perhitungan kita, yaitu dari pukul dua belas malam hingga pukul dua belas malam, melainkan dari matahari terbenam hingga ke matahari terbenam keesokan harinya. Jadi rupanya kebaktian pada waktu itu diadakan pada hari Sabtu malam menurut perhitungan kita, yang bagi mereka sudah hari Minggu.

 

           Tetapi karena Gereja Purba terus merayakan hari Minggu sebagai hari kebaktian, lambat-laun kebiasaan itu makin diterima oleh masyarakat. Pada tahun 321, Kaisar Constantinus dengan undang-undang menetapkan hari Minggu sebagai hari libur di seluruh wilayah kekaisarannya.

 

           Dari ketetapan itu – yang kemudian menjadi universal - kini dunia mengenal hari Minggu sebagai hari libur. Tetapi bagi Gereja, asal-usul menjadikan hari Minggu sebagai hari kebaktian adalah karena hari itu adalah kebangkitan Tuhan, sehingga hari Minggu adalah Hari Tuhan, yaitu Hari milik Tuhan dan Hari untuk Tuhan.

 

 

Disadur dari Buku Selamat Paskah – Andar Ismail

facebook-icon-web

Jadwal Ibadah Minggu

  •    Gereja Pusat I

    :   06:30 WIB

       Gereja Pusat II

    :   09:30 WIB

       Gereja Pusat III

    :   18:00 WIB

     

       IHM Nuansa Muda

     

    :   18:00 WIB

       Minggu ke 2 dan ke 4

     

       Setiap bulan.

     

     

       Pospel Sepolwan I

     

    :   07:00 WIB

       Pospel Sepolwan II

    :   17:00 WIB

     

       Pospel Pamulang I

     
     
    :   09:00 WIB

       Pospel Pamulang II

    :   17:00 WIB

     

       Pospel Hosana

     
     
    :   06:30 WIB

       Pelkat PA

     
    :   06:30 WIB
        09:30 WIB

       Pelkat PT

    :   08:00 WIB

     

     

    image6

     

    SABDA BINA UMAT